Rumah Lengger tampil pula membawakan gubahan pertunjukan mereka di pendhapa. Tampil lima penari lengger gemulai yang diiringi oleh kendangan rancak Sukendar. Seluruh pertunjukan diadakan di pendhapa sebab cuaca hujan hari itu.
Hari Ketiga
Di hari ketiga dan penutup, acara difokuskan pada proyeksi lengger di masa depan dan interpretasi lengger oleh generasi muda. Di hari ketiga ini, pengunjung diajak membayangkan rute seperti apa yang akan dilalui oleh para pelaku lengger di zaman yang bergerak semakin modern. Serta kemungkinan seperti apa yang juga tumbuh darinya.
1. Seminar "Membingkai Masa Depan Lengger"
Pemateri Budiman Sudjatmiko, Politikus, akademisi dan Rene Lysloff, Peneliti tradisi lengger. Acara digelar di Pendhapa Si Panji, membahas lengger di zaman modern. Rene Lysloff, yang sudah mencatat perjalanan lengger di pelosok Banyumas sejak tahun 1980-an menyatakan pentingnya pengolahan arsip lengger, sehingga publik tahu perkembangan sejarah dan apa saja yang bisa dilakukan ke depan.
Sementara Budiman Sudjatmiko berbicara soal lengger sebagai identitas Banyumas merupakan bagian dari identitas kultural Indonesia yang beragam. Untuk mempunyai karakter, sebuah bangsa harus mencari akar dan tradisinya, dan masyarakat Banyumas harus bangga punya tradisi lengger.
2. Pemutaran film "Amongster: Voyage of Lengger" arahan Zen Al Ansory
Film hybrid gabungan fiksi, dokumenter, serta dokumentasi karya ini diputar di ruang seminar. Film ini adalah bagian dari karya teranyar Otniel Tasman yang berjudul sama. Menghadirkan cerita autobiografi Otniel sebagai penari lengger, yang kemudian ia dekonstruksi di panggung dengan memadukan gerakan lengger dengan tampilan minimalis dan musik noise. Diskusi dengan sutradara lebih banyak membahas bagaimana relasi film dengan karya di atas panggung.
3. Pertunjukan Seblaka Sesutane & Otniel Dance Community (ODC)
Pertunjukan hari terakhir berlangsung meriah dan semarak. Seblaka Sesutane membuka pertunjukan dengan tarian menggoda lima penari lengger.
“The Cosmos of Leng” adalah judul karya mereka. Format pentas lengger klasik diotak-atik menjadi lebih interaktif dan ringan sehingga penonton hanyut dalam ritme yang mereka bawa.
Setelah maghrib, “Lengger Laut” dari ODC tampil meriah. Karya yang berangkat dari interpretasi Otniel Tasman terhadap hidup Dariah yang bagai ombak di lautan ini ditampilkan dalam dramaturgi apik. Melibatkan empat penari laki-laki yang disepanjang pertunjukan berinteraksi dengan Otniel dan kemudian bertransformasi jadi lengger perempuan.
Baca Juga: Suporter Tim Futsal Antarpelajar di SMK Telkom Purwokerto Bentrok, Polisi Amankan 41 Orang Panitia
Penonton menyaksikan tranformasi gender yang cair, interaksi yang seru, serta pemaknaan spiritual yang dalam dari lengger. Pentas ini juga jadi pentas paling ramai sepanjang gelaran JLF 2022.
Pada hari ketiga, hadir pula Sutanto Mendut, budayawan sekaligus inisiator komunitas Lima Gunung yang tampil membawakan pidato kebudayaan diiringi musik dan tarian lengger. Sutanto Mendut bicara soal sejarah lengger dan desa.
Ia menjelaskan bahwa selama ini pembacaan masyarakat kota soal desa sangat tipikal, dan tidak betul-betul mengerti konsep dan makna desa yang sesungguhnya. Sementara lengger adalah salah satu yang membuat desa itu sebuah desa yang otentik.
“Pameran kami bagi jadi dua, Dekade Lengger yang fokus pada arsip video lengger tiga periode, dan Pokok Tokoh Lengger yang membahas aktor-aktor di balik perkembangan lengger di Banyumas. Seru pamerannya, kami mendapat banyak respon mengejutkan dari pengunjung,” ujar Abdul Aziz, kurator JLF 2022.
Selama tiga hari, pameran arsip diselenggarakan di dua tempat. Ruang video dan kandang jaran. Beberapa arsip, dalam bentuk foto, audio, juga video ditampilkan. Selama tiga hari itu pula, ruang pamer juga didatangi oleh pengunjung. Mereka juga bisa singgah ke Rumah Lengger, untuk cari tahu lebih dalam soal dokumentasi serta catatan mengenai lengger Banyumas. Di ruang arsip digital Dekade Lengger, penonton bisa menjajal teknologi VR yang akan membawa mereka ke pesta lengger tahun 1980-an.
Selama tiga hari pula, semarak Peken Dusun Lengger dimeriahkan oleh 15 tenant UMKM yang menjajakan aneka barang: dari makanan, dolanan anak, craft, minuman, merchandise, hingga tembakau lintingan.
Acara JLF 2022 diproyeksikan akan jadi agenda tahunan di Banyumas. JLF optimis bisa menghidupkan kembali semarak tradisi lengger yang memang jadi representasi paling tepat identitas kota Banyumas ini. Sampai jumpa tahun depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Teheran Tutup Wilayah Udara Selama Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
-
Scaloni Waspadai Pertahanan Tanjung Verde Jelang Duel Babak 32 Besar
-
DFB Dekati Jurgen Klopp Usai Nagelsmann Tinggalkan Timnas Jerman
-
Timnas Indonesia Bidik Gelar AFF Pertama, Sumardji hingga Rayhan Hannan Kompak Tebar Optimisme
-
Pakar UGM: Wajar Publik Curiga Pengangkatan Komisaris BUMN karena Balas Jasa Politik
-
Kronologi Pertemuan Menhut dan Bupati Kuansing, Dari Amplop Sampai Alih Fungsi Hutan
-
Lebih Berat dari Tuntutan Jaksa, Pembunuh Satu Keluarga di Indramayu Divonis Seumur Hidup
-
Ada Risiko Downgrade IHSG Meski Tekanan Isu MSCI Mulai Reda
-
Pertamina Tepat Belum Turunkan Harga Pertamax
-
Darurat Judi Online di Kabupaten Bogor, PCNU Deklarasikan 'Jihad Sosial' Bareng Bupati