/
Jum'at, 16 Desember 2022 | 14:35 WIB
Ilustrasi Putri Chandrawathi. Aktivis Perempuan tak percaya Putri Candrawathi korban pemerkosaan. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Putri Candrawathi, istri Ferdy Sambo, mengaku diperkosa oleh Brigadir Yosua Hutabarat saat persidangan beberapa waktu lalu. 

Namun pengakuan Putri Candrawathi itu diragukan Aktivis Jaringan Pembela Hak Perempuan Korban Kekerasan Seksual Ratna Bantara Muti.

Ratna mengatakan, pihaknya tidak bisa langsung menyatakan dukungan terhadap Putri Candrawathi sebagai korban kekerasan seksual karena ada inidikasi kebohongan dan obstruction of justice.

"Dan dia (Putri) juga terlibat dalam, fakta persidangan bukan hanya sebagai ibu rumah tangga biasa tapi dia juga bagian dari merencanakan skenario. Dan skenario dia gagal," kata Ratna saat diwawancarai Rossi dikutip di Youtube Kompas TV.

Sebagai pendamping korban kekerasan seksual, Ratna mengatakan, memang harus percaya dengan keterangan korban. Kecuali lanjutnya ada indikasi-indikasi yang membuat ragu bahwa dia sebagai korban. "Dan indikasi-indikasi itu banyak di dalam kasus Bu PC ini," tuturnya. 

Ratna juga menjelaskan mengenai relasi kuasa dalam kasus Putri Candrawathi ini. Selama ini kata Ratna, pihaknya selalu di depan ketika perempuan menjadi subordinat dari pelaku kekerasan seksual.

"Kita bisa lihat relasi kuasa di kasus PC siapa yang berkuasa? siapa yang punya uang, siapa yang punya privilage," ujar dia. 

Menurut Ratna, kasus Putri Candrawathi ini adalah sebuah pengecualian dari mayoritas kasus kekerasan seksual yang dialami perempuan.

Sehingga, kata Ratna, Putri Candrawathi tidak bisa disamakan dengan korban-korban kekerasan seksual lainnya.  Mayoritas korban kekerasan seksual ujar Ratna, memang lemah dari relasi kuasa dengan pelaku dan bukan orang kelas menengah atas yang juga sulit mendapatkan akses informasi.

Baca Juga: Dikritik Sana-sini, KSP Tegaskan KUHP Tidak Bungkam Demokrasi

"Kalau PC ini banyak sekali privilage. Siapa suaminya? dan dia itu ada 8 ajudan yang melayani. Bayangkan suami istri dilayani 8 orang yang harusnya mereka bisa bekerja untuk masyarakat daripada satu keluarga," ujarnya. 

Ratna kemudian dengan tegas mengatakan bahwa Putri Candrawthi tidak mencerminkan mayoritas korban perempuan yang sering ia dampingi.

"Banyak kejanggalan. Korban perkosaan pasti secara fisik dan psikis akan menimbulkan depresi dan trauma ada ga yang meminta ketemu dengan pelakunya belum lama kejadiannya," kata Ratna.

Load More