SUARA SOREANG – Memasuki bulan syawal, umat islam akan dihadapkan dengan situasi untuk memilih menjalankan puasa sunnahnya atau mendahulukan qodhonya bagi mereka yang memiliki utang puasa.
Dalam permasalahan ini, dijelaskan oleh Ustadz Adi Hidayat bahwa ulama terbagi menjadi dua pendapat, pendapat pertama yang mutasyaddid atau yang sangat ketat. Yang kedua mutasahilin atau yang agak longgar.
Menurut pendapat ulama mutasyaddid, jika terjadi dua situasi dimana seseorang memiliki kewajiban qodho dan bertemu di bulan syawal maka mendahulukan membayar qodho karena hukumnya wajib.
Bagi semua perempuan yang tengah haid saat Ramadhan atau pria yang punya persoalan kemudian ia mesti mengqodho karena sakit atau yang lainnya, menurut pendapat ulama mutasyaddid, mesti mengqodho puasa Ramadhannya terlebih dahulu.
Dijelaskan bahwa puasa qodho sifatnya wajib bukan boleh atau bisa, dan tatanan hukum wajib itu berada di atas sunnah. Maka puasa qodho seperti prioritas dan utang. Jika dikerjakan mendapat pahala, jika ditinggalkan berdosa.
“Jika ia mendapatinya alhamdulillah, jika tidak mendapatinya dengan keinginan dan niatnya maka pahalanya dituliskan disitu,” ucap Ustadz Adi.
Pendapat ulama yang kedua yaitu mutasahilin, menurut mereka boleh mendahulukan puasa syawal sampai tuntas, baru kemudian dikerjakan selanjutnya puasa qodho Ramadhan.
Adapun dalil yang menjadi pertimbangan keputusan ini seperti Aisyah RA yang pernah mengqodho puasa di bulan sya’ban ketika akan bertemu dengan bulan Ramadhan selanjutnya.
“Maka disini dijadikan dalil, kalau ada orang yang ingin mengejar syawalnya dulu diperkenankan, dan dia bisa melanjutkan mengqodho puasa di hari-hari lain pasca bulan syawal,” ujar Ustadz Adi.
Baca Juga: Sinopsis Drag Me to Hell, Berkisah Tentang Kutukan Maut yang Menimpa Pegawai Bank
Dari kedua pendapat ini, Ustadz Adi akui lebih condong pendapat yang pertama karena timbangan hukum mengqodho itu sifatnya wajib. Dan yang menjadi masalah, jika kita menunda untuk mengerjakan syawal terlebih dahulu, belum bisa dipastikan kita hidup sampai batas penundaan itu.
Jika tidak bisa menunaikan puasa syawal, niatkan sebagaimana berpuasa dan memohon kepada Allah SWT agar kita diberikan kemuliaan seperti orang-orang yang telah mengerjakannya.(*)
Sumber: YouTube/Kajian Islam Official
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
4 Fakta Menarik Belanda Bantai Swedia di Piala Dunia 2026, Duet Maut Brobbey dan Gakpo
-
30 Kata-Kata Hari Ayah Sedunia dalam Bahasa Inggris untuk Caption dan Story, Penuh Makna
-
Boboiboy Galaxy Musim 1: Esensi Plot Geser, tapi Visual dan Skill Menggila
-
Mandalika hingga Rempang: Hak Rakyat Tergilas Proyek Negara, Pemulihan Cuma Janji?
-
Membaca, Menjelajah Kota, dan Bertemu Orang Baru Bersama LiteraTOUR
-
25 Ucapan Hari Ayah Sedunia 2026 yang Menyentuh Hati dan Penuh Makna
-
4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
-
Tren Perawatan Non-Bedah Meningkat, Ini Manfaat dan Risikonya
-
Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
-
Pernah Dipermalukan Timnas Indonesia, Curacao Cetak Sejarah Raih Poin Perdana di Piala Dunia 2026