SUARA SUMEDANG - Indonesia terdiri berbagai pulau, suku, budaya dan agama. Semua itu tidak terlepas dari para pendahulunya, baik itu zaman kerajaan maupun zaman penjajahan. Tidak heran kita sering menjumpai beberapa peninggalan berupa karya tangan menjadi suatu temuan mengundang detak takjub di masyarakat lokal maupun internasional seperti contoh Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan lain-lain.
Sampai saat ini sering kita jumpai di pemberitaan media cetak maupun media elektronik adanya penemuan-penemuan arkeologi baik itu dilakukan secara sistematis dalam arti adanya penelitian oleh para ahli atau ditemukan oleh warga sekitar yang tidak sengaja menggali atau menjumpai peninggalan zaman kerajaan atau zaman penjajahan.
Penemuan-penemuan tersebut menjadikan destinasi wisata unggulan yang dikelola baik oleh pemerintah desa, daerah hingga pusat. Dari destinasi wisata baru ini mampu menambah pendapatan daerah maupun mengangkat perekonomian masyarakat desa melalui kunjungankunjungan wisatawan lokal maupun asing.
Menurut hemat penulis Tuban memiliki wilayah yang sangat berpotensi untuk mengembangkan wisata desa. Secara geografis Tuban sangat mudah untuk di akses oleh masyarakat karena masuk di jalan pantura yang mana hampir seluruh jalur darat yang
menghubungkan antar provinsi.
Selama ini Tuban menonjolkan wisata religi yang notabene hanya satu kelompok agama saja yang memiliki keinginan berkunjung. Pada akhirnya jarang orang atau masyarakat mengetahui Tuban, semisal penulis ketika kita keluar atau merantau di daerah lain bertemu dengan orang mereka bertanya dari mana dan di jawab dari Tuban, mereka kembali
bertanya Tuban itu dari mana ya.
Ini artinya masih banyak yang belum tau mengenai Tuban. Berbeda dengan zaman dahulu di era massa kerajaan siapa orang yang tidak tau Tuban hampir jawabannya tidak ada, karena Tuban di era itu sebagai pusat perekonomian terbesar di wilayah
Jawa dan sekitarnya.
Saat ini Tuban tertinggal jauh dari Kabupaten tetangga yang hampir semua berlombalomba mendirikan destinasi wisata baru semisal Bojonegoro dengan Go Fun dalam hitungan bulan langsung booming, masyarakat berbagai daerah berbondong-bondong untuk melihat langsung keindahan seni cahaya lampu yang ditawarkan.
Sejauh ini Kabupaten Tuban sebenarnya memiliki potensi wisata alam di berbagai wilayah daerah yang sangat luar biasa indah. Semisalnya Pantai Boom yang terletak Desa Kutorejo, Pantai Kelapa terletak di Desa Panyuran, Pantai Cemara terletak di Desa Sendang Harjo, Pantai Sowan terletak di Desa Bogorejo, Pantai Pasir Putih yang terletak di Desa Remen, Air terjun Ngelirip
terletak di Desa Mulyo Agung, Air terjun Lembah Bongkok yang terletak di Jetak, Goa Ngerong yang terletak di Desa Gebong, Goa Akbar yang terletak di Tuban, Goa Putri Asih yang terletak Desa
Nguluhan, Goa Suci yang terletak di Desa Wangun dan lain-lain.
Namun secara garis besar wisata alam yang sering di kunjungi warganya sebagian besar di sebutkan diatas.
Sebagian wisata diatas sudah semakin berkembang namun juga ada yang sangat perlu diperhatikan oleh pemerintah dan masyarakat dalam perkembangan wisata alam yang akan di suguhkan. Kali ini penulis akan membahas salah satu potensi wisata alam di Desa Wangun sedikit banyak orang mengetahui keberadaan dan menikmati keindahan Goa Suci serta potensi-potensi
yang ada di desa tersebut.
Baca Juga: Viral Rombongan Mobil Mewah Putar Balik-Lawan Arah di Tol Desari, Polisi Telusuri
Desa Wangun adalah bagian dari salah satu wilayah Kabupaten Tuban yang memiliki luas wilayah administrasi 775,5 Ha dengan batas wilayah sebelah Utara berbatasan dengan Desa Cepokorejo, sebelah Barat berbatasan dengan Desa Leran Wetan, sebelah selatan berbatasan dengan desa Mlangi dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Cepokorejo. Sedangkan jumlah
penduduk desa wangun mencapai 3377 yang terdiri dari 1689 laki-laki dan 1688 perempuan.
Konon ceritanya Asal mu asal keberadaan nama desa Wangun berawal dari segerombolan kelompok orang yang tidak diketahui dari mana ia berasal namun, biasanya berdagang menggunakan alat transportasi Cikar, orang-orang sering memanggilnya dengan sebutan orang kalang , dengan seringnya mereka lalu lalang di area tersebut muncul suatu gagasan mendirikan pemukiman dengan pagar bambu atau disebut dengan wangunan oleh orang2 tersebut.
Setelah sukses mendirikan pemukiman tersebut dengan pagar wangunan, datang seorang perempuan janda dengan seorang anak laki-laki yang konon katanya memiliki kesaktian diatas kemampuan orang-orang. Karena kesaktian yang dimiliki beliau di panggil dengan sebutan Mbok nyai oleh masyarakat sekitar.
Mbok nyai sendiri memiliki kebiasaan membersihkan semak belukar untuk dijadikan suatu lahan pertanian dan rumah peristirahatan beliau, singkat cerita beliau bertempat persis di samping orang kalang. Ketika beliau sedang membakar sisa dedaunan berkata seluruh wilayah yang terkena abu pembakaran daun tersebut menjadi wilayah mbok nyai. Ternyata abu tersebut masuk di wilayah orang kalang sehingga orang kalang tersebut meninggalkan pemukiman yang mereka dirikan.
Pada suatu hari Mbok Nyai bersama kerabatnya menelusuri abu hasil bakarannya, bertemulah wilayah yang sangat luas akhirnya beliau ingat kata wangunan dari orang kalang sehingga beliau memberi nama wilayah tersebut wangun. Beliau mendidikasikan seluruh raga dan jiwanya di wangun hingga ajal menjemput. Saat beliau wafat dibuatkan sebuah makam beserta
cungkup krepyak dan di sekitar makam mbok nyai di jadikan pemakaman umum hingga saat ini.
Desa Wangun memiliki beberapa peninggalan atau napak tilas peninggalan zaman kerajaan Majapahit yang terletak di Dusun Suci berupa Goa, orang-orang sekitar sana menyebutnya sebagai Goa Suci. Berbagai sumber mengatakan goa tersebut menjadi tempat semedi (orang bertapa) mendekatkan diri pada sang pencipta yang dilakukan oleh para tetua Kerajaan Majapahit ada pula yang mengatakan bahwa goa tersebut sebagai tempat persembunyian atas pemberontakan yang di lakukan oleh Ronggolawe di saat Majapahit di pimpin oleh Minak Jinggo.
Berita Terkait
Terpopuler
- Rumor Cerai Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Memanas, Ini Pernyataan Tegas Sang Asisten Pribadi
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- 6 Sepeda Lipat Alternatif Brompton, Harga Murah Kualitas Tak Kalah
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
Pilihan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
-
Gempa M 4,2 Guncang Pacitan Terasa hingga Yogyakarta: 7 Orang Luka dan Sejumlah Bangunan Rusak
-
Hakim PN Depok Tertangkap Tangan Terima Ratusan Juta dari Swasta, KPK Lakukan OTT!
-
Hakim di PN Depok Tertangkap Tangan KPK, Diduga Terlibat Suap Ratusan Juta!
-
Eks Asisten Pelatih Timnas Indonesia Alex Pastoor Tersandung Skandal di Belanda
Terkini
-
Pemerintah Catat Belanja Nasional Capai Rp 393,78 T Sepanjang 2025
-
Wamensos Salurkan Santunan Duka Korban Longsor Cisarua
-
Gegap Gempita Jakarta Sambut Imlek: Ada 'Kuda Raksasa' hingga Festival Barongsai di Sudirman-Thamrin
-
3 Jenis Kecelakaan yang Ditanggung Jasa Raharja, Apakah Tabrakan Tunggal Termasuk?
-
Terpopuler: Gempa Pacitan Sebabnya Apa? Black Shark Gahar Muncul
-
7 Drama MBC yang Tayang di 2026, Ada Perfect Crown hingga Your Ground
-
Lelah Seharian? Ini 5 Pilihan Drama Korea Dunia Kerja dengan Kisah Menyentuh
-
6 Harga Baterai Mobil Listrik 2026: Mulai Rp100 Juta, Mana Paling Worth It untuk Kamu?
-
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
-
5 Rekomendasi Smart TV 55 Inch Murah untuk Netflix and Chill