- Gencatan senjata AS dan Iran runtuh pada 4 Mei 2026 akibat perebutan kendali di Selat Hormuz.
- AS meluncurkan operasi militer Project Freedom yang memicu serangan balasan Iran terhadap fasilitas energi UEA.
- Eskalasi konflik menyebabkan lonjakan harga minyak global serta terhentinya pengiriman kapal melalui jalur strategis tersebut.
Suara.com - Gencatan senjata yang rapuh antara Amerika Serikat dan Iran praktis runtuh pada Senin (4/5/2026), setelah kedua negara terlibat dalam rentetan serangan baru di kawasan Teluk.
Ketegangan ini dipicu oleh perebutan kendali atas Selat Hormuz, jalur arteri energi dunia yang kini terjepit di antara dua blokade maritim yang saling berlawanan.
Situasi memanas setelah Presiden AS Donald Trump meluncurkan operasi militer bertajuk "Project Freedom". Misi ini bertujuan untuk mengawal kapal-kapal tanker dan kargo yang terjebak di selat tersebut sejak perang besar pecah pada Februari lalu.
Namun, langkah ini justru memicu balasan keras dari Teheran yang mengeklaim kedaulatan penuh atas wilayah perairan tersebut.
Eskalasi di Laut dan Darat
Sepanjang Senin, situasi di lapangan dilaporkan sangat kacau dengan pernyataan yang saling bertentangan dari kedua belah pihak:
- Konfrontasi Maritim: Militer AS menyatakan telah menghancurkan enam kapal militer kecil milik Iran. Sebaliknya, Iran merilis peta perluasan wilayah kendali lautnya yang kini mencakup sebagian besar garis pantai Uni Emirat Arab (UEA).
- Serangan Fasilitas Energi: Rudal Iran dilaporkan menghantam pelabuhan minyak Fujairah di UEA—salah satu titik ekspor krusial di luar selat—yang memicu kebakaran hebat. UEA merespons dengan memberlakukan sekolah daring (PJJ) bagi siswa demi alasan keamanan.
- Kapal Dagang dalam Bahaya: Kapal tanker HMM Namu milik Korea Selatan melaporkan ledakan di ruang mesin, sementara perusahaan ADNOC (UEA) mengonfirmasi satu tankernya dihantam drone Iran.
Meskipun Teheran membantah adanya kapal yang berhasil lolos, perusahaan pelayaran raksasa Maersk mengonfirmasi bahwa kapal berbendera AS, Alliance Fairfax, berhasil keluar dari Teluk dengan pengawalan ketat kapal perusak AS.
"Project Freedom" di Tengah Kontroversi Politik
Donald Trump tuai kontroversi, penggunaan kekuatan militer AS dilakukan hanya dua hari setelah batas waktu legal (deadline) bagi Presiden untuk mendapatkan izin Kongres terlampaui.
Baca Juga: Ancaman Keras Parlemen Iran ke Donald Trump, Intervensi Selat Hormuz Pelanggaran Gencatan Senjata
Trump mengeklaim status perang telah "berakhir" sehingga tenggat waktu tersebut tidak berlaku lagi, sebuah pernyataan yang ditentang keras oleh sejumlah anggota parlemen AS.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengecam keras operasi ini melalui media sosialnya. "Project Freedom adalah Project Deadlock (Proyek Kebuntuan)," tulisnya, dikutip dari Reuters.
Ia menegaskan bahwa tidak ada solusi militer untuk krisis ini dan memperingatkan AS agar tidak terjebak dalam "prahara" yang diciptakan oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan perdamaian.
Pasar global merespons cepat gejolak ini. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 5% dalam perdagangan yang sangat volatil. Ketidakpastian di Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi 20% pasokan minyak dunia, membuat biaya asuransi pengapalan meroket ke level tertinggi.
Banyak perusahaan pelayaran besar memilih untuk menunda pengiriman hingga ada kesepakatan diplomatik yang konkret, karena mereka menilai pengawalan militer saja tidak cukup menjamin keamanan kru dan muatan.
Upaya perdamaian yang dimediasi oleh Pakistan sejauh ini masih menemui jalan buntu. Iran dikabarkan telah mengajukan proposal 14 poin yang mencakup penundaan pembahasan program nuklir hingga krisis pelayaran terselesaikan.
Tag
Berita Terkait
-
Kurs Rupiah Anjlok ke Rp17.409, Investor Pantau Data Pertumbuhan Ekonomi Q1
-
IHSG Dihantui Aksi Jual Asing Rp791 Miliar, Cek Saham yang Wajib Dicermati Hari Ini
-
Harga Minyak Melonjak 6 Persen Usai Iran Serang UEA, Selat Hormuz Makin Panas!
-
AS Roma Hajar Fiorentina 4-0, Persaingan Tiket Liga Champions Memanas
-
Kapal Perang AS Terjang Iran di Selat Hormuz dengan Dalih "Project Freedom"
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
Terkini
-
Letjen TNI Agus Widodo Dikabarkan Resmi Jabat Wakil Kepala BIN, Gantikan Komjen Imam Sugianto
-
Nyawa di Ujung Shift: Mengungkap Jam Kerja Tak Manusiawi Dokter Internship dan Regulasi Kemenkes
-
Sama dengan TNI, Prabowo Batasi Jabatan Anggota Polri di Luar Institusi
-
Komitmen ESG Meningkat, Mengapa Data Logistik Masih Jadi Tantangan di Lapangan?
-
KPK Ingatkan Tunjangan Hakim Ad Hoc Harus Beriringan dengan Perbaikan Sistem Peradilan
-
AI Diklaim Bisa Jadi Solusi Mitigasi Banjir Rob dan Krisis Air Bersih, Gimana Caranya?
-
Indonesian Proposal Jadi Fokus Pertemuan Indonesia dan United Kingdom Intellectual Property Office
-
Idul Adha 2026 Tanggal Berapa? Penetapan Versi Muhammadiyah dan Pemerintah Diprediksi Sama
-
33 Tahun Kasus Marsinah Stagnan, Aktivis: Keadilan Tidak Bisa Digantikan Seremoni Gelar Pahlawan!
-
Daftar Harga Kambing Kurban 2026 Terbaru Mulai Rp1 Jutaan, Cek Rekomendasinya di Sini!