- Ketua Prodi HI UMY, Ade Marup Wirasenjaya, menganalisis pidato Prabowo Subianto mengenai standar ganda negara besar.
- Pesan diplomatik Prabowo bertujuan mengkritik negara kuat ekonomi dan militer, khususnya sekutu Amerika dan Eropa.
- Ade menyarankan Indonesia memaksimalkan peran di OKI daripada terlibat proyek perdamaian buatan Donald Trump.
Suara.com - Ketua Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ade Marup Wirasenjaya, menyoroti pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyinggung standar ganda negara-negara besar soal demokrasi dan hak asasi manusia (HAM).
Dalam pidatonya di Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah di SICC, Bogor, Senin (2/2/2026) kemarin, Prabowo sempat berbicara soal negara-negara besar yang dulu mengajarkan demokrasi dan HAM namun kini diam ketika ada pembantaian.
Ade menilai, pesan tersebut memiliki target spesifik di kancah global. Terkhususnya negara-negara yang memiliki pengaruh kuat secara ekonomi dan militer.
"Ya mungkin yang dituju itu ya negara-negara di sekutu Amerika, mungkin di Eropa. Negara-negara di seputaran Timur Tengah yang selama ini kategorinya udah masuk negara kaya, mungkin," kata Ade saat dihubungi Suara.com, Rabu (4/2/2026).
Lebih jauh, menurut Ade, narasi yang dibangun Prabowo bukan sekadar kritik kosong tanpa tujuan. Pernyataan tersebut berfungsi sebagai pesan diplomatik yang keras.
Namun di sisi lain menjadi cerminan realitas bahwa Indonesia tetap memerlukan dukungan strategis dari kekuatan global untuk menyelesaikan konflik kemanusiaan.
"Jadi ya itu pesan seperti itu juga ada gunanya untuk menghardik sekaligus untuk menyadari bahwa posisi Indonesia itu tanpa support dari negara-negara besar, itu tidak akan ada artinya," ujarnya.
Lebih lanjut, akademisi UMY ini menyoroti posisi tawar Indonesia yang sebenarnya terbatas dalam isu kemanusiaan dan HAM internasional.
Ia menilai, ajakan Prabowo kepada dunia internasional sangat relevan dengan kondisi sekarang.
Baca Juga: Titik Balik Diplomasi RI: Pengamat Desak Prabowo Buktikan Kedaulatan Lawan 'Gertakan' Donald Trump
Mengingat kendala geopolitik dan kapasitas ekonomi Indonesia di institusi internasional yang belum terlalu dominan.
"Jadi kalau saya menangkapnya, mungkin Prabowo udah mengukur diri, 'oh Indonesia itu posisi power-nya dalam politik dunia ya di level ini.' Tanpa adanya supporting dari negara-negara yang kategorinya besar, baik secara ekonomi, militer, maupun politik, itu enggak ada artinya," tuturnya.
Ade menyarankan pemerintah untuk memaksimalkan peran dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Terlebih dalam menguatkan mitra strategis dan pendalaman terhadap isu-isu kemanusiaan termasuk Palestina.
Langkah ini dinilai lebih konkret dan memiliki kedekatan historis dengan isu tersebut.
Dibandingkan menjajaki inisiatif baru yang fragmentasinya belum jelas, misalnya Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian gagasan Donald Trump.
Ia tak lupa menekankan agar pemerintah berhati-hati dan tidak terjebak dalam inisiatif proyek perdamaian buatan Donald Trump yang melibatkan Israel. Sebab hal tersebut berisiko merusak konsistensi diplomasi Indonesia.
Berita Terkait
-
Cak Imin dan Jajaran PKB Bertemu Tertutup dengan Presiden Prabowo, Ada Apa?
-
Prabowo Bakal Tambah Polisi Hutan Jadi 70.000 Personil
-
Titik Balik Diplomasi RI: Pengamat Desak Prabowo Buktikan Kedaulatan Lawan 'Gertakan' Donald Trump
-
Hashim: Prabowo Tak Omon-omon Soal Perlindungan Lingkungan
-
Pramono Anung 'Gaspol' Perintah Gentengisasi Prabowo, Hunian Baru di Jakarta Tak Boleh Pakai Seng
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 4 Mobil Kecil Bekas 80 Jutaan yang Stylish dan Bandel untuk Mahasiswa
Pilihan
-
Mauro Zijlstra Resmi Gabung Persija
-
KPK Bakal Panggil Pihak Terkait Kasus Bank BJB, Termasuk Aura Kasih?
-
Jakarta Diguyur Hujan Deras Lagi: Puluhan RT di Jaksel Kembali Terendam, Petogogan Paling Parah
-
Dugaan Skandal PT Minna Padi Asset Manajemen dan Saham PADI, Kini Diperiksa Polisi
-
Epstein Gigih Dekati Vladimir Putin Selama Satu Dekade, Tawarkan Informasi 'Rahasia AS'
Terkini
-
Geger! Bom Molotov Dilempar ke Sekolah di Kubu Raya
-
Mahfud MD Soroti Kekerasan Aparat: Reformasi Polri Diserukan, Brutalitas Masih Terjadi
-
Buntut Hujan Deras, 39 RT di Jakarta Selatan Dikepung Banjir Setinggi 30 Sentimeter
-
Mahfud MD Beberkan 4 Isu Krusial Komisi Reformasi Polri: Posisi Kapolri hingga Penguatan Kompolnas
-
Kecelakaan Maut di Cilandak: Pemotor Tewas Usai Hantam JakLingko Depan Warung Bakso
-
Drama Aura Kasih Berlanjut, Berpeluang Dipanggil KPK Terkait Ridwan Kamil di Luar Negeri
-
Kabar Gembira! Lansia di Atas 75 Tahun yang Tinggal Sendirian Bakal Dapat Makan Gratis dari Kemensos
-
KPK Bakal Panggil Pihak Terkait Kasus Bank BJB, Termasuk Aura Kasih?
-
Jakarta Diguyur Hujan Deras Lagi: Puluhan RT di Jaksel Kembali Terendam, Petogogan Paling Parah
-
Operasi Senyap Ditresnarkoba Polda Metro: Bongkar Peredaran Etomidate di Jakbar hingga Tangerang