SuaraSoreang.id-Ganguan Kecemasan sosial atau fobia sosial termasuk kedalam gangguan kesehatan mental.
Dokter spesialis kedokteran jiwa (psikiater) dr. Endah Ronawulan, Sp.KJ menyebutkan kecemasan sosial atau fobia sosial merupakan gangguan kesehatan mental yang ringan.
Gangguan kecemasan sosial ini muncul ketika seseorang berinteraksi sosial, baik secara langsung maupun tidak langsung di lingkungan sekitar.
Dokter Endah Ronawulane menyebut gejala hingga cara mengatasinya dapat dilakukan secara mandiri saat seseorang menghadapi gangguan kecemasan sosial.
Biasanya dalam kondisi tersebut, penderita merasa dirinya diperhatikan atau menjadi pusat perhatian banyak orang.
“Gejalanya yang biasa terjadi memang itu mempengaruhi seluruh fisik. Dia akan berdebar, berkeringat, menarik diri," kata dokter lulusan Spesialis Kesehatan Jiwa dari Universitas Indonesia itu dalam acara bincang virtual yang dikutip dari Antara pada 10 Oktober 2022.
"Dia berusaha melawannya dengan keras dan akan berkeringat, gemetar, bicara agak terbata-bata,” lanjut dr Endah.
Hal yang terburuk dari penderit ini, kata Endah adalah seseorang yang mengalami kecemasan sosial dapat menarik diri dari lingkungan sekitar.
Dampaknya akan terganggu fungsi untuk bersosialisasi hingga terhambatnya aktivitas profesional penderita.
Baca Juga: PN Jaksel Telah Menetapkan Daftar Hakim Sidang Kasus Obstruction of Justice Pembunuhan Brigadir J
Kondisi kecemasan sosial ini dapat berubah menjadi berbahaya apabila penderita tidak mampu mengendalikan kepanikan serta tidak mampu fokus dan tidak bisa mengontrol terhadap apa yang penderita lakukan.
Sedangkan Untuk mengatasi kecemasan sosial ini, Endah menganjurkan penderita agar melatih dan melakukan hal-hal sederhana, seperti berlatih membuat diri menjadi rileks.
Kemudian usahakan untuk mengatur napas secara perlahan ketika berbicara dengan lawan bicara.
“Itu (mengatur napas) dengan sendirinya kondisi keluhan fisiknya lebih stabil, jantung berdebarnya lebih perlahan turun. Membuat dia tenang dan rileks, dan dia bisa berkomunikasi,” ungkap Endah.
Selanjutnya, Endah juga merekomendasikan agar penderita melatih dirinya untuk selalu berpikir positif.
Biasanya dalam kasus ini penderita selalu diliputi oleh pikiran yang menghakimi dirinya sendiri.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Pertama dalam Sejarah! HJB ke-544 Dipusatkan di Kaki Gunung Halimun Salak
-
Alasan Presiden FA Palestina Ogah Salaman dengan Utusan Israel di Depan FIFA
-
Orang Dekat Bobby Nasution Diperiksa KPK dalam Kasus Dugaan Suap Proyek PUPR Sumut
-
Hitung Mundur Piala Dunia 2026: 550 Juta Penonton untuk Satu Pertandingan?
-
Viral Cuitan 2022 yang Singgung Hantavirus 2026, Disebut Prediksi Masa Depan
-
4 Sepatu Lari yang Ringan dengan Perlindungan Ekstra, Harga 400 Ribuan
-
Kemendagri Perluas Pemanfaatan IKD, Ratusan Ribu Warga Akses Layanan Tanpa Fotokopi KTP
-
Prioritaskan Transparansi, BRI Dukung Proses Hukum Kasus KoinWorks
-
iPhone Versi Android? Honor 600 Pro Viral karena Iklan di Depan Apple Store
-
Pulang dari Pantai Bidadari, 3 Pemuda Diadang Komplotan Begal di Tanggamus