PURWOKERTO.SUARA.COM, BANJARNEGARA- Januari 2006 silam, bencana besar terjadi di Kabupaten Banjarnegara. Gunung Pawinihan yang biasanya diam tiba-tiba bergemuruh.
Di bawah gunung itu terdapat sebuah perkampungan Dusun Gunung Raja Desa Sijeruk Kecamatan Banjarmangu.
Senin sekitar Subuh, sebelum warga beraktivitas, bahkan sebagai masih terlelap, hari masih agak gelap, bukit di atas kampung warga runtuh.
Warga tak siap dengan kejadian yang mendadak itu. Mereka tak punya cukup waktu untuk menyelamatkan diri.
Singkat cerita, longsor besar itu langsung meluluhlantakkan kampung. Rumah-rumah warga tertimbun, berikut jiwa-jiwa di dalamnya. Harta benda dan nyawa banyak terkubur.
Jeritan warga yang selamat begitu mengiris. Seketika berubah jadi lautan tangis. Banyak nyawa meregang. Harta benda sudah pasti hilang.
Mereka yang selamat berusaha mencari keluarga yang hilang. Barangkali masih ada suara atau rintihan di balik timbunan dan reruntuhan. Di situ lahir harapan, ada jiwa yang masih bisa diselamatkan.
Namun setelah gemuruh longsor yang ada justru senyap. Banyak warga yang harus mengikhlaskan anggota keluarganya tinggal jasad. Ada yang bersedih karena anggota keluarga jadi korban, namun jasad tak ditemukan.
Seratusan warga tewas atau hilang akibat insiden yang menghebohkan jagat nasional saat itu.
Baca Juga: Festival Tembakau Kebumen, Memutar Ekonomi di Desa
17 tahun berlalu, saat ini memori buruk itu masih tersimpan di benak keluarga dan kerabat korban.
Meski kehidupan di tempat itu sudah kembali normal. Kampung yang tertimbun longsor itu saat ini sudah nyaris tak terlihat bekasnya. Lahan yang mulanya adalah perumahan padat penduduk, saat ini sudah beralih fungsi.
Tanah berdarah itu saat ini berubah menjadi lahan pertanian atau perkebunan. Tanaman salak mendominasi di lahan tersebut.
Penduduk yang masih tersisa atau korban selamat telah direlokasi pemerintah. Mereka meninggalkan tempat tinggal yang sudah rata dengan tanah.
Mereka yang dulu belia kini sudah dewasa atau berumah tangga. Mereka yang dulu muda, saat ini sudah menua.
Mereka saat ini menempati hunian tetap yang dibangun pemerintah di dusun yang sama, namun lebih aman dari potensi pergerakan tanah.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan