Virus Corona dan kelelewar saling bertarung dalam evolusi, di mana virus akan terus berevolusi untuk menghindari sistem kekebalan kelelawar dan kelelawar berevolusi untuk menahan infeksi dari virus Corona. Virus akan mengembangkan banyak varian, yang sebagian besar akan dihancurkan oleh sistem kekebalan kelelawar, tetapi beberapa akan bertahan dan pindah ke kelelawar lainnya.
Beberapa ilmuwan telah menyarankan bahwa Covid-19 mungkin berasal dari virus kelelawar lain yang dikenal RaTG13, yang ditemukan oleh para peneliti di Institut Virologi Wuhan. Genom kedua virus ini 96 persen mirip satu sama lain.
Faktanya, Covid-19 kemungkinan besar berevolusi dari varian virus yang tidak dapat bertahan untuk jangka waktu yang lama atau yang bertahan pada tingkat rendah di kelelawar.
Secara kebetulan, itu kemampuannya berevolusi untuk menyerang sel manusia dan secara tidak sengaja menemukan jalannya untuk menginfeksi manusia, mungkin melalui hewan inang perantara dan kemudian berkembang. Atau kemungkinan itu suatu bentuk virus yang awalnya tidak berbahaya mungkin telah melompat langsung ke manusia dan kemudian berevolusi menjadi berbahaya ketika berpindah antar manusia.
Percampuran atau rekombinasi genom virus Corona yang berbeda di alam adalah salah satu mekanisme yang menghasilkan jenis virus Corona baru. Sekarang ada bukti lebih lanjut bahwa proses ini dapat terlibat dalam pembuatan Covid-19.
Sejak pandemi dimulai, virus Covid-19 tampaknya telah mulai berkembang menjadi dua jenis berbeda, memperoleh adaptasi untuk invasi sel manusia yang lebih efisien. Ini bisa terjadi melalui mekanisme yang dikenal sebagai selective sweep, di mana mutasi bermanfaat membantu virus menginfeksi lebih banyak inang dan menjadi lebih umum pada populasi virus.
Dilansir dari Science Alert, Jumat (17/7/2020), mekanisme yang sama akan menjelaskan kurangnya keragaman yang terlihat pada banyak genom Covid-19 yang telah diurutkan. Ini menunjukkan bahwa nenek moyang Covid-19 bisa aja beredar dalam populasi kelelawar untuk waktu yang cukup lama. Maka akan diperoleh mutasi yang memungkinkannya untuk berpindah dari kelelawar ke hewan lain, termasuk manusia.
Di sisi lain, penting juga untuk diingat bahwa sekitar satu dari lima spesies mamalia di Bumi adalah kelelawar, dengan beberapa hanya ditemukan di lokasi tertentu dan yang lain bermigrasi melintasi jarak yang sangat jauh. Keragaman dan penyebaran geografis ini menjadi tantangan untuk mengidentifikasi kelompok kelelawar yang berasal dari Covid-19.
Ada bukti bahwa kasus-kasus awal Covid-19 terjadi di luar Wuhan, China, dan tidak memiliki hubugan dengan pasar di kota tersebut. Bukti itu bukanlah bukti konspirasi.
Baca Juga: Ilmuwan: Covid-19 Ada Sejak Dulu dan Aktif Kembali karena Ini
Mungkin saja orang yang terinfeksi secara tidak sengaja membawa virus ke Wuhan dan pergi ke pasar, di mana kondisi yang sibuk dan tertutup meningkatkan kemungkinan penyebaran penyakit dengan cepat.
Ini termasuk kemungkinan salah satu ilmuwan yang terlibat dalam penelitian kelelawar terkait Covid-19 di Wuhan tanpa sadar terinfeksi dan membawa virus kembali dari tempat tinggal kelelawar yang diteliti. Hal ini masih dianggap infeksi alami, bukan kebocoran laboratorium.
Hanya melalui sains yang kuat dan penelitian tentang dunia alami manusia dapat benar-benar memahami sejarah alam dan asal-usul penyakit zoonosis seperti Covid-19. Ini penting karena hubungan manusia yang terus berubah dan meningkatnya kontak dengan satwa liar, membuat risiko penyakit zoonosis baru semakin tinggi muncul pada manusia.
Berita Terkait
-
Ilmuwan: Covid-19 Ada Sejak Dulu dan Aktif Kembali karena Ini
-
Percaya Teori Konspirasi, 10 Ribu Warga Melbourne Tolak Tes Covid-19
-
Kenapa Orang Bisa Percaya Teori Konspirasi? Ini Kata Pakar Psikologi Jerman
-
Terungkap Hubungan Tingkat Kepercayaan pada Teori Konspirasi Covid-19
-
Ilmuwan Klaim Covid-19 Muncul di Wuhan Lebih Awal, Ini Buktinya
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
5 HP 5G RAM 12 GB Termurah Juni 2026, Performa Gak Kaleng-kaleng Mulai Rp2 Jutaan
-
iPhone 18 Pro Dikabarkan Punya Dua Kapasitas Baterai Berbeda, Ini Detailnya
-
Huawei nova 16z Resmi Meluncur, Kini Bisa Kirim Pesan dan Foto Lewat Satelit Tanpa Sinyal
-
4 HP Realme Paling Banyak Dicari di Toko Online: Spesifikasi Mantap, Harga Miring
-
23 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 2 Juni 2026: Panen 5000 Gems dan Draft Voucher
-
37 Kode Redeem FF Terbaru 2 Juni 2026: Amankan Token Bundle Golden Shade Hari Ini
-
Serangan NFC di HP Android Naik 188%, Penipu Kini Bisa Kuras Rekening dari Jarak Jauh
-
AI Percepat Serangan Siber, CrowdStrike Sebut Industri Keuangan dalam Bahaya
-
Asus Luncurkan Laptop ProArt P16 dan ProArt P14 yang Ditenagai oleh Superchip Nvidia RTX Spark
-
Daftar HP Samsung Ini Terancam Tidak Kebagian One UI 8.5, Galaxy S22 hingga Z Fold 4 Masuk?