PURWOKERTO.SUARA.COM, JAKARTA-Ketua Harian Kompolnas Irjen Pol (Purn) Benny Mamoto mengaku terjebak pada skenario palsu peristiwa penembakan Brigadir Yoshua (J) di rumah Irjen Pol Ferdy Sambo.
Kompolnas ikut dihujat karena sempat memberikan informasi atau kronologi kejadian berdasarkan versi Kepolisian. Padahal belakangan, narasi itu ternyata salah alias skenario palsu untuk menutupi fakta sebenarnya.
Benny mengaku tidak bermaksud menyampaikan informasi tak benar ke masyarakat. Ia hanya mengutip kronologi peristiwa itu dari sumber resmi Kepolisian.
“Saya sampaikan dari sumber resmi yang ternyata berbohong. Saya jadi korban,”katanya
Benny pun mengaku menjadi korban skenario palsu yang dibuat polisi saat penyidikan awal kasus itu. Ia pun mengaku sangat marah telah dibohongi. Kemarahannya lebih-lebih kepada orang yang menyusun skenario ini.
Karena gara-gara itu ia jadi ikut kena imbasnya.
“Banyak korban yang ditimbulkan karena peristiwa ini,”katanya
Ia mengatakan, semua pihak telah menjadi korban kebohongan ini, termasuk Kompolnas. Terlebih, Kompolnas dalam melakukan pengawasan dan memeroleh fakta tidak diberi wewenang untuk melakukan investigasi layaknya Komnas HAM.
Karena itu, fakta yang diterima pihaknya hanya berdasarkan klarifikasi dari pihak terkait.
Baca Juga: Fakta Dibalik Permintaan Fee 15 T Deolipa
Seperti diketahui, fakta yang disampaikan Kepolisian berubah 180 derajat setelah dilakukan penyelidikan lebih lanjut. Mulanya dikatakan sempat terjadi baku tembak antara Brigadir J dengan Bharada E yang diawali dugaan pelecehan seksual Brigadir J ke istri Ferdy Sambo.
Belakangan, kronologi yang disampaikan polisi kemudian dikutip Kompolnas itu terbantahkan menyusul ditemukannya fakta baru. Para penyidik dan polisi yang ikut mengamankan TKP diperiksa hingga dinonaktifkan dari jabatannya karena diduga melakukan pelanggaran etik.
Fakta yang terbongkar kemudian, Brigadir J murni menjadi korban pembunuhan berencana, dan tidak terjadi aksi baku tembak di rumah Sambo.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
Prabowo Pastikan Indonesia Beri Kejutan Lewat Industri Kendaraan Listrik
-
No Viral No Justice: Amsal Sitepu Bebas setelah 'Sidang' di Medsos
-
H&M Umumkan 160 Toko Bakal Gulung Tikar di 2026
-
Ketimbang Tambah Utang Luar Negeri, Ekonom UMY Minta Prabowo Pangkas Gaji Pejabat
-
5 HP Oppo Chip Snapdragon Harga Rp1 Jutaan, Spek Kencang Tak Cepat Panas
-
Geger! Penyamaran Rey Terbongkar di Malam Pertama, Intan Laporkan Kasus Nikah Sesama Jenis di Malang
-
Review Film Don't Follow Me: Slow Burn Horor dengan Plot Twist yang Kuat!
-
Kunci Jawaban Soal SNBT: Literasi Bahasa Inggris
-
Prabowo Targetkan Produksi Massal Mobil Sedan Listrik Buatan Indonesia pada 2028
-
Ribut Main Game Online, Pelajar di Makassar Tewas Ditikam