/
Selasa, 06 September 2022 | 17:54 WIB
Ilustrasi uang rupiah (pixabay.com)

SuaraSumedang.Id - Pemerintah berencana memberikan bantuan sosial atau bantuan langsung tunai (BLT) setelah pemerintah menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

Keputusan pemerintah akan hal tersebut pun mengundang ragam reaksi publik, salah satunya dari Politikus Partai Demokrat, Andi Arief.

Dalam hal ini, Andi Arief membandingkan pemberian BLT usai kenaikan BBM di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Joko Widodo.

Politisi Demokrat itu menyebut bahwa, pada masa kepemimpinan SBY, BLT kerap disebut sebagai sogokan untuk rakyat oleh politisi PDIP.

"Pada waktu [pemerintahan SBY] itu dikritik oleh PDIP seakan-akan BLT sebagai alat untuk menyogok rakyat, tidak buktinya [pemerintah] menurunkan BBM," ujar Andi Arief. Dilansir dari Suara.com, Selasa (6/9/2022).

Lebih lanjut Andi Arief juga membandingkan pemberian BLT oleh pemerintah Jokowi terkait dengan kepentingan politik partai penguasa, khusunya demi elektoral.

"Nah kalau sekarang saya melihat ada keinginan dari partai penguasa untuk meninabobokan rakyat untuk kepentingan elektoral," katanya menjelaskan.

"Jadi memanfaatkan kenaikan tanpa janji menurunkan harga, tapi mereka pasti akan menguasai pembagikan BLT atau bantuan-bantuan lainnnya untuk kepentingan elektoral, ini sifat kerakyatan yang dihianati," ujar Andi menambahkan.

Sebelumnya Andi Arief juga menyebutkan bahwa di era SBY kenaikan BBM juga diikuti penurunan harga BBM setelahnya.

Baca Juga: Walk-out dari Paripurna, Mulyanto: PKS Tolak Kenaikan BBM Subsidi

Lebih lanjut, kata Andi, di era SBY, pemerintah menjanjikan harga BBM akan turun seiring dengan turunnya minyak dunia.

"Dan itu dilakukan tiga kali menurunkan BBM," katanya.

Load More