Pemimpin jenis ini umumnya rentan terhadap rasa puas diri dan menunda-nunda (complacency), yang merupakan bentuk bias kognitif yang membuat seseorang percaya bahwa mereka memiliki kemungkinan kecil terkena masalah dibandingkan orang lain.
Ketika berbagai berita terkait Covid-19 di Tiongkok membanjiri layar kaca dan media sosial pada Januari, Trump di AS, Perdana Menteri Boris Johnson di Inggris dan Presiden Joko Widodo di Indonesia sangat optimistis dan cenderung naif berpikir bahwa semua akan baik-baik saja dan yakin wabah tidak akan menghantam negara mereka.
Kendati memiliki kapasitas luar biasa besar, pemerintahan Trump menunda respon terhadap wabah. Dia gagal mempersiapkan kebijakan fiskal, alokasi sumber daya, dan logistik, serta gagal mengambil langkah keimigrasian yang perlu pada Januari dan Februari. Akibat kelalaiannya, saat ini AS menjadi negara dengan kasus kematian tertinggi di dunia.
Jokowi praktis menganggap remeh peringatan-peringatan sejak awal mula wabah, serta menunda penyiapan sistem kesehatan secara menyeluruh termasuk mempersiapkan fasilitas uji kesehatan sejak dini. Akibatnya, Indonesia kini memiliki tingkat kematian tertinggi di dunia (di atas 8%).
Sebaliknya, pemerintahan seperti di Jerman, Kanada maupun Selandia Baru, bertindak lebih cepat. Jerman menerapkan kebijakan tes secara agresif (160.000 tes per minggu) dan mampu menemukan kasus lebih awal. Jerman saat ini memiliki tingkat kematian pada level 1,6%.
Strategi tes skala luas juga diterapkan di Kanada dan hal ini membantu Kanada menahan laju kematian pada angka 1,8%. Sedangkan Selandia Baru secara konsisten meningkatkan tes cepat dan menjaga tingkat kematian jauh di bawah 1%.
2. Kepemimpinan yang ambigu
Pemimpin populis seperti Trump atau Jair Bolsonaro di Brasil, cenderung memobilisasi berita bohong dan misinformasi dalam kampanye mereka.
Mereka tidak memiliki kemampuan menggunakan data dalam strategi kebijakan publik mereka. Pengabaian atas sains dan ilmu pengetahuan membuat mereka sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah pada saat yang genting.
Baca Juga: Permenhub Soal Covid-19: Ojek Dibolehkan Bonceng Penumpang
Sayangnya, saat malapetaka terjadi, sikap ambigu mereka makin menjadi-jadi.
Ketimbang menunjukkan komitmen pada bukti dan mendengar para ahli, Trump mengalihkan perhatian rakyatnya pada simbol-simbol agama – misal, Trump justru mengumumkan hari doa nasional pada 15 Maret lalu.
Hal serupa terjadi juga di Indonesia. Pemimpin kita mengambil alih peran alim-ulama untuk menenangkan rakyat lewat doa dan narasi keagamaan, namun pada saat yang sama menunda upaya-upaya penanggulangan epidemi.
Indonesia terlambat merespon sedikitnya 45 hari sejak lockdown di Wuhan, Cina.
Bolsonaro di Brasil menganggap Covid-19 “cuma flu”, “trik media” dan malah menuduh media melakukan “kampanye konyol” dengan maksud melengserkan dia.
3. Anti-sains
Pemerintahan populis sering memiliki pendekatannya yang cenderung “membungkam” sains dan ilmu pengetahuan. Hal ini karena kebijakan berbasis bukti tidak selaras dan sepadan dengan pendekatan pemimpin populis dalam merumuskan kebijakan publik.
Penelitian menunjukan bahwa pemerintah populis cenderung menegasikan dan menyangkal sains terutama dalam isu-isu kompleks, termasuk kesehatan dan lingkungan, karena kepentingan ekonomi dan politik yang mengakar kuat.
Di Indonesia, pemerintah cenderung menghambat suara penelitian dan peneliti dengan tujuan melindungi agenda ekonomi dan politik di atas keselamatan rakyat. Hal ini membuat Jokowi bertentangan dengan suara para ilmuwan.
Dalam pandemi global seperti COVID-19, pemimpin populis seperti Trump terus bimbang untuk mengganti arah, mendengarkan apa kata ilmu pengetahuan, dan merelakan ilmu pengetahuan menuntun keputusan-keputusan krusial pemerintah dalam krisis COVID-19.
Ketika pemimpin seperti ini akhirnya menyadari masalah sebenarnya, rakyat kemudian dikorbankan dalam kebijakan ekstrem. Karena terlambat membalik arah kebijakan, mereka kemudian akan terjebak pilihan menerapkan kebijakan tangan besi.
Akibat menunda aksi dalam membatasi wabah, pemerintah Italia – yang terbentuk atas koalisi rapuh antara gerakan anti kemapanan Five Star Movement dan Democratic Party (yang kiri-tengah) – menyaksikan kasus kematian meningkat drastis. Italia lalu menerapkan pembatasan maksimum, yang melibatkan polisi and militer.
Merosotnya kepemimpinan AS di tingkat global
Dengan seorang pemimpin populis di pucuk pemerintahan AS, dunia melihat kepemimpinan AS di tingkat global semakin merosot termasuk sektor kesehatan.
Ini tidak seperti yang terlihat pada tahun 2014 ketika krisis Ebola menghantam Afrika Barat. Saat itu kepemimpinan AS di bawah Presiden Barack Obama dianggap berperan sangat penting dalam terhadap respon Ebola dengan alokasi dana 2.4 miliar dolar AS (sekitar Rp 38 triliun); ini sebuah kualitas kepemimpinan yang hilang dari krisis global saat ini.
Baru-baru ini AS mengumumkan paket stimulus sebesar 2 triliun dolar (Rp 32.000 triliun) dalam menyelamatkan ekonomi negeri Paman Sam. Namun pendanaan global untuk Covid-19 melalui Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) cenderung rendah: 37 juta dolar AS. Yang ditakuti kemudian adalah dana ini adalah hasil realokasi dari proyek-proyek penting seperti Global Fund dalam memerangi HIV, TBC, dan malaria.
Banyak pengamat termasuk akademisi mungkin percaya bahwa AS adalah rumah bagi institusi-institusi penting seperti Centers for Disease Control and Prevention yang dapat menginspirasi kepemimpinan global dalam menghadapi dan mengelola pandemi saat ini.
Tapi memiliki kapasitas yang luar biasa besar tidak serta-merta bermuara pada ketangguhan karena kepemimpinan yang lemah membawa lembaga dan rakyat ke arah yang berlawanan. Trump gagal dalam menegakkan nilai bahwa nyawa lebih penting dari ekonomi.
Lemahnya kepemimpinan AS kemudian berakibat pada ketiadaan kepemimpinan global. Hal ini berdampak pada ketidaksiapan dunia dalam menata kelola keamanan kesehatan global pada masa depan.
Pemimpin populis akan mengeksploitasi pandemi?
Pemimpin populis memiliki kemampuan “memancing di air keruh” dengan memanfaatkan krisis untuk keuntungan politik sebagaimana terlihat dalam naiknya approval rating Trump beberapa waktu lalu.
Dengan ketidakpastian pengetahuan seputar Covid-19, pemimpin populis dengan mudah mendiskreditkan lawan progresif dengan menciptakan narasi-narasi yang ambigu dan berusaha dalam membesarkan narasi-narasi yang diskriminatif.
Di tengah risiko resesi, para pemilik suara (voters) di dunia sudah seharusnya mencegah naiknya pemimpin populis.
Para pemilik suara perlu memahami bahwa taktik pemimpin-pemimpin ini memecah-belah publik sambil menciptakan ketidakpercayaan pada institusi publik yang ada yang justru lebih mungkin memiliki solusi efektif.
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di The Conversation.
Berita Terkait
-
Serang Balik! dr Tifa Sebut Jokowi Tak Pernah Ngaku Lulusan UGM Sebelum Kasus Ijazah Palsu
-
Babak Baru Kasus Ijazah Jokowi: Jaksa Minta Hakim Abaikan Keberatan Dokter Tifa, Ini Alasannya
-
Orang Dekat Donald Trump Bongkar Kelicikan Israel di Balik Perang AS - Iran
-
Iran Bebaskan Warga Negara Amerika yang Ditahan Sejak 2024, Respon Donald Trump Bikin Kaget
-
Amerika Serikat Incar Pusat Nuklir Iran di Gunung Pickaxe, Mau Dihancurkan
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Digaji Rakyat tapi Maling, Birokrat dan BUMN Nakal Siap-siap Kena Sikat
-
Rumah Sentul Jadi Materi Pemeriksaan, Febrie Klaim Sudah Dihibahkan ke Anaknya
-
Usai Diperiksa sebagai Tersangka, Febrie Adriansyah Tak Ditahan
-
Prabowo Pasang Badan untuk Petani, Minta Pengkritik Harga Beras Tanam Padi Sendiri
-
Hotman Paris: Rumah Sentul Milik Eks Jampidsus Febrie Adriansyah, Tapi Isinya Milik Orang Lain
-
Didampingi Hotman Paris, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Lolos dari Penahanan Usai Diperiksa 10 Jam
-
Dosen UGM Diancam Sebar Data Pribadi hingga Dilacak Lewat Google Maps Usai Kritik Menteri PU
-
Hadiri Rakorwil PSI Bengkulu, Kaesang Pangarep: Masa Gajah Kalah dari yang Lain?
-
Balita Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri, Kemen PPPA Usul Asesmen Pengasuhan Sebelum Menikah
-
Terekam CCTV dan Viral di Medsos, Remaja Pengancam Pakai Golok di Citeureup Diringkus Polisi