Suara.com - Ilmuwan di Eropa yakin bahwa operasi transplantasi kepala manusia akan bisa digelar dalam dua tahun ke depan. Sergio Canavero, dokter ahli bedah dari Turin Advanced Neuromodulation Group di Italia, mengungkapkan gagasannya tentang tranplantasi atau cangkok kepala manusia untuk membantu orang-orang yang menderita penyakit akut.
Gagasan Canavero itu pada dasarnya adalah memindahkan kepala seorang manusia ke tubuh baru dari donor yang telah meningggal. Meski demikian, ide itu memantik banyak penolakan karena secara etika dinilai tak pantas.
"Jika masyarakat tidak menginginkannya, saya tak akan melakukannya. Tetapi jika masyarakat tak menginginkannya, terutama di Amerika Serikat dan Eropa, tak berarti saya tak bisa melakukannya di tempat lain," kata Canavero kepada New Scientist.
Canavero sendiri berharap bisa membentuk sebuah tim untuk proyeknya itu dalam sebuah pertemuan para pakar bedah syaraf di Maryland, AS, Juni mendatang.
Ide tranplantasi kepala sebenarnya sudah pernah diwujudkan pada masa lalu. Pada 1950an, Vladimir Demikhov di Rusia berhasil memindahkan kepala seekor anjing ke tubuh anjing lain. Ia bahkan "menciptakan" anjing berkepala dua.
Sementara pada 1970, Robert White dari AS berhasil memindahkan kepala seekor kera ke tubuh kera lainnya. Tetapi sayang, hidup binatang malang itu tak berlangsung lama. Kera White hanya bertahan selama sembilan hari.
Proses yang rumit
Tetapi kegagalan White justru memberikan harapan untuk mewujudkan gagasan Canavero. Pada kasus White, ketidakmampuan para dokter pada zaman itu untuk menyambung syaraf-syaraf tulang belakang dari kepala dan tubuh kera menyebabkan binatang itu mati lebih cepat.
Berangkat dari kasus White itu, Canavero yakin bahwa teknologi medis dewasa ini sudah punya kemampuan cukup untuk menyambung syaraf-syaraf tulang belakang yang tak bisa dilakukan pada masa lalu.
"Menurut saya, kita saat ini berada di titik ketika semua aspek teknis mungkin dikerjakan," ujar Canavero.
Canavero sendiri dalam tulisannya di jurnal Surgical Neurology International edisi Februari, sudah menjelaskan teknik transplantasi kepala manusia. Pertama-tama, jelas Canavero, adalah menyimpan kepala pasien dan jenazah donor di dalam lemari pendingin. Ini dilakukan untuk mencegah agar sel-sel tak mati dalam proses bedah.
Setelah itu leher donor disayat, pembuluh-pembuluh darahnya dihubungkan dengan selang-selang kecil, dan kemudian tulang belakang dipotong menggunakan pisau yang sangat tajam, untuk meminimalisasi kerusakan syaraf. Setelah itu, kepala pasien lalu dipasangkan ke tubuh donor tadi.
Tahap setelahnya adalah yang paling penting. Canavero yakin bahwa syaraf-syaraf tulang belakang, yang membuat kepala pasien bisa berkomunikasi dengan tubuh donor, akan bisa direkatkan dengan syaraf-syaraf tulang belakang pada tubuh donor menggunakan sebuah zat yang disebut polyethylynene glycol. Agar pasien tak bergerak selama proses itu, ia akan sengaja dibikin koma selama berpekan-pekan.
Ketika pasien sadar Canavero yakin ia akan bisa berbicara dan merasakan wajahnya sendiri. Tetapi untuk menggerakan anggota-anggota tubuhnya yang baru, pasien akan menjalani fisioterapi selama hampir setahun.
Meski demikian, Canavero masih membutuhkan tubuh manusia untuk menguji teorinya itu. Sayangnya hingga saat ini, eksperimen semacam ini masih terkendala masalah etika.
"Masalah utamanya adalah etika. Apakah pembedahan ini perlu dilakukan? Tentu akan ada banyak orang yang tak sepakat," ujar dia, berusaha untuk memantik perdebatan di kalangan ilmuwan. (The Guardian/CNET)
Berita Terkait
Terpopuler
- Kinerja Tim Komunikasi Buruk, Prabowo Diingatkan Segera Reshuffle Seskab Teddy hingga Kapolri
- Ruben Onsu Jadi Tersangka Kasus Dugaan Penipuan, Bakal Dipanggil Polisi Minggu Depan
- 20 Kode Redeem FF Aktif 20 Agustus 2026: Klaim Item Langka dan Bundle Spesial
- Harga Serum Penghilang Flek Hitam yang Efektif dan Aman, Ini 5 Rekomendasi Produknya
- Warga Jogja Protes Desil Naik, Status Miskin Masuk Desil 9, Pemda DIY Minta BPS Klarifikasi
Pilihan
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
Terkini
-
Konflik Keraton Solo Memanas! Kubu PB XIV Purboyo Layangkan Somasi ke Gusti Moeng
-
Gibran Turun Gunung, Cicilan Utang Korban Gempa NTT Bakal Dapat Kelonggaran
-
Kritik Manis PAW Patrol: The Dino Movie: Kenapa Anak-anak Harus Selalu Terlihat Berguna?
-
Kendaraan Kustom Makin Marak di Jogja, Legalitas Masih Jadi PR Besar
-
Setelah 4 Tahun Terendam, Jalan Cipayung-Pasir Putih Akhirnya Dibuka Lagi
-
Tenaga Penjualan Jadi Kunci Penguatan Industri Asuransi Jiwa
-
Gamelan Makin Digandrungi di Amerika, Pakualaman Beri Peringatan Keras ke Warga Lokal
-
OSL Indonesia Bidik Peluang Tokenisasi Aset di Tengah Pertumbuhan Ekonomi Digital
-
3 Rekomendasi Bedak Emina untuk Remaja dan Anak Sekolah, Ringan Bikin Wajah Fresh
-
Transaksi Saham BEI Makin Ramai, IHSG Naik 1,93 Persen Sepekan