Sport / Arena
Jum'at, 12 Juni 2020 | 20:05 WIB
Dua petinju Indonesia, Daud Yordan (kiri) dan Ongen Saknosiwi, menjadi juara dunia kelas ringan super dan bulu IBA usai mengalahkan lawan masing-masing di Jatim Park 3 Kota Batu, Malang, Jawa Timur, Minggu (17/11/2019). [Suara.com/Arief Apriadi]
Mantan juara dunia tinju kelas terbang IBF dan WBA, Muhammad Rachman (kiri). [Instagram]

Muhammad Rachman merupakan petinju asal Merauke, Papua. Dia aktif bertinju pada medio 1993-2016.

Petinju berjuluk Predator itu meraih gelar juara dunia kelas terbang mini IBF pada 2004 setelah menang angka atas Daniel Reyes (Kolombia).

Rachman mampu mempertahankan sabuk juara dunia tersebut selama tiga tahun, sebelum takluk di tangan petinju Filipina, Florente Condes pada 2007.

Menjelang usia 40 tahun, Rachman membuat kejutan dengan merebut sabuk juara dunia kelas terbang versi WBA pada tahun 2011, dengan memukul KO Ekkawit Songnui dari Thailand.

Total Muhammad Rachman bertarung sebanyak 83 kali. Rinciannya 65 kali menang, 13 kalah, dan lima seri.

4. Chris John

Petinju Indonesia, Chris John (kanan), menghempaskan pukulan ke arah kepala penantangnya, Shoji Kimura (Jepang), dalam pertarungan tinju dunia kelas bulu WBA (Super) di Marina Bay Sands, Singapura, 5 Mei 2012. [AFP/Simin Wang]

Chris John merupakan petinju kelahiran Banjarnegara, Jawa Tengah, yang aktif berkarier dari 1998 hingga 2013.

Petinju berjuluk The Dragon merupakan salah satu petarung terbaik Indonesia di zamannya.

Dia merupakan peraih gelar juara dunia kelas bulu WBA (Super) dan mampu mempertahankan titel itu dari 2004 hingga 2013.

Baca Juga: Bantah Arum soal Maju Capres Filipina, Pacquiao: Kami Hanya Bicara Tinju

5. Daud Yordan

Petinju Indonesia Daud Yordan melakukan selebrasi usai mengalahkan Michael Mokoena (Afrika Selatan) dalam perebutan sabuk juara dunia tinju kelas ringan super IBA dan WBO Oriental di Batu, Jawa Timur, Minggu (17/11/2019). [Antara/Ari Bowo Sucipto]

Daud Yordan memulai debut profesional pada 2005. Petinju yang juga dikenal dengan nama Cino itu kekinian menjadi petarung paling bersinar di Tanah Air.

Daud Yordan merupakan petinju pertama Indonesia yang meraih sabuk juara dunia di tiga kelas berbeda.

Gelar juara dunia pertama diraih Daud pada 2012 di Marina Bay, Singapura. Saat itu dia meraih gelar juara dunia kelas bulu IBO usai memukul KO petinju Filipina, Lorenzo Villanueva.

Setahun berselang, Daud kembali mengukir prestasi. Naik ke kelas ringan, Cino sukses meraih gelar juara dunia IBO pada 14 April 2013 usai menekuk Simpiwe Vetyeka (Afrika Selatan).

Teranyar, Daud menambah koleksi gelar juara dunia lewat pertarungan yang berlangsung di Kota Batu, Malang, 17 November 2019.

Dalam perebutan gelar juara dunia kelas ringan super IBA, Daud menang TKO ronde kedelapan atas petinju Afrika Selatan, Michael Mokoena.

Kekinian Daud Yordan memiliki rekor tanding 40 kali menang, empat kalah, dan satu kali no contest.

6. Tibo Monabesa

Petinju Indonesia Tibo Monabesa (tengah) diarak keliling ring usai menjuarai perebutan gelar juara dunia kelas terbang ringan IBO melawan petinju Australia Omari Kimweri di GOR Oepoi, Kupang, NTT, Minggu (7/7/2019). [Antara/Kornelis Kaha]

Mantan sopir angkot dan kuli bangunan ini mengharumkan nama Indonesia setelah menjadi juara dunia kelas terbang ringan IBO pada 7 Juli 2019.

Dalam duel di GOR Flobamora, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Tibo Monabesa mengalahkan sang lawan Omari Kimweri dari Australia, dengan kemenangan angka mutlak.

Tibo Monabesa menjadi petunju NTT pertama yang menjadi juara dunia tinju.

Saat ini rekor tandingnya adalah 20 kali menang, sekali kalah, dan dua seri.

7. Ongen Saknosiwi

Petinju Indonesia Ongen Saknosiwi melakukan selebrasi usai dinyatakan menang angka mutlak atas Marco Demecillo (Filipina) dalam perebutan gelar juara dunia kelas bulu IBA di Batu, Jawa Timur, Minggu (17/11/2019). [Antara/Ari Bowo Sucipto]

Ongen Saknosiwi menjadi petunju teranyar Indonesia yang mampu mempersembahkan gelar juara dunia bagi Merah Putih.

Kendati baru meniti karier pada 2016, pemuda kelahiran Waenibe, Maluku, 15 Juli 1994 itu mampu menunjukan taji.

Ongen hanya butuh delapan pertarungan dalam kariernya sebelum menasbihkan diri sebagai juara dunia baru dalam perebutan sabuk lowong kelas bulu IBA.

Dia meraih sabuk tersebut usai mengalahkan lawannya dari Filipina, Marco Demecillo, dalam duel yang berlangsung di Jatim Park 3, Kota Batu, Malang, 17 November 2019.

Load More