Sport / arena
Syaiful Rachman | Adie Prasetyo Nugraha
Menpora Zainudin Amali, didampingi Menteri BUMN Erick Thohir dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas, di Mimika Sport Centre, Mimika, Senin (4/10/2021). (ANTARA/Zuhdiar Laeis)

Suara.com - Indonesia terancam sanksi dari Badan Anti-Doping Internasional (WADA), dan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali buka suara mengenai hal tersebut.

Sebelumnya diberitakan, WADA menganggap Indonesia tidak patuh dalam menerapkan program dan pengujian efektif anti-doping oleh Badan Anti-Doping Dunia pada Kamis (7/10/2021).

Melansir Reuters, Jumat (8/10/2021), kondisi itu membuat Indonesia dan dua negara lain yakni Korea Utara dan Thailand, tidak memenuhi syarat untuk mendapat hak menjadi tuan rumah kejuaraan olahraga baik regional, kontinental, maupun dunia selama periode penangguhan.

Perwakilan dari tiga negara juga tidak memenuhi syarat untuk duduk sebagai anggota dewan komite sampai negara mereka dipulihkan dalam jangka waktu satu tahun atau lebih.

Baca Juga: Indonesia Terancam Sanksi WADA, PBSI Pastikan 3 Turnamen di Bali Aman

Amali mengaku telah menerima surat dari WADA mengenai hal tersebut dan ia akan segera membuat klarifikasi mengapa sampai saat ini belum mengirimkan sample.

"Hari ini kami langsung koordinasi dengan LADI (Lembaga Anti Doping Indonesia) untuk menanyakan di mana poisisi kita sampai dikatakan tidak patuh itu. Ini lebih kepada pengiriman sample, jadi karena pengiriman sample kita," kata Amali saat jumpa pers virtual, Jumat (8/10/2021).

Amali menjelaskan pandemi Covid-19 yang mengakibatkan pengiriman sample belum bisa dilakukan. Tidak ada kegiatan olahraga selama pandemi sehingga pengambilan sample sulit dilakukan.

"Pada 2020 kita memang merencanakan akan memberikan sample yang kita buat perencanaannya pada sebelumnya. Tetapi kita tidak menyangka bahwa pada bulan Maret kita terkena Covid-19, dan itu berkepanjangan, bahkan sampai sekarang, sehingga tidak ada kegiatan-kegiatan olahraga yang bisa kita jadikan sample untuk anti doping pada saat pelaksanaan kegiatan itu," jelasnya.

"Nah ini yang menyebabkan tidak terpenuhi sample itu. Kemudian kan kenapa tidak terpenuhi? karena direncanakan waktu itu sample itu by name, jadi tidak boleh berubah. Sementara yang sudah direncanakan untuk diambil samplenya itu ada yang dia ke luar negeri, maksudnya bertanding ya, baik kualifikasi Olimpiade maupun kejuaraan single event lainnya, sehingga itu juga menyulitkan," sambungnya.

Baca Juga: Indonesia Disanksi Badan Anti-Doping Dunia, Tak Boleh Jadi Tuan Rumah Olahraga

Menpora yakin setelah mengirimkan klarifikasi, WADA bisa mengerti situasi dan kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia. Indonesia akan segera mengirimkan sample khususnya untuk tahun 2021.

"Jadi ini lebih kepada doping plan kita, jadi karena kejadian Covid-19 sehingga tidak bisa kita lakukan sesuai dengan apa yang sudah kita kirimkan. Kan, setiap tahun itu harus mengirimkan, kemudian itu menjadi pegangan WADA dan akan disesuaikan apakah Indonesia ini sesuai dengan perencanaanya atau tidak," Amali menambahkan.

"Saya optimis kalau ini clear ya setelah kita komunikasi untuk 2021 ini bisa terpenuhi dengan sample-sample doping atau anti doping yang diambil dari pelaksanaan PON, kan ini banyak ya, banyak nomor pertandingan, banyak sample yang bisa diambil, sehingga saya tidak khawatir, tapi ini harus dijelaskan."

"Jadi itu sih inti dari WADA mengeluarkan surat kepada Indonesia, kira-kira surat teguranlah kalau bahasa kita di sini, kita ditegur, tidak mematuhi, tetapi kita klarifikasi dan kita nyatakan kita bisa, saya kira ini akan bisa clear lagi," pungkasnya.

Komentar