/
Rabu, 05 Oktober 2022 | 16:46 WIB
Aparat keamanan menembakkan gas air mata untuk menghalau suporter yang masuk lapangan usai pertandingan sepak bola BRI Liga 1 antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu (1/10/2022). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/tom.

SuaraSumedang.id - Tragedi di Stadion Kanjuruhan yang menewaskan ratusan orang hingga saat ini masih jadi sorotan publik.

Bagaimana tidak? peristiwa mematikan tersebut bahkan sampai disorot oleh presiden induk sepak bola dunia, FIFA.

Beberapa tokoh tanah air pun turut pula memberikan komentar atas adanya insiden tersebut, satu di antaranya datang dari anggota DPR RI, Fadli Zon.

Anggota DPR RI Fraksi Gerindra tersebut secara gamblang membeberkan soal kunci dari adanya tragedi di Kanjuruhan.

Fadli Zon mengatakan bahwa gas air mata yang ditembakkan kepolisian adalah penyebab utama peristiwa di sana.

Diketahui asap maut dari gas air mata yang menyesakan itu diduga menjadi penyebab terbesar jatuhnya korban nyawa hingga lebih dari 100 orang.

"Menurut saya kuncinya jelas di situ gas air mata. Penerapan gas air mata di lapangan yang kabarnya itu tidak diperbolehkan oleh FIFA sendiri jelas," kata Fadli. Dilansir dari Suara.com, Rabu (5/10/2022).

Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen ini mempertanyakan aparat kepolisian soal penanganan yang mereka lakukan.

"Kenapa, misalnya kalau untuk mempersiapkan, mengantisipasi itu bukan water cannon, bukan air yang netral. Tentu enggak akan banyak korban, apalagi sampai meninggal," kata Fadli menambahkan.

Baca Juga: Bek Persib Rachmat Irianto Dilarikan ke Rumah Sakit Akibat Muntaber

Oleh sebab itu, kata dia, investigasi dalam tragedi tersebut cukup to the point saja, tidak perlu bertele-tele.

Bukan tanpa alasan, lanjut Fadli, sebab dan akibat daripada tragedi tersebut pun sudah diketahui.

Dia pun mengatakan, pihak yang bertanggung jawab sudah seharusnya segera ditetapkan.

"Seharusnya bisa secara cepat, paling tidak siapa yang bertanggung jawab supaya ini tidak terulang lagi. Kalau mutar-mutar kemudian tidak jelas atau dicari kambing hitam, salah menyalahkan," pungkasnya.

Load More