Suara Serang - Panglima TNI Laksamana Yudo Margono kena desak dari DPR RI. Desakan itu datang dari anggota Komisi III DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Santoso.
Ia meminta agar mengevaluasi sistem penerimaan anggota Paspampres (Pasukan Pengamanan Presiden). Hal ini buntut kasus penganiayaan dan penculikan hingga menghilangkan nyawa seseorang yang diduga dilakukan oknum anggota Paspampres, Praka RM alias Riswandi Manik.
Walau saat ini Pomdam Jaya sedang memeriksa Praka RM bersama rekannya atas tewasnya Imam Masykur, pedagang komestik asal Aceh jadi atensi dari komisi III.
Lantas legislator dari Partai Demokrat besutan Susilo Bambang Yudhoyono membeberkan, kenapa harus ada evaluasi terhadap Paspampres karena kecolongan.
Kecolongan yang ia maksud adalah terkait proses penerimaan anggota, yang kemudian memicu terjadinya tindak pidana terhadap warga sipil.
"Menurut saya menjadi Paspampres itu tidak mudah, banyak seleksi ketat, termasuk seleksi psikologi," kata Santoso kepada jurnalis di Kompleks Parlemen Senayan.
Masih kata Santoso, "Harapan saya perlu evaluasi proses seleksi masuk angggota Paspampres. Sehingga tidak abuse of power yang berdampak menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Sementara tugasnya sungguh besar dan mulia yakni menjaga keamanan presiden dan wakil presiden".
Diberitakan sebelumnya pemuda Aceh bernama Imam Masykur, 25 tahun merupakan pedagang kosmetik dan obat-obatan di Ciputat Timur, Tangerang Selatan ditemukan tewas di Sungai Karawang.
Diduga ia tewas setelah kena culik dan penganiayaan serta pemerasan. Peristiwa penculikan dan pemerasan itu bukan kali pertama dirasakan Imam Masykur, sebut Said Sulaiman, sepupu atau kerabat dari korban.
Baca Juga: Imam Masykur Sebelum Tewas, Juru Kunci Ini Bongkar Rahasia Motif Penculikan
Kini kasus tewasnya warga Aceh di Jakarta di tangan oknum anggota Pasukan Pengamanan Presiden masih tahap penyelidikan. Bahkan Pomdam Jaya sedang mendalami kasus ini untuk mengungkap peristiwa yang sebenarnya. [*]
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Nasib Ratusan Siswa SMA di Sumsel Terancam, Ombudsman Temukan Dugaan Pelanggaran SPMB
-
BI Sumsel Perkuat Pariwisata dan Ekonomi Digital Lewat Gemilang Palembang Raya x DKG 2026
-
AFC Ajax Boyong Marc-Andre ter Stegen, Maarten Paes Dibuang?
-
Duka Mendalam Klub Juara Liga Champions untuk Korban Gempa Venezuela
-
Mengapa Dokumen WDP Jadi WTP Dicari KPK? Fakta Baru dari Penggeledahan BPK Sumsel
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Sore di Pantai, Berburu Produk Lokal hingga Menikmati Musik di WKND Market PIK2
-
Sudah Bayar Rp128 Juta, Rumah Tak Kunjung Dibangun, Konsumen Lapor Polda Sumsel
-
Strategi Keliru Hong Myung-Bo, Korea Selatan Terancam Angkat Koper Lebih Cepat dari Piala Dunia 2026