Suara Sumatera - Sebanyak sembilan pemain tim nasional profesional yang ternyata mengikuti pendidikan kepolisian. Kesembilan pemain muda tim nasional tersebut diantaranya Muhammad Ferarri dari Persija Jakarta (20 tahun), Kakang Rudianto dari Persib Bandung (20 tahun), Ginanjar Wahyu dari Arema FC (19 tahun) dan Frengky Missa dari Persikabo 1973 (19 tahun).
Selain itu, Ananda Raehan dari PSM Makassar (19 tahun), Dimas Juliono dan Faiz Maulana dari Bhayangkara Presisi Indonesia FC (keduanya 19 tahun), Rabbani Tasnim dari RANS Nusantara FC (20 tahun), dan Daffa Fasya dan Borneo FC Samarinda (19 tahun).
Menanggapi hal ini, Direktur Teknik PSSI Indra Sjafri menyatakan tidak sependapat dengan keputusan sejumlah pemain Timnas Indonesia yang mengikuti pendidikan polisi tersebut. Ia setidaknya punya empat alasan atau penilaian.
1. Mencontohkan diri sendiri yang konsisten
Dia yang mencontohkan dirinya yang konsisten bergerak secara profesional di dunia sepak bola, sehingga mengharapkan pemain sepak bola juga memiliki konsistensi yang sama.
"Saya sebagai orang yang bergerak di profesional sepak bola, jangan ada ketakutan lah untuk pemain-pemain benar-benar yang konsentrasi di sepak bola,” ujarnya ketika ditemui awak media usai acara penandatangan kerja sama antara Yayasan Bakti Sepak Bola Indonesia dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Gedung BEI, Jakarta, Senin (7/8/2023).
2. Berharap pemain sepak bola memiliki konsisten yang sama
Apalagi, ia membeberkan bagaimana sikap dalam menentukan masa depan pemain-pemain sepak bola ini.
"Ya saya memang susah ya, maksudnya begini, ini kan dia mengambil sikap untuk main masuk Polri ini kan antisipasi dia untuk masa depan. Saya mohon maaf kurang setuju sebenarnya kalau pemain profesional," sambung ia.
Baca Juga: Fadil Jaidi Kasih Kado Mobil Mewah untuk Sang Ibu, Doa Mama Ida Bikin Haru
3. Pemain sepak bola hendaknya tekun pada profesi
Pelatih asal Sumatera Barat itu menunjukkan bagaimana berkarier di dunia sepak bola merupakan pilihan karier yang tepat asalkan ditekuni sungguh-sungguh.
Dibuktikan dari dirinya yang dahulu memilih berhenti bekerja dari PT Pos Indonesia untuk fokus menjadi pelatih timnas usia muda.
"Saya aja berhenti dari PT Pos. Apalagi kurangnya industri sepak bola? Asal kita memang konsentrasi di sepak bola, benar-benar kerja keras, tidak ada keraguan sebenarnya," terangnya.
Mereka akan absen selama kurang lebih lima bulan membela klubnya dan tim nasional jika mendapat panggilan akibat mengikuti pendidikan menjadi polisi ini.
4. Belum mengetahui bagaimana karir ke depannya jika menjadi anggota polisi
Ketika ditanya tentang nasib kesembilan pemain muda tersebut setelah masuk kepolisian ke depannya, Indra Sjafri enggan berbicara lebih jauh.
"Itu yang saya tidak tahu nanti gimana setelah dia masuk polisi nanti bagaimana dia kariernya. Cuman pengalaman saya, saya nggak bisa memerankan dua karier, makannya saya berhenti di PT Pos, nggak mungkin," pungkas sosok yang juga pelatih Timnas U-20 tersebut.
[ANTARA]
Berita Terkait
-
Pengumuman Pemain Timnas Indonesia U-23 Dihapus, Shin Tae-yong dan Persija Diskusi Khusus
-
Kurang Setuju Pemain Timnas Indonesia Ikut Pendidikan Kepolisian, Indra Sjafri: Saya Saja Berhenti
-
Indra Sjafri Bongkar Komposisi Timnas Indonesia untuk Asian Games 2022, Siapa Saja?
-
Indra Sjafri Kecewa 9 Pemain Timnas Indonesia Pendidikan Polri: Apa Kurangnya Sepak Bola, Saya Berhenti dari PT Pos!
-
Shin Tae-yong Lobi Persija Panggil Pemain Timnas Indonesia U-23, Bakal Ribut Lagi dengan Thomas Doll?
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan