SuaraTasikmalaya.id – Saat bulan suci Ramadhan datang, setiap umat muslim diwajibkan untuk berpuasa, menahan makan dan minum sejak sahur hingga waktu berbuka.
Namun, hal ini kerap kali menimbulkan bau mulut yang menganggu kepercayaan diri seseorang. Bau mulut dapat terjadi karena berbagai alasan, termasuk pola makan yang tidak sehat, kebersihan gigi dan mulut yang buruk, serta dehidrasi.
Selama puasa, kecenderungan untuk makan makanan yang tinggi gula dan karbohidrat dapat meningkatkan risiko terjadinya bau mulut. Kondisi ini akan semakin diperparah jika tidak dilakukan perawatan gigi dan mulut yang baik.
Menurut Dr. Muhammad Agus Susanto, M.Kes., seorang ahli gizi dari Universitas Airlangga, menjaga kebersihan mulut dan gigi sangat penting selama puasa.
Dia menekankan bahwa penggunaan pasta gigi yang mengandung fluoride dan menyikat gigi dengan benar, setidaknya dua kali sehari adalah kunci untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut selama berpuasa.
Adapun beberapa hal yang bisa dilakukan agar bau mulut tetap segar, diantaranya adalah:
1. Menggosok gigi secara teratur: Ahli kesehatan gigi merekomendasikan menggosok gigi setidaknya dua kali sehari, termasuk setelah sahur dan berbuka puasa. Hal ini dapat membantu menghilangkan bakteri yang dapat menyebabkan bau mulut.
2. Membersihkan lidah: Lidah dapat menjadi tempat berkembang biaknya bakteri dan sisa makanan, sehingga penting untuk membersihkannya setiap hari. Cara termudah untuk membersihkan lidah adalah dengan menggunakan sikat gigi atau penggaruk lidah khusus.
3. Berkumur-kumur dengan air garam: Berkumur-kumur dengan air garam hangat dapat membantu membersihkan mulut dari bakteri dan menghilangkan bau mulut. Campurkan satu sendok teh garam dalam segelas air hangat, lalu berkumur-kumur selama beberapa menit sebelum memuntahkan air.
Baca Juga: Catat! Pemkot Semarang Larang Bagi Takjil di Jalanan, Mbak Ita Ungkap Alasan Pentingnya
4. Menghindari makanan dan minuman yang dapat menyebabkan bau mulut: Hindari makanan dan minuman yang tinggi gula dan karbohidrat, seperti permen dan minuman bersoda, karena dapat meningkatkan risiko terjadinya bau mulut.
5. Meningkatkan konsumsi air: Selama puasa, tubuh cenderung mengalami dehidrasi, yang dapat menyebabkan mulut menjadi kering dan bau mulut. Pastikan untuk minum cukup air setiap hari untuk menjaga kelembaban mulut dan mencegah bau mulut. (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Menyoal PHK 178 Buruh Garmen di Cimahi, Dedi Mulyadi Minta Pekerja Fleksibel Ikuti Peta Industri
-
Kronologi Misteri Jasad Mutilasi dalam Karung di Pancoran Mas Depok
-
Final Piala Presiden 2026 Antara Persib vs Persebaya Digelar Tanpa Penonton, Ini Alasannya
-
Potongan Kaki Masih Dicari, Polisi Buru Motif Pelaku Mutilasi Pria Tanpa Identitas di Depok
-
Lawan Kejagung dan Polri, Sidang Perdana Praperadilan Febrie Digelar Usai HUT RI
-
Waktu Istirahat Minim Jelang Final, Pelatih Persib: Mari Kita Lihat Siapa yang Bisa Bertahan
-
Gubernur Andra Soni Sebut Gedung Baru DPD RI Rp4,1 M Kebutuhan Daerah, Bukan Senator
-
Pelaku Mutilasi Depok Semula Korban? Polisi Diminta Uji Klaim Percobaan Pelecehan
-
Soroti Kasus 46 Juta Obat Ilegal di Tangsel, DPR: Bongkar Mata Rantai Distribusi Sampai ke Akar!
-
BRI Perkuat Sinergi dengan Ditjenpas DIY Melalui Optimalisasi Layanan Pemasyarakatan