PURWOKERTO.SUARA.COM, Entah apa yang ada di pikiran dan perasaan seorang Hakim Ketua saat membacakan vonis untuk para anggota Resimen Tjakrabirawa (kini Paspampres), tahun 1967 silam.
Dalam sebuah video dokumentasi, ia terlihat menangis tersedu saat membacakan vonis untuk para pengawal Presiden Soekarno yang dituduh terlibat dalam gerakan G-30 SPKI.
Tidak tanggung-tanggung, hakim menjatuhkan hukuman mati untuk Kopda Hargijono. Sementara temannya sesama prajurit, Idris dan Sulemi divonis penjara seumur hidup.
Mereka adalah kelompok prajurit yang ditugaskan atau diperintah untuk menjemput Menteri Pertahanan Jenderal Abdul Haris Nasution untuk dihadapkan kepada Presiden Sukarno.
Pengakuan Sulemi, sebelumnya mereka diberitahu akan ada upaya kudeta terhadap Presiden Soekarno oleh sejumlah jenderal. Hingga para prajurit rendahan itu menurut saat diperintah untuk menjemput para jenderal agar menghadap Soekarno.
Saat dijemput, Jenderal Nasution berhasil meloloskan diri. Namun nahas nasib Ade Irma, puterinya yang meninggal beberapa hari kemudian diduga terkena tembakan.
Dalam persidangan, terekam momen ganjil dimana ketua hakim menangis terisak saat membacakan vonis.
Reaksi hakim ini tentunya tak biasa. Umumnya hakim biasa saja saat menjatuhkan vonis hukuman ke pelaku kejahatan.
Sulemi yang kini tinggal di Purbalingga membenarkan momen hakim menangis terisak saat pembacaan vonis terhadap anggota Cakrabirawa. Ia pun heran dengan reaksi emosi yang tak biasa itu.
Baca Juga: Literasi Digital di Banyumas Ajak Warga Waspada Terhadap Pinjaman Online Ilegal
Emosi hakim itu melahirkan tanda tanya bagi Sulemi, ada apa?
Apakah hakim sudah adil dan objektif dalam mengambil keputusan. Apakah hukuman yang dijatuhkan setimpal dengan perbuatan yang dilakukan para terdakwa.
“Itu hakim benar-benar gembor (tersedu) nangisnya,” tutur Sulemi.
Sulemi, lebih beruntung karena masih dibiarkan hidup meski harus menjalani sisa umurnya di penjara.
Ia yang dipenjara saat muda akhirnya dibebaskan setelah usianya menua. Namun sampai saat ini, meski telah menghirup udara bebas, Sulemi masih memertahankan prinsipnya. Ia enggan dituduh komunis dan dalang di balik peristiwa G-30 SPKI.
Ia bersikukuh, yang dilakukannya bersama anggota lain pada malam tragedi 65 di kediaman Jenderal Nasution itu, semata-mata untuk menjalankan tugas. Yakni pengamanan terhadap keselamatan Presiden Soekarno.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
-
Negara Tetangga RI Mulai Alami Krisis BBM
-
Danantara Tunjuk Teman Seangkatan Menko AHY di SMA Taruna Nusantara jadi Bos PT Pos
-
Kronologi Kecelakaan Bus vs Minibus di Pekanbaru, Tewaskan Bocah Perempuan
Terkini
-
AS, Meksiko, Kanada Rilis Jersey Anyar Piala Dunia 2026: Adu Keren Nike vs Adidas
-
Normalisasi Sungai Terdampak Bencana Jadi Prioritas Satgas PRR
-
6 Mobil Toyota Termurah Tahun Muda 2026, Favorit Keluarga!
-
Cara Cerdas Menyetok Ulang Kebutuhan Rumah Pasca Lebaran
-
Sembari Menunggu Data Rampung, Pemerintah Percepat Penyaluran Bantuan Pemulihan Sumatera
-
Pemain Selandia Baru Tegaskan Dukungan untuk Iran: Mereka Layak di Piala Dunia 2026
-
Timnas Indonesia Bakal 'Dihukum' Jika Gagal Antisipasi Senjata Saint Kitts and Nevis Ini
-
Profil Bule Australia yang Disangka Luke Vickery di Latihan Timnas Indonesia, Siapa Dia?
-
Menabung Bisa Bikin Kaya? Intip Tips di Buku Good With Money
-
Namanya Dicatut dalam Isu Sensitif, Menteri HAM Pigai Pertimbangkan Tempuh Jalur Hukum