TANTRUM - Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia, Tedy Hidayat menyatakan orang yang berusia 60 tahun ke atas, atau sering disebut lansia, rentan terpapar gangguan kejiwaan.
Menurut Tedy, sejumlah gangguan jiwa yang sering terjadi terhadap lansia, yaitu hilangya kepercayaan diri, diikuti dengan peningkatan emosi yang sering disebut depresi.
"Yang pertama adalah depresi pada usia lanjut yang kedua demensia atau pikun. Nah, kalau yang depresi pada usia lanjut biasanya berhubungan dengan pensiun, pendapatan berkurang, biasanya menduduki jabatan bahkan dihormati sekarang tidak ada lagi yang menyapa dia, tidak ada lagi yang menelepon dia," ujar Tedy ditulis Bandung, Rabu, 18 Mei 2022.
Tedy mengatakan beberapa ciri lansia terpapar gangguan jiwa, berupa depresi yaitu sering marah tanpa sebab setiap harinya, berpandangan negatif terhadap suatu masalah dan menyalahkan orang lain.
Tedy menyebutkan, salah satu cara agar lansia tidak terpapar gangguan jiwa adalah, dengan meningkatkan kualitas hidup secara kejiwaan dan fisik.
"Dengan adanya indikasi tersebut, sudah saatnya pemegang kebijakan membuat program kota ramah untuk lansia, agar keberadaannya merasa diakui," kata Tedy.
Selain lansia, Tedy mengungkapkan beberapa kelompok yang dapat terpapar masalah kejiwaan.
Salah satunya kelompok pekerja sosial yang sering kali harus berhadapan langsung dengan masyarakat dianggap rentan terpapar gangguan kejiwaan.
"Gangguan ini disebabkan, para pekerja sosial ini harus rela melihat, mendengar dan merasakan langsung keluhan atau pun peristiwa yang dialami oleh masyarakat," ucap Tedy.
Semua hal tersebut menyebabkan pekerja sosial secara tidak langsung diwajibkan untuk mengesampingkan kepentingan pribadinya, baik secara fisik dan batin.
Tedy menuturkan profesi pekerja sosial yang rentan terpapar gangguan kejiwaannya ini seperti anggota SAR, Pemadam Kebakaran, relawan bencana, PMI serta polisi dan lain sebagainya.
"Mereka itu harus melihat secara langsung kejadian yang sebenarnya karena pekerjaan mereka. Seperti melihat darah, ceceran bagian tubuh yang terpisah, mengangkat korban kecelakaan yang sedang trauma. Bahkan ada pula yang dimarahi masyarakat karena dianggap tidak sempurna dalam menjalankan tugas," ungkap Tedy.
Tedy menyebutkan dampak gangguan kejiwaan akibat ikut menjalani peristiwa yang tidak normal saat bertugas, tidak serta merta langsung terdeteksi.
Karena biasanya bagi seseorang yang pertama kali melihat persitiwa traumatis, hanya berdampak pada perubahan kegiatan rutin sehari - harinya.
Namun kata dia, dampak umum gangguan kejiwaan yang dialami oleh para pekerja sosial itu terlihat dari pola makan, tidur dan lambat laun dalam perilakunya.
"Yang biasanya senang mengkonsumsi daging, akhirnya berhenti karena sehari sebelumnya melaksanakan tugas evakuasi mayat. Kalau manusia normal tidur nyenyak, pekerja sosial ini sering bermimpi dengan kejadian - kejadian traumatik sebelumnya. Namun karena tuntutan pekerjaan maka seluruh kejadian abnormal itu menjadi hal lumrah," tutur Tedy.
Paparan peristiwa traumatik itu jelas Tedy akan mengubah perilaku bahkan gaya hidup seseorang, seperti halnya para pekerja sosial.
Awalnya, mereka tidak menyadari adanya gangguan jiwa tersebut. Tetapi seiring waktu, gangguan jiwa itu dapat dilihat dari apa yang sehari - hari dilakukan.
Seperti adanya ketergantungan atas suatu minuman atau makanan, sering bermimpi hal yang sama secara berulang, bahkan yang parah adalah sering berhalusinasi.
"Seperti suka mendengar suara - suara disekitarnya yang sebenarnya tidak ada. Gangguan jiwa akyut lainnya adalah berbicara seakan ada teman yang sedang berhadapan," jelas Tedy.
Ganggguan kejiwaan tersebut dipicu akibat tidak adanya lagi saringan kejadian atau informasi yang diterima karena tuntutan pekerjaan yang tidak boleh dipilah. Pada dasarnya setiap kejadian, informasi maupun peristiwa memiliki prioritas yang primer.
Tak hanya para pekerja sosial yang rentan terpapar gangguan kejiwaan, profesi jurnalis juga menurut Tedy, berpotensi memiliki penyimpangan kesehatan jiwa.
"Para pekerja media ini menerima apapun bentuk informasi dalam skala tak penting sampai sangat penting. Alasannya ya tuntutan pekerjaan. Ada bencana datang, ke pusat keramaian datang tanpa mengindahkan kepentingannya sendiri," jelas Tedy.
Berita Terkait
-
Panduan Lengkap Bayar Fidyah Lansia: Takaran dan Ketentuannya
-
5 Fakta Video Viral Lansia Dituduh Jukir Liar di Jakarta Utara, Ternyata Pensiunan Guru
-
Indeks Keselamatan Jurnalis 2025 Soroti Impunitas, Swasensor, dan Pola Ancaman Baru
-
Indeks Keselamatan Jurnalis 2025: Swasensor dan Narasumber yang Diam Jadi Tantangan Baru
-
Kebebasan Pers Memburuk, Skor IKJ 2025 Terendah Sepanjang Sejarah
Terpopuler
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
- 7 HP Flagship Terkencang Versi AnTuTu Februari 2026, Jagoannya Gamer dan Multitasker
- Kenapa Pajak Kendaraan Jateng Naik, tapi Jogja Tidak? Ini Penjelasannya
Pilihan
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
Terkini
-
5 Parfum Halal untuk Salat Tarawih, Bikin Ibadah Makin Nyaman di Bulan Ramadan
-
Bukan Sekadar Hujan Biasa! Ini Alasan Ilmiah BMKG Prediksi Curah Hujan Ekstrem Pekan Depan
-
Dialog dengan Wakil Presiden RI dan Kementerian Pariwisata, InJourney Paparkan Usulan Strategis
-
Menembus Batas Thriller, Film Lift Sajikan Aksi Silat Lidah hingga Ambisi Penguasa
-
Bamsoet Sebut Prabowo Ogah Punya Lawan, Singgung Tom Lembong dan Hasto Kristiyanto
-
Riza Patria Soroti Perjalanan Politik Prabowo dan Pesannya bagi Para Taipan
-
5 Base Ombre Terbaik untuk Menutupi Bibir Gelap agar Hasil Lebih Mulus & Flawless
-
Apakah Menangis Membatalkan Puasa? Ini Penjelasan dan Hukumnya Menurut Ustaz
-
4 Game Baru Sega Siap Rilis hingga Maret 2027, Ini Bocorannya
-
Terluka Bertubi-tubi di Novel Asavella Karya Alfida Nurhayati Adiana