Suara.com - Ekonom dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky blak-blakan menyebut kalau Apple lebih memilih investasi di Vietnam ketimbang Indonesia.
Sebagai perbandingan, Apple hanya menanamkan investasi Rp 158 miliar ke Indonesia dengan skema pelatihan bernama Apple Developer Academy. Sedangkan di Vietnam, Apple jor-joran investasi dengan nilai Rp 256,2 triliun berupa pabrik yang membuka 200 ribu lapangan kerja.
Riefky menjelaskan kalau Apple sejatinya adalah perusahan bisnis. MAka dari itu mereka tentu akan memilih tempat investasi yang menguntungkan perusahaan.
“Apple akan melakukan investasi dan menempatkan uangnya jika mereka merasa mendapatkan keuntungan dan mereka melihat Vietnam lebih baik daripada Indonesia,” ungkapnya dalam diskusi publik bertajuk Menghitung Untung Rugi Larangan iPhone 16 Bagi Masyarakat dan Negara yang digelar Selular Business Forum (SBF) di Jakarta, Kamis (5/12/2024).
Riefky menjelaskan bahwa perusahaan mengalami sejumlah hambatan jika ingin berinvestasi di Indonesia, mulai dari sektor ketenagakerjaan, inovasi, pembiayaan, kepastian hukum, hingga tingkat korupsi.
Ekonom UI itu menyebut, apabila dibandingkan dengan Vietnam, prosedur administrasi untuk memulai usaha di Indonesia ternyata lebih panjang dan lebih ribet.
Mengutip data World Bank, Riefky menyatakan ada 11 dokumen untuk memulai usaha di Indonesia. Sedangkan di Vietnam hanya memerlukan delapan dokumen.
Bahkan, jumlah dokumen perpajakan di Indonesia mencapai 26, sementara di Vietnam hanya enam. Belum lagi durasi untuk melengkapi dokumen ekspor impor di Indonesia bisa berhari-hari, sedangkan di Vietnam hanya hitungan jam.
“Itu baru dengan Vietnam, dan Indonesia masih jauh lagi tertinggal dari negara-negara lain seperti China, Arab Saudi bahkan Singapura,” papar dia.
Baca Juga: Menperin Ungkap Apple Segera Investasi Pabrik Demi Jualan iPhone 16 di Indonesia
Riefky melanjutkan, faktor sulitnya investasi di Indonesia yakni peraturan yang ternyata berbeda antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Selanjutnya yakni faktor index law supremacy atau supremasi hukum. Menurut dia, kepastian hukum di Indonesia masih tertinggal dari rata-rata, bahkan negara Timur Tengah dan North Africa.
"Masih tertinggal dengan rata-rata negara-negara Pasifik lainnya. Bahkan lebih rendah dari rata-rata negara Latin Amerika. Jadi kalau mau investasi tapi misalnya perizinannya enggak keluar-keluar, regulasi perdagangannya itu berubah cukup sering," imbuhnya.
Dia mencontohkan berubahnya Peraturan Menteri Perdagangan yang menyoal regulasi impor. Aturan tersebut nyatanya diubah hingga empat kali hanya dalam jangka tiga bulan.
"Itu adalah regulasi yang paling cepat dan sering berubah di dunia sepanjang sejarah. Bayangkan Apple melakukan investasi di sini enggak tahu bulan ke depan apakah mereka bisa impor bahan baku yang mereka butuhkan atau enggak? Mereka enggak tahu apakah kemudian mereka bisa kemudian mendapatkan input yang mereka butuhkan untuk produksi atau enggak? Dan itu sangat costly untuk bisnis gitu," tuturnya.
Faktor lainnya yakni infrastruktur hingga produktivitas. Riefky menilai kalau kualitas infrastruktur Indonesia tertinggal jauh dari semua aspek, mulai dari logistik hingga tracking dan tracing.
Terakhir yakni produktivitas berupa sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, tenaga kerja Indonesia masih kalah dengan India hingga Vietnam karena masih sebatas merakit produk.
Di India, kata Riefky, para pekerja di sana sudah bisa mengekspor coding untuk kebutuhan produksi mobil seperti Tesla. Sementara para Vietnam berhasil merakit komponen yang bahkan beberapa engineer di Amerika Serikat tak bisa lakukan.
"Jadi kalau kita merasa kita daya saingnya sama kayak Vietnam, mungkin itu case 10 tahun lalu. Sekarang sangat jauh kita tertinggal dari Vietnam," pungkasnya.
Berita Terkait
-
Menperin Ungkap Apple Segera Investasi Pabrik Demi Jualan iPhone 16 di Indonesia
-
3 Alasan Kenapa iPhone 16 Ilegal Justru Merugikan Konsumen Indonesia
-
Bocoran Media Vietnam: Aerox 2025 Hadir dengan 4 Pilihan Memikat, Mana Favoritmu?
-
Kronologi Warga Tolak Proyek Gedung Kedubes India dan Dugaan Pelangaran Hukum
-
BPKN: Apple Harus Patuhi Aturan Jika Ingin Masuk Indonesia
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Pokemon Evolusi Mega ex Hadir dalam Format Starter Deck Siap Main
-
OLX Luncurkan Kategori Barang Gratis untuk Mempermudah Berbagi Selama Ramadan
-
Harga dan Spesifikasi Huawei Band 11 Series Resmi di Indonesia, Layar AMOLED 1,62 Inci
-
4 HP OPPO RAM 8 GB Paling Murah Februari 2026 Mulai Rp2 Jutaan
-
Ampverse Resmi Ekspansi ke Indonesia, Andalkan AI dan Gaming Intelligence
-
Alasan ASUS ExpertBook P1 P1403 Cocok untuk Pebisnis UMKM
-
5 HP Kamera Bagus untuk Lebaran Mulai Rp3 Jutaan, Hasil Foto Jernih Tak Perlu Sewa iPhone
-
Indosat HiFi Air Resmi Hadir, Internet Rumah Tanpa Kabel Bisa Dibawa Mudik dan Langsung Aktif
-
27 Kode Redeem FF 27 Februari 2026: Ada Skin SG2, Angelic, Hingga Bundle Jujutsu Kaisen
-
25 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 27 Februari 2026: Klaim Pemain OVR 117 dan Ribuan Gems Gratis