Selebtek.suara.com - Hari ini Senin, 15 Agustus 2022., Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka kembali Tebet Eco Park untuk umum setelah tutup sejak dua bulan belakangan.
Tebet Eco Park merupakan taman kota untuk masyarakat dan lingkungan. Taman ini berdiri di atas lahan seluas 7,3 hektare di kawasan Tebet, Jakarta Selatan.Para pengunjung diwajibkan untuk mendaftar terlebih dahulu melalui aplikasi Jakarta Kini (JAKI).
Nah Berikut cara mendaftar sebagai pengunjung Tebet Eco Park melalui aplikasi JAKI milik Pemprov DKI Jakarta:
1. Unduh aplikasi JAKI di ponsel pintar anda.
2. Klik gambar atau banner bertulisan "Daftar Masuk Tebet Eco Park" di bagian atas aplikasi.
3. Baca syarat dan ketentuan yang berlaku di Tebet Eco Park. Pengunjung akan diminta memberi tanda centang sebagai persetujuan mengenai syarat dan ketentuan itu.
4. Isi formulir soal jumlah pengunjung, waktu kunjungan, dan sesi kunjungan yang tersedia.
5. Isi lagi formulir identitas dan alamat pengunjung. Masukkan pula nomor ponsel dan email untuk mendapatkan barcode tiket.
Untuk jam kunjungan di Tebet Eco Park akan dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama berlangsung pukul 07.00-11.00 WIB, sedangkan pada sesi kedua pukul 13.00-17.00 WIB.
Adapun pembatasan kapasitas pada jumlah pengunjung pada Senin sampai Jumat adalah 4.000 pengunjung/sesi. Sedangkan pada akhir pekan, Sabtu dan Minggu, kapasitas yang diperbolehkan sebanyak 5.000 pengunjung/sesi.
Fasilitas di Tebet Eco Park
Dengan mengusung slogan Connecting People with Nature, berikut fasilitas bisa kamu jajal di Tebet Eco Park.
Baca Juga: Kini Ditahan Kejagung, Tersangka Korupsi Rp78 Miliar Surya Darmadi Mengaku Tak Berniat Kabur
1. Infinity link bridge
Zona ini dirancang untuk menyambungkan taman utara dan selatan yang sebelumnya dipisahkan oleh Jalan Tebet Timur. Terdapat jembatan setinggi enam meter berdiri di antara pepohonan yang menjulang tinggi.
Penataan vegetasi di sekitar kawasan ini didesain dengan berbagai tone yang terinspirasi dari pohon Leda.
2. Children playground
Sarana ini hadir dengan memanfaatkan perbedaan kontur dan dinding eksisting yang ada pada tapak. Perbedaan kontur ini lalu digunakan sebagai elemen playground berupa perosotan yang terintegrasi dengan tapak.
3. Forest buffer
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Rute Transjakarta Dialihkan Imbas Kebakaran Kemayoran, Cek Jalur Alternatifnya
-
Jangan Asal Investasi! Pahami 3 Hal Ini Sebelum Uang Anda Ludes di Pasar Berjangka
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Kenduri Kurban di Pidie Jaya, Tradisi yang Sembuhkan Duka Penyintas Banjir
-
Cushion Sudah Mahal tapi Tetap Abu-Abu? Mungkin Undertone Anda Salah
-
7 Sepatu Lari Daily Trainer Paling Awet: Tetap Nyaman Meski Sudah Menempuh Ribuan Kilometer
-
Catat! Laga Timnas Putri Indonesia vs Singapura Digelar Tanpa Penonton di Arcamanik
-
Dulu Rusak Akibat PETI, Sungai di Tebo Kini Jadi Tempat Anak Muda Menanam Kehidupan
-
Bandung Terancam Jadi Lautan Sampah Pasca Libur Panjang
-
Teddy ke Dino Patti Djalal: Jangan Kaburkan Fakta Hasil Lawatan Prabowo