/
Selasa, 09 Mei 2023 | 22:42 WIB
Drone Shahed-136 buatan Iran (Tangkapan layar YouTube)

"Jika (drone) tidak memasuki zona pembunuhan kami, maka kami mengirimkan informasi tentang Bayraktar ke unit tetangga yang mengerjakannya. Di sini, sistem pertahanan udara bekerja bersama," katanya.

"Jika kita tidak menembak jatuh, kompleks yang lebih kuat akan bekerja - Buk, S-300. Interaksi telah terjalin sepenuhnya. Ada kalanya mereka meneruskan targetnya kepada kami agar tidak menembak jatuh drone yang sama dengan rudal besar," kata Vladislav.

Drone Bayraktar terbukti tidak efektif di wilayah yang dipenuhi sejumlah besar sistem pertahanan udara yang bekerja secara terkoordinasi.

Drone Shahed-136 buatan Iran (sumber: Tangkapan layar YouTube)

Drone Shahed Digdaya di Perang Ukraina

Rusia sempat dikritik karena tidak mengerahkan kemampuan udara tak berawak seefektif Bayraktar TB2 hingga akhirnya memperkenalkan amunisi berkeliaran Shahed buatan Iran.

Iran bahkan dianggap salah satu negara adidaya drone yang sedang berkembang.

Iran membanggakan banyak kendaraan udara tak berawak (UAV) mulai dari sistem jarak pendek yang kecil dan ringan hingga UAV menengah hingga berat untuk intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR).

Namun, drone kamikaze atau bunuh diri Shahed-136 telah membangun reputasi yang cukup baik di perang Rusia-Ukraina.

Meskipun Shahed-136 tidak secanggih teknologi AS, Israel, China atau bahkan beberapa drone buatan Rusia, Moskow secara efektif memperkerjakan Shahed untuk menghancurkan posisi Ukraina.

Baca Juga: Ribuan Jamaah Muhammadiyah Melaksanakan Salat IdulFitri 1 Syawal 1444 Hijriah Di Universitas Muhammadiyah Sukabumi

Bahkan, militer Rusia telah menyasar target menggunanak Shahed jauh di belakang garis depan Ukraina. (Eurasiantimes)

Load More