SUARA PONOROGO - Di tengah hutan yang menjadi milik Perhutani, terdapat sebuah perkampungan terpencil yang menjadi tempat tinggal bagi warga Ponorogo. Kampung ini masuk Dusun Dukuh, Desa Sidoharjo, Kecamatan Pulung.
Dalam kondisi bangunan yang seadanya, Marni, salah satu warga di sana, memilih untuk hidup dalam bangunan sederhana tanpa aliran listrik yang layak akibat dari keterbatasan ekonomi yang dihadapinya.
Marni, seorang ibu rumah tangga, menjalani hari-harinya dengan penerangan yang terbatas.
Untuk mendapatkan aliran listrik, dia memasang panel surya dengan kapasitas yang sangat kecil, cukup hanya untuk dua lampu demi menerangi ruang keluarga dan kamar yang ditempati oleh dirinya, suami, dan anak-anaknya.
Namun, lampu yang dipasang tersebut bahkan tidak mampu bertahan lebih dari 6 jam setiap malam.
"Listrik tidak bisa kami manfaatkan secara normal karena keterbatasan finansial. Oleh karena itu, kami memanfaatkan tenaga surya dengan daya yang rendah, yang hanya mampu menyala selama kurang dari 5 jam. Jika kami menyalaikannya tengah malam, lampu-lampu tersebut sudah mati sebelum pagi tiba," ungkap Marni dengan nada penuh keterbatasan.
Marni merasa terpaksa menggunakan tenaga surya karena tidak mampu mengatasi biaya yang mahal untuk mendapatkan aliran listrik yang berasal dari jaringan PLN.
Suaminya hanya bekerja sebagai buruh di sebuah bengkel di kota kecamatan Ponorogo. Marni menuturkan,
"Kami sudah tinggal di sini selama 4 tahun, asli dari daerah Slahung. Kami memilih untuk tinggal di sini karena tidak memiliki lahan sendiri, dan kami mendapatkan izin dari Perhutani untuk tinggal di sini. Suami saya bekerja di bengkel, meskipun hanya sekali setahun dia membantu Perhutani dalam memanen kayu putih."
Baca Juga: Intip Yuk Tiga Keindahan Pantai di Kebumen, Jaraknya Berdekatan Cuma 1,5 Kilometer
Ternyata, kondisi Marni yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan aliran listrik bukanlah satu-satunya.
Ketua RT 04 Lingkungan Magersari, Nurhadi, menjelaskan bahwa listrik dari PLN belum sampai ke perkampungan tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan penerangan dan kebutuhan lainnya yang memerlukan listrik, warga dengan ikhlas membawa aliran listrik dari tepi jalan raya Ponorogo – Pulung.
Proses ini memerlukan pemasangan kabel secara mandiri dengan panjang mencapai 1,5 kilometer.
Nurhadi menjelaskan, "Di dekat pabrik kayu putih, terdapat dua speedometer listrik. Warga lingkungan Magersari menggunakan sumber listrik tersebut untuk menerangi lingkungan kami. Kami bekerja sama dalam membeli kabel sepanjang 1,5 kilometer agar listrik bisa hadir di sini."
Meski demikian, distribusi listrik dari tepi jalan raya Ponorogo – Pulung belum merata untuk 17 rumah tangga yang mendiami lingkungan Magersari.
Beberapa rumah warga masih mengandalkan lampu tenaga surya untuk penerangan di malam hari.
Berita Terkait
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- Misteri Lenyapnya Bocah 4 Tahun di Tulung Madiun: Hanya Sekedip Mata Saat Ibu Mencuci
Pilihan
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
-
Ketua Ombudsman RI Hery Susanto Jadi Tersangka Kejagung, Tangan Diborgol
-
Bukan Hanya soal BBM, Kebijakan WFH Mengancam Napas Bisnis Kecil di Magelang
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
Terkini
-
Reshuffle Kabinet Makin Dekat? Sekjen Demokrat Tegaskan Nasib Menteri di Tangan Prabowo
-
Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Rekor 2-2-3 Jadi Alarm, Garuda Muda Wajib Waspada
-
Resonansi Sunyi di Jombang: Sebuah Dialektika Tentang Hidup dan Rasa Cukup
-
Promo Spesial BRI di Vilo Gelato, Ada Cashback 35 Persen Setiap Hari
-
5 Fakta CFD Ampera Palembang, Ramai Diserbu Warga tapi Picu Macet, Ini yang Terjadi
-
Isu Reshuffle Kabinet Mencuat, Bahlil Bakal Jadi Menko? Begini Respons Sekjen Golkar
-
Kronologi Kasus Korupsi Nikel, Ketua Ombudsman Hery Susanto Diduga Terima Suap Rp1,5 Miliar
-
Event Offroad Legendaris Camel Trophy Hadir Kembali di Kalimantan Tribute
-
S&P Sorot Rasio Utang RI, Purbaya Klaim Belum di Level Berbahaya
-
Laba Emiten Hary Tanoe Terbang 140 Persen