/
Senin, 02 Mei 2022 | 11:05 WIB
Suara.com

SUARAPURWOKERTO. ID-Pemerintah menetapkan 1 Syawal pada Senin (2/5/2022). Umat Islam menyambut hari kemenangan itu dengan suka cita. 


Terlebih umat muslim di Indonesia sempat dua tahun tidak bisa leluasa merayakan Idul Fitri karena pandemi Covid 19. 

Ada tradisi yang mengiringi hari kemenangan di Indonesia. Mulai menyalakan  kembang api atau petasan di malam Idul Fitri,  memborong pakaian baru untuk dipakai saat hari raya, maupun bentuk euforia lain dalam menyambut hari kemenangan. 


Belum tentu orang yang ikut euforia di momentum lebaran itu berpuasa di Bulan Ramadan, atau melaksanakannya dengan sungguh-sungguh. 


Tentu saja. Menurut almarhum KH. Zainuddin MZ dalam sebuah ceramahnya semasa hidup, lebaran adalah tradisi dimana siapaun boleh mengikutinya. 


Tidak ada larangan masyarakat untuk berlebaran, lepas apakah dia berpuasa Ramadan atau tidak. 


"Lebaran adalah tradisi, semua orang boleh ikut. Mau puasa atau tidak, boleh. Gak dilarang sama petugas keamanan, " katanya


Karena bagi dia, lebaran berbeda dengan Idul Fitri. Jika lebaran adalah tradisi, Idul Fitri lebih dalam maknanya. Bukan berarti mereka yang mengikuti tradisi lebaran  merayakan Idul Fitri. 


Idul Fitri, menurutnya, bukan ditunjukkan  dengan kemampuan membeli pakaian baru. 
Idul Fitri terejawantahkan dengan ketaatan yang meningkat. 


Ini setelah umat Islam digojlok (ditempa) selama sebulan untuk menjalani ibadah puasa Ramadan dengan menahan nafsu atau perbuatan yang menyimpang dari ajaran Islam. 


"Bukan ketika Ramadan rajin ke masjid, selesai Ramadan selesai juga ke masjidnya, " katanya

Tag

Load More