Poptren.suara.com - Arogansi kembali ditunjukkan sosok anak pejabat, kali ini dilakukan oleh Mario Dandy Satrio yang merupakan anak dari Direktorat Jenderal pajak (DJP). Mario melakukan penganiayan kepada seorang remaja di bawah umur.
Netizen menilai, tindakan Mario adalah bentuk arogansi karena sosoknya yang merupakan anak pejabat tinggi. Lain itu, faktor jumawa karena 'merasa kaya' juga menjadi sorotan netizen.
Lantas, seperti apa kata ulama terkait perilaku arogansi?
Mengutip penjelasan Ustaz Buya Yahya dalam channel Youtube Al-bahjah TV, yang dikutip Poptren pada Jumat (24/2/2023), menyebutkan bahwa orang yang mudah tersinggung adalah orang yang memiliki prasangka buruk di hatinya.
"Kenapa Anda mudah tersinggung, sensitif gampang marah tersinggung mudah tersinggung itu adalah bersarang di hatinya prasangka buruk kalau diri mudah tersinggung sebenarnya dirimu adalah gudang prasangka buruk gudang kebusukan."
Buya juga menyarankan jika ada orang yang membuat kesalahan, tentu harus disikapi dengan bijaksana. pendek kata berbicara dengan kepala dingin.
Koreksi diri menjadi kunci dari penjelasan Buya Yahya, bahwa ketika ada dua orang yang bersitegang, masing-masing harus melakukan instrispeksi diri. Apakah orang itu tersinggung akibat perbuatan kita yang kelewat batas, atau orang yang melakukan kesalahan itu bisa saja tidak punya niat untuk menyinggung.
Tentunya kesombongan dan arogansi tidak mendapatkan toleransi dari ajaran agama manapun, seperti yang dikatakan Thubten Chodron, seorang biarawati Buddha Tibet Amerika, penulis, guru, dan pendiri serta kepala biara Sravasti Abbey.
"Kesombongan memiliki banyak rasa," kata Thubten Chodron dalam laman Fearless Culture.
Baca Juga: Usai Dicopot Sri Mulyani Gegara Aksi Sadis Anaknya, Rafael Alun Segera Dipanggil Komisi XI DPR
Dalam salah satu ajarannya, umat Buddha Amerika ini menjelaskan berbagai rasa yang ditimbulkan oleh kesombongan dan arogansi.
Di antaranya adalah kebanggaan di atas orang lain. Jenis kesombongan dan arogansi ini adalah yang paling umum kita temui. Umumnya perilaku ini kerap membandingkan dalam hal pendidikan, status sosial, kesehatan, kecantikan, atribut fisik, atau aspek-aspek lainnya yang merasa di atas orang lain.
Para pelaku lazim membandingkan kekuatannya dengan kelemahan orang lain, dan kerap memandang rendah mereka.
Hal lainnya adalah kebanggaan orang atas dirinya sendiri yang membutuhkan pengakuan. Biasanya orang seperti ini akan menganggap dirinya sempurna atau tak 'tersentuh', seperti ketika melanggar aturan atau melakukan sesuatu dianggap keren.
Ini adalah perasaan superioritas ketika seseorang menipu, melakukan kesalahan, atau bahkan menjebak orang atas kesalahan yang mereka lakukan. Umumnya, para pelaku berlindung dari status sosial--yang dimilikinya/keluarganya--hingga merasa superioritas itu akan menjadi garansi keamanannya dari jeratan hukum.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Wardah Apa yang Cocok untuk Usia 40 Tahun? Ini 5 Rekomendasi Terbaik agar Flawless dan Fresh
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- Perbedaan Eau De Parfum dan Eau De Toilette, Mana yang Sesuai Kebutuhanmu?
Pilihan
-
Laporkan Hotman Paris ke Polda Metro, PWI Ragukan Ketulusan Permohonan Maaf Sang Pengacara
-
Mendukung Working Mom Mengelola Keuangan Keluarga Lebih Efisien dengan AstraPay
-
Usai Nobar Final Piala Dunia, Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini Kena OTT KPK
-
Menteri PU Dody Hanggodo Bakal Dicopot Agustus? 'Prabowo Tak Suka Menteri yang Bikin Gaduh'
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
Terkini
-
FIFA Buka Voting Tim Terbaik Piala Dunia 2026: Argentina Sumbang 5 Pemain, Spanyol?
-
Dari Pameran Kudatuli, Megawati Titip Pesan untuk Generasi Muda Indonesia
-
Kasus Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn Wijaya, Polisi Telusuri Perjalanan hingga Kuala Lumpur
-
Bukan Sekedar Catatan Masa Lalu, Peristiwa Kudatuli Merupakan Simbol Perjuangan Lawan Ketidakadilan
-
Usut Aliran Rp 91 Miliar Suap Bea Cukai, KPK Tetapkan Tersangka Baru
-
Korupsi Disebut Kejahatan HAM, Mengapa Hak Korban Belum Jadi Perhatian?
-
Aksesori Estetik Makin Digemari, Ini Tempat Belanja Lengkap Incaran Reseller hingga Jastiper
-
Salah Setting Aplikasi Navigasi, Pemotor RX-King Nekat Masuk Tol Jagorawi
-
Anggaran Jasa Belanja Tenaga Ahli Banten Tembus Rp55,47 Miliar, Kepala BPKAD Mengaku Kaget
-
Jembatan di Serang Mulai Dibangun Andra Soni Usai 25 Tahun Tak Tersentuh Perbaikan