Suara.com - Peneliti herpetologi dari Pusat Riset Biologi Badan Riset dan Inovasi (BRIN) Amir Hamidy beserta tim berhasil mengidentifikasi dua katak jenis baru dari Sumatra, yaitu katak-tanduk sumatera-selatan (Megophrys selatanensis) dan katak-tanduk aceh (Megophrys acehensis).
"Setiap spesies Megophrys di Sumatera kemungkinan memiliki distribusi terbatas," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Senin (15/11/2021).
Amir mengatakan dari lima jenis yang terdapat di Sumatera, empat di antaranya merupakan jenis endemik. Selain endemik, marga Megophrys ditemukan di hutan dataran tinggi dan rendah.
Menurut dia, perubahan habitat dari hutan menjadi lahan pertanian dan perkebunan sawit merupakan ancaman terbesar terhadap kelestarian katak jenis itu.
Selain itu, katak dari genus Megophrys memiliki keragaman morfologi yang samar.
Dua jenis baru Megophrys dari Sumatera tersebut berhasil diidentifikasi berdasarkan evaluasi status taksonomi dengan menggunakan data molekuler dan morfologi.
Saat melakukan survei herpetofauna di seluruh jajaran Pegunungan Bukit Barisan Sumatera, peneliti menemukan populasi Megophrys Sumatera bagian selatan dengan kulit punggung halus yang secara morfologis mirip dengan M. montana dari Jawa dan populasi yang menyerupai kulit punggung M. parallela dari Sumatera bagian utara.
Amir bekerja sama dengan para kolaboratornya yakni Kanto Nishikawa dari Universitas Kyoto, Jepang dan Eric N Smith dari Universitas Texas at Arlington, AS dalam mengidentifikasi spesies baru itu.
Salah satu anggota tim yang mengidentifikasi spesies tersebut, Misbahul Munir, yang juga menjadi penulis pertama dalam penemuan itu, menuturkan katak-tanduk yang sering dikenal dengan nama ilmiah marga Megophrys memiliki karakter unik, di mana ujung moncong dan kelopak matanya termodifikasi menjadi tonjolan lancip (menyerupai tanduk).
Baca Juga: Sebanyak 28 Spesies Baru Kumbang Moncong Ditemukan di Sulawesi
Mahasiswa S3 di Universitas Kyoto di Jepang itu mengatakan berudu dari marga Megophrys juga memiliki karakter unik di mana mulutnya termodifikasi menjadi bentuk corong yang melebar.
Saat ini, 13 spesies Megophrys diketahui terdapat di Asia Tenggara, antara lain Thailand, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Filipina.
Kalimantan memegang rekor tertinggi karena enam spesies di antaranya ditemukan di pulau itu.
Pada 2018 Amir beserta tim berhasil mengidentifikasi latak-tanduk lancip (Megophrys lancip) dari Sumatera, dan pada 2019 ditemukan Katak-tanduk Kalimantan (Megophrys kalimantanensis).
Berita Terkait
-
BRIN Belum Pastikan Efektivitas Tepung Singkong untuk Padamkan Karhutla
-
Tepung Singkong untuk Padamkan Karhutla Dinilai Sangat Memungkinkan
-
Di Depan Presiden Timor Leste, Megawati Ungkap Salju Abadi Papua Bakal Lenyap 3 Tahun Lagi
-
Indonesia dan Malaysia Garap Proyek Baterai Nusantara untuk Kendaraan Listrik
-
Hadapi Perubahan Iklim, BRIN Dorong Riset Kelautan Indonesia-Tiongkok
Terpopuler
- AMPB Pulang Usai Audiensi DPR, Relawan Ojol Curiga Ada Kesepakatan Transaksional
- Setelah Pelatih Giliran Suporter FC Twente Usir Mees Hilgers: Pemain Malas
- Cara Membersihkan Bunga Es dengan Aman dan Cepat Tanpa Merusak Freezer
- Daihatsu Kenalkan Mobil 120 Jutaan, 1 Liter Jalan 27 Km
- Di Bursa Capres 2029: Elektabilitas Dedi Mulyadi Tembus 42 Persen, Ungguli Prabowo
Pilihan
-
Diseret dari Gang ke Jalan! Kronologi Pedagang Cermin Tewas Dikeroyok Saat Demo Ricuh
-
Senayan Kondusif: Tol Dalam Kota Normal dan Blokade Jalan Dibuka Pasca Bentrok 27 Agustus
-
Ada Isu Aksi Demo Lanjutan, BEI Minta Investor Tak Panik
-
Admin Medsos dan Pengkritik Jadi Target Penangkapan Jelang Demo Agustus
-
3 Pesawat Tempur F16 'Rally' di Langit Jakarta Jumat Pagi, Ini Klarifikasi TNI AU
Terkini
-
Bantuan Bencana Mengalir ke NTT dan Kalimantan, BAZNAS Pastikan Tepat Sasaran
-
Erick Thohir Bicara Target Indonesia di Asian Games 2026, Berapa Emas?
-
Profil dan Pekerjaan Jhon LBF, Siap Bantu Ruben Onsu Bayar Kerugian Rp3,5 M
-
Sempat Jadi DPO, Pencuri Rumah Kosong yang Bawa Kabur Emas 30 Gram Diciduk di Tangerang
-
Ayah dan Anak Tewas Akibat Ledakan Gas di Cikarang
-
Tak Ingin Jamur Terbuang, Ibu Astuti Sukses Kembangkan Usaha hingga Pimpin Bank Sampah
-
Ulasan Gadis Minimarket: Ketika Menjadi Berbeda Bukan Berarti Salah
-
5.000 Data Warga Palu Digunakan untuk Main Judi Online
-
Fitur Darurat yang Jadi 'Biang Kerok' Salah Paham Pengguna Jalan, Sisi Gelap Penggunaan Hazard Motor
-
Mesin Meledak di Sprint Race GP Aragon, Fabio Quartararo: Saya Sudah Tahu