/
Rabu, 29 Juni 2022 | 14:50 WIB
suara.com

TANTRUM - Pergantian terjadi di jajaran direksi Bursa Efek Indonesia (BEI), setelah Inarno Djajadi yang akan menjabat sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Bursa Efek Indonesia (BEI) 2022 menetapkan Iman Rachman menjadi Direktur Utama BEI Periode 2022, serta I Gede Nyoman Yetna, Kristian Sihar Manullang, Risa Effennita Rustam, Irvan Susandy, Sunandar, dan Jeffrey Hendrik, sebagai direktur BEI Periode 2022-2026. 

Iman Rachman sebelumnya menjabat sebagai Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero). Iman menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Bandung, Jawa Barat (1995), lalu meraih gelar Master of Business Administration in Finance dari Leeds University Business School, Leeds, West Yorkshire, Inggris (1997).

Sejumlah posisi direksi yang pernah dijabat Iman antara lain Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (2019—2020), Direktur Keuangan PT Pelabuhan Indonesia II (2016—2018), dan Direktur Investment Banking PT Mandiri Sekuritas (2003—2016).

"Tim yang ada saat ini sangat mengapresiasi direksi sebelumnya dan kami sangat yakin apa yang telah dicapai oleh direksi sebelumnya itu pasti akan kami tindaklanjuti,"  katanya di Jakarta, Rabu, 29 Juni 2022.

Iman menyampaikan selain melanjutkan program-program strategis, pihaknya juga akan bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan serta melakukan inovasi produk-produk di pasar modal.

"Sebagai direksi periode 2022-206, sebagian dari kami akan melanjutkan sehingga ada kesinambungan direksi sebelumnya. Tiga dari tujuh direksi yang ada adalah direksi pada periode sebelumnya. Artinya kami berkeyakinan kita akan bisa memastikan keberlanjutan program," kata Iman.

Ia berjanji akan memastikan seluruh direksi bisa melaksanakan semua rencana strategisnya. Misalnya, bursa akan melakukan peningkatan efisiensi selaku wadah bagi perusahaan untuk menghimpun permodalan. Iman berharap BEI bisa menjadi bursa yang atraktif bagi perusahaan untuk mencatatkan sahamnya atau listing.

"Kami juga akan melakukan peningkatan likuiditas perdagangan. Oleh karena itu, kami berharap target-target direksi bisa dipenuhi," ujar Iman.

Baca Juga: Selain Bahas KTT G20, Lawatan Jokowi ke Tiongkok Juga Bahas Ini

Selain itu, pihaknya mencoba menangkap aspirasi target indikator di pasar modal dari Anggota Dewan Komisioner OJK yaitu mencapai kapitalisasi pasar Rp 15.000 triliun pada 2027.

"Kapitalisasi pasar pada 2026, kami harapkan bisa capai Rp 13.500 triliun dengan jumlah investor meningkat lebih dari dua kali dibanding saat ini. Sementara jumlah emiten meningkat lebih dari 100 persen pada 2026," ungkapnya.

Load More