/
Jum'at, 09 September 2022 | 12:05 WIB
Ilustrasi Poundsterling (Freepik)

SuaraSumedang.id - Negara yang baru saja ditinggalkan Ratu Elizabeth terancam resesi dan inflasi. Hal itu dikarenakan Poundsterling mata uang Inggris terendah dari dollar AS dalam 37 tahun.

Diketahui, ekonomi yang masih belum stabil serta ketegangan politik yang berimbas pada krisis energi di negara itu serta Eropa membuat Pounds semakin terpuruk.

Sejak 7 September lalu, pasca pemulihan sejak wabah Covid 19, Pounds bahkan sempat berada di angka US$ 1,1416. Hal ini dinilai jadi salah satu yang terburuk, usai rentetan reli penurunan sejak 13 Januari tahun ini.

Kemudian tampak konflik dengan Rusia yang tak kunjung usai, sekaligus ancaman musim dingin. Mengakibatkan ancaman nyata jutaan orang Inggris jatuh dalam kemiskinan karena biaya hidup yang melonjak.

PM Inggris yang baru, Liz Truss kabarnya tengah mempertimbangkan komitmen £150 miliar ($172 miliar atau sekitar 2.551 triliun/1,5 kuadriliun untuk mengatasi lonjakan harga energi.

Saat ini, negara yang baru saja ditinggalkan Ratu Elizabeth ini memiliki pinjaman yang menumpuk meski tetap mendapatkan kepercayaan investor meski kondisi ekonomi negara itu memburuk.

Melansir Suara.com Jumat (9/9/2022), Bank of England mungkin akan menaikkan suku bunga lebih agresif guna menahan inflasi. meski hal itu berpotensi mengganggu ekonomi negara.

Load More