/
Senin, 17 April 2023 | 12:18 WIB
Ilustrasi Perang. (Pexel/Pixabay)

Suara Sumatera - Puluhan orang tewas dan ratusan orang lainnya luka-luka dalam bentrokan bersenjata antara tentara Sudan dan Pasukan Pendukung Cepat (RSF).

Liga Arab menyerukan penghentian kekerasan di Sudan dan menawarkan menjadi penengah antara rival militer yang berkonflik di negara itu. RSF merupakan pasukan paramiliter berpengaruh di Sudan yang dibentuk sejak perang Darfur pada 2013.

Liga Arab menyatakan siap mengerahkan upaya untuk membantu Sudan mengakhiri krisis secara berkelanjutan, dengan cara yang melayani kepentingan rakyat Sudan.

Organisasi itu memperingatkan dampak serius dari eskalasi kekerasan di Sudan, karena "ruang lingkup yang sulit ditentukan secara internal dan regional".

Pertemuan Liga Arab diadakan atas permintaan dari Mesir dan Arab Saudi untuk membahas perkembangan di Sudan.

Pada Minggu pagi, Mesir dan Sudan Selatan menawarkan untuk menjadi penengah guna menyelesaikan krisis antara tentara Sudan dan RSF.

Sementara RSF menuduh tentara menyerang pasukannya di selatan Khartoum dengan senjata ringan dan berat, militer mengatakan RSF menyebarkan kebohongan dan menudingnya sebagai kelompok pemberontak.

Perselisihan antara kedua belah pihak mengemuka pada Kamis (13/4/2023) saat tentara mengatakan gerakan baru-baru ini oleh RSF telah terjadi tanpa koordinasi dan bersifat ilegal, dan keretakan antara kedua pihak berpusat pada usulan transisi ke pemerintahan sipil.

Sudan tidak memiliki pemerintahan yang berfungsi sejak Oktober 2021, ketika militer membubarkan pemerintahan transisi Perdana Menteri Abdalla Hamdok dan menyatakan keadaan darurat dalam sebuah langkah yang dikecam oleh kekuatan politik sebagai kudeta.

Baca Juga: Gelar Aksi Protes saat Ramadan, Ini Sederet Tuntutan Massa Partai Buruh di Depan DPR

Masa transisi Sudan, yang dimulai pada Agustus 2019, dijadwalkan berakhir dengan pemilu pada awal 2024. [Antara]

Load More