/
Jum'at, 22 Juli 2022 | 20:21 WIB
Komite Mahasiswa Anti Korupsi (Komasi) mendatangi Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Komasi)

TANTRUM - Massa aksi yang tergabung dalam Komite Mahasiswa Anti Korupsi (Komasi) mendatangi Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), di Menteng, Jakarta Pusat. 

Sekelompok orang tersebut kesekian kalinya demo meminta Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa untuk mundur dari jabatannya. 

Suharso diminta mundur karena diduga melakukan korupsi, seperti penyalahgunaan jabatan hingga kejanggalan peningkatan harta kekayaan.

Penyalahgunaan wewenang yang dimaksud adalah, terkait penggunaan pesawat jet untuk kepentingan pribadi dan dimaksudkan sebagai gratifikasi.

Selain itu, dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) yang dikeluarkan KPK terdapat kejanggalan. 

Pada 2018 Suharso memiliki kekayaan sebesar Rp 84 juta, namun dalam waktu singkat (2019) kekayaannya meningkat drastis menjadi Rp 59 miliar.

Menurut para demonstran, aksi juga akan terus berlangsung hingga Suharso mundur dari jabatannya dan KPK melanjutkan penyelidikan kasus tersebut.

Rentetan aksi juga telah dilakukan di depan Gedung Bappenas dan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Sebelumnya, Kantor DPP PPP di Menteng pada Senin, 18 Juli 2022 didatangi para kader yang mentuntut agar Suharso Monoarfa mudur dari jabatan sebagai Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Baca Juga: Berantas DBD tidak Hanya Fogging

Kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Nizar Dahlan mengajukan permohonan praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 

KPK pada tanggal 16 November 2020 sempat mengundang Nizar atas laporannya terhadap Suharso tersebut.

Ketua Bidang Advokasi dan Hukum Kaukus Muda PPP Hammam Asy'ari pada tanggal 9 November 2020 menyatakan, laporan dugaan gratifikasi Monoarfa itu ngawur.

Load More