Suara.com - Ketika berita tentang aksi peretasan email oleh NSA, badan sandi negara Amerika Serikat, terbongkar tahun lalu, sejumlah ilmuwan di laboratorium fisika partikel (CERN) di Swiss terkejut. Mereka khawatir email-emailnya juga diretas oleh NSA.
Andy Yen PhD, salah satu peneliti muda, lalu mengajak koleganya berdiskusi soal masalah itu. Setelah berdiskusi panjang, dia dan lima pakar fisika lainnya mulai mengembangkan konsep dan menciptakan layanan email baru yang dinamai "ProtonMail".
Layanan email itu tidak berbeda dengan Gmail milik Google, tetapi sistem ProtonMail menggunakan kode enkripsi dari hulu hingga ke hilir, sehingga hampir mustahil untuk diretas.
"Kami mengenkripsi data di browser sebelum email sampai ke server. Saat data tiba di server, dia sudah dienkripsi. Jadi jika seseorang datang kepada kami dan ingin membaca email seseorang, maka yang ada hanya data yang sudah disandi dan kami tidak punya kunci untuk membuka sandi itu," kata Yen dalam wawancara dengan Forbes.
"Kami pada dasarnya memisahkan pesan yang telah terenkripsi dengan kuncinya. Semua proses enkripsi berlangsung di dalam komputer Anda, bukan di server kami. Jadi tidak mungkin kami bisa melihat email Anda," jelas Yen.
Menurut Yen sistem yang mereka gunakan berbeda dari sistem lain. Gmail misalnya, meski mengaku sudah mengenkripsi email-emailnya, mereka tetap punya kunci untuk memecahkan sandi-sandi tersebut, dan mengakses email yang masuk dalam server mereka.
ProtonMail juga bisa menjadi alternatif jika Anda muak dengan layanan email gratis yang dipenuhi dengan iklan.
"Anda dipaksa untuk mempercayai Google. Google menghasilkan uang dengan memindai email-email Anda dan merecoki Anda dengan iklan berdasarkan pada apa yang Anda tulis dalam email. Gmail membaca membaca dan memanfaatkan email-email Anda," beber Yen.
Server-server ProtonMail juga sengaja disimpan di Swiss, meski sebagian besar pendiri sudah menjadi peneliti di Massachusetts Institute of Technology, AS. Alasannya tidak lain adalah faktor keamanan, karena Swiss melarang pemerintah memata-matai warganya atau menyita server seperti yang lazim terjadi di AS.
Sebagian besar tim ProtonMail hanya bekerja paruh waktu untuk mengembangkan layanan email itu.
"Kami semua adalah ilmuwan di CERN atau di MIT. Jadi kami meneliti soal komputasi, matematika, dan fisika yang sebenarnya sangat berkaitan dengan mengembangkan layanan email yang aman. Enkripsi sangat matematis, jadi ada empat doktor bidang fisika yang menangani enkripsi," ungkap Yen.
ProtonMail baru saja diluncurkan secara global dan kini Yen dkk sedang mengembangkan aplikasi untuk Android dan iPhone. Rencananya aplikasi mobile itu rampung akhir musim panas tahun ini.
Yen juga mengatakan permintaan untuk layanan email mereka itu sangat tinggi dan melampaui perkiraan. Permintaan terutama banyak datang dari Cina, yang pemerintahnya sangat ketat menyensor internet.
"Kini pengguna kami hampir 20.000 orang dan kami pernah menutup pendaftaran untuk sementara untuk menambah kapasitas server," tutup dia.
ProtonMail sendiri tersedia secara gratis. Biaya hanya dipungut jika pengguna ingin menambah kapasitas penyimpanan mereka.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan
-
Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap
-
Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta
-
Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda
-
Presiden Prabowo Subianto Sindir Wartawan Saat Bahas Tentang Kampanye Besar di Pidatonya
-
Hari Anak Nasional, Saatnya Perluas Ruang Belajar dan Kolaborasi untuk Dukung Tumbuh Kembang Anak
-
Honda ADV160 Ternyata Sanggup Tenggak Etanol 85 Persen, Harga Jauh Lebih Murah
-
Kulit Bersih Tanpa Rasa Kering dan Tertarik, Ini Pentingnya Memilih Cleansing Balm yang Gentle
-
Baru IPO, Emiten RANS Sudah Gonjang-ganjing! Satu Direktur Pilih Mundur