TANTRUM - Uji klinis obat untuk rematik (artritis rematoid) bernama neo tocilizumab dilakukan oleh Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
Rumah sakit milik Kementerian Kesehatan itu mejadi sentral penelitian nasional uji klinis obat untuk rematik.
Obat neo tocilizumab ini sebenarnya sudah digunakan di luar negeri terutama Eropa. Namun kini di Indonesia tengah dilakukan penggunaannya.
"Persiapannya sudah dilakukan sejak bulan Oktober 2010. Setelah semua ahli dan berbagai pihak, dilakukan penyeleksian pasien," ujar dokter divisi Remato RSHS Bandung Rachmat Gunadi ditulis Bandung, Senin, 27 Juni 2022.
Rachmat mengatakan syarat bagi pasien yang dapat mengikuti uji klinis sebelumnya adalah penderita artritis rematoid.
Penyakit yang dideritanya kata Rachnat, sudah dilakukan pengobatan minimal 5 bulan ternyata tidak menunjukkan respon yang memadai.
Syarat yang terakhir lanjut Rachmat, yaitu keamanan organ-organ tubuhnya terjamin. Artinya tidak mempunyai penyakit infeksi trutama TBC.
"Walaupun obat ini relatif lebih aman karena tidak menyerang organ lain," kata Rachmat.
Rachmat menerangkan Ikatan Rematologi Indonesia (IRI) menginginkan adanya uji klinis terlebih dahulu, sebelum diajukan ke badan POM.
Baca Juga: Awasi Pembelian Migor Curah Lewat PeduliLindungi dan KTP, DPR: Mesti Dicoba Dulu Efektif atau Tidak
Obat ini diujikan kepada 40 orang yang dilakukan di lima senter yaitu Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Malang dan Jakarta. Di RSHS sendiri pasien peserta uji klinis ini berjumlah 8 orang.
Rachmat menuturkan terapi yang dilakukan yaitu pemberian obat selama enam kali dengan jarak empat minggu.
"Dikisaran waktu satu sampai dua bulan setelah pemberian obat yang ke enam, dilakukan pengamatan lagi," ungkap Rachmat.
Beradasarkan literatur tambah Rachmat, pasien yang menjalani terapi ini dapat merasakan perubahan setelah minggu kedua.
Seperti penurunan kekakuan sendi-sendi sampai setengahnya, bengkak-bengkah pada sendi akan berkurang, nyerinya berkurang, well being (perasaan sehat) lebih terasa setelah bulan kedua.
Nantinya hasil dari uji klinis ini akan dianalisis bersama, lalu akan dumuat di jurnal ilmiah, lalu dilaporkan ke Kementerian Kesehatan dan Balai POM.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Fasilitas Gas Alam AS Diduga Diserang Drone Iran, Donald Trump: Saatnya Pembalasan!
-
5 Pilihan Warna Lipstik yang Tidak Bikin Pucat untuk Kulit Kuning Langsat
-
Investor Asing Soroti Pengunduran Diri Perry Warjiyo, Pengganti Gubernur BI Harus Berpengalaman
-
Awet 16 Jam! Ini Cara Pakai Maybelline Superstay Matte Ink biar Flawless
-
The Fed Tahan Suku Bunga, Investor Mendadak Malah Panik dan Bingung!
-
Profil Lengkap Skuat Timor Leste: Ada Pemain Liga Tarkam Inggris, Ancaman Buat Timnas Indonesia?
-
Investor Kripto RI Tembus 22,4 Juta, Pengguna Platform Pasar Wajib Paham Kepatuhan Hukum
-
4 Rekomendasi Shade Maybelline Superstay Vinyl Ink untuk Bibir Gelap, Pigmentasi Juara
-
Piala Presiden 2026: Persebaya Pastikan Tiket Semifinal usai Tekuk PSMS
-
Mengapa Harus Reapply Sunscreen Setiap 2 Jam Sekali? Ini 5 Alasan Pentingnya