"Jika (drone) tidak memasuki zona pembunuhan kami, maka kami mengirimkan informasi tentang Bayraktar ke unit tetangga yang mengerjakannya. Di sini, sistem pertahanan udara bekerja bersama," katanya.
"Jika kita tidak menembak jatuh, kompleks yang lebih kuat akan bekerja - Buk, S-300. Interaksi telah terjalin sepenuhnya. Ada kalanya mereka meneruskan targetnya kepada kami agar tidak menembak jatuh drone yang sama dengan rudal besar," kata Vladislav.
Drone Bayraktar terbukti tidak efektif di wilayah yang dipenuhi sejumlah besar sistem pertahanan udara yang bekerja secara terkoordinasi.
Drone Shahed Digdaya di Perang Ukraina
Rusia sempat dikritik karena tidak mengerahkan kemampuan udara tak berawak seefektif Bayraktar TB2 hingga akhirnya memperkenalkan amunisi berkeliaran Shahed buatan Iran.
Iran bahkan dianggap salah satu negara adidaya drone yang sedang berkembang.
Iran membanggakan banyak kendaraan udara tak berawak (UAV) mulai dari sistem jarak pendek yang kecil dan ringan hingga UAV menengah hingga berat untuk intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR).
Namun, drone kamikaze atau bunuh diri Shahed-136 telah membangun reputasi yang cukup baik di perang Rusia-Ukraina.
Meskipun Shahed-136 tidak secanggih teknologi AS, Israel, China atau bahkan beberapa drone buatan Rusia, Moskow secara efektif memperkerjakan Shahed untuk menghancurkan posisi Ukraina.
Bahkan, militer Rusia telah menyasar target menggunanak Shahed jauh di belakang garis depan Ukraina. (Eurasiantimes)
Tag
Berita Terkait
-
35 Drone Shahed Buatan Iran Dipakai Rusia untuk Serang Ukraina
-
Putin Terancam Dikhianati Para Jenderalnya
-
Serangan Baru Zionis Israel Tewaskan 12 Orang di Gaza, Termasuk Komandan Tertinggi Gerakan Jihad Islam
-
Pidato Keras Putin ke Barat: Ideologi Superioritas Pada Dasarnya Menjijikkan, Kriminal dan Mematikan
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Nasib Ratusan Siswa SMA di Sumsel Terancam, Ombudsman Temukan Dugaan Pelanggaran SPMB
-
BI Sumsel Perkuat Pariwisata dan Ekonomi Digital Lewat Gemilang Palembang Raya x DKG 2026
-
AFC Ajax Boyong Marc-Andre ter Stegen, Maarten Paes Dibuang?
-
Duka Mendalam Klub Juara Liga Champions untuk Korban Gempa Venezuela
-
Mengapa Dokumen WDP Jadi WTP Dicari KPK? Fakta Baru dari Penggeledahan BPK Sumsel
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Sore di Pantai, Berburu Produk Lokal hingga Menikmati Musik di WKND Market PIK2
-
Sudah Bayar Rp128 Juta, Rumah Tak Kunjung Dibangun, Konsumen Lapor Polda Sumsel
-
Strategi Keliru Hong Myung-Bo, Korea Selatan Terancam Angkat Koper Lebih Cepat dari Piala Dunia 2026