Suara.com - Aplikasi video enam detik yang pernah merajai internet, Vine, kini "hidup kembali" dalam wujud baru bernama diVine. Proyek ini hadir berkat dukungan pendanaan dari Jack Dorsey, salah satu pendiri Twitter, dan menawarkan sesuatu yang tak lagi umum di platform media sosial masa kini: konten yang benar-benar dibuat manusia. Bukan hasil AI.
Mengutip TechCrunch (12/11/2025), DiVine resmi diperkenalkan sebagai aplikasi baru yang menghadirkan kembali sekitar 100.000 video Vine lama yang berhasil dipulihkan dari arsip cadangan sebelum layanan tersebut ditutup pada 2016.
Arsip itu awalnya diselamatkan oleh Archive Team, komunitas pegiat internet yang kerap menyelamatkan situs-situs yang terancam hilang. Namun video Vine yang tersimpan ternyata berupa berkas biner raksasa berukuran puluhan giga byte, tidak praktis untuk ditonton begitu saja.
Hal inilah yang kemudian mendorong Evan "Rabble" Henshaw-Plath, mantan karyawan awal Twitter yang kini terlibat dalam organisasi non profit Dorsey, “And Other Stuff", untuk mencoba membangkitkan Vine versi baru.
Ia menghabiskan berbulan-bulan menulis skrip big data, mempelajari struktur berkas, hingga akhirnya berhasil mengekstrak kembali ribuan video, termasuk data pengguna lama dan jejak interaksi seperti jumlah tayangan serta sebagian komentar asli.
Meski tidak semua konten berhasil diselamatkan, Rabble menyebut aplikasi ini memuat hingga 200.000 video dari sekitar 60.000 kreator—sebagian besar merupakan video yang paling populer di masa kejayaannya.
Tujuan diVine bukan sekadar nostalgia. Pengguna nantinya bisa membuat profil baru dan mengunggah video Vine versi modern. Namun ada aturan baru yang tegas: konten berbasis AI tidak diperbolehkan. Aplikasi akan menandai konten yang dicurigai menggunakan AI dan mencegahnya diposting.
Kebijakan ini menjadi penegasan bahwa diVine ingin menjadi ruang bagi kreativitas manusia di tengah maraknya video yang dihasilkan mesin. Untuk memverifikasi video benar-benar direkam oleh manusia, diVine bekerja sama dengan Guardian Project, organisasi yang memiliki teknologi untuk memastikan keaslian rekaman smartphone.
Kreator Vine lama yang karyanya disertakan dalam arsip tetap memiliki hak cipta penuh. Mereka dapat meminta video mereka dihapus melalui DMCA takedown jika tidak ingin kontennya muncul di diVine. Sebaliknya, mereka juga bisa mengambil alih akun Vine mereka dengan membuktikan kepemilikan akun media sosial yang dulu dicantumkan di profil Vine.
Baca Juga: Sertifikat Tanah Ganda Paling Banyak Keluaran 1961 Hingga 1997, Apa Solusinya?
Setelah verifikasi selesai, mereka dapat mengunggah video baru atau menambahkan konten lama yang belum berhasil dipulihkan oleh tim diVine.
Satu hal yang membuat diVine berbeda dari platform masa kini adalah fondasi teknologinya. Aplikasi ini dibangun di atas Nostr, protokol terdesentralisasi yang memungkinkan siapapun membuat aplikasi dan server sendiri tanpa campur tangan perusahaan besar.
Mengutip dari TechCrunch (12/11/2025), Dorsey menyebut pendekatan ini sebagai upaya membuka kembali ruang eksperimentasi: dunia yang tidak bergantung pada modal besar, model bisnis eksploitatif, atau kendali penuh perusahaan raksasa.
Ia menegaskan bahwa teknologi semacam ini memberi pengembang dan komunitas kebebasan menciptakan ekosistem sosial baru yang tidak bisa dimatikan hanya karena keputusan pemilik korporasi.
Peluncuran awal diVine langsung menarik perhatian publik. Dalam empat jam pertama, lebih dari 10.000 orang ikut serta dalam program uji coba. Aplikasi ini tersedia di Android, tetapi masih kesulitan masuk App Store karena proses peninjauan Apple yang berulang kali menolak aplikasi tersebut.
Rabble menyebut pengalaman itu sebagai “frustrasi klasik dalam ekosistem Apple,” namun ia tetap optimistis aplikasi ini akan menemukan jalannya ke lebih banyak perangkat.
Berita Terkait
-
Sertifikat Tanah Ganda Paling Banyak Keluaran 1961 Hingga 1997, Apa Solusinya?
-
Suara Penumpang Menentukan: Ajang Perdana Penghargaan untuk Operator Bus Tanah Air
-
Kompetisi Trading Akhir Tahun 2025: Hadiah Ratusan Juta untuk Para Trader Crypto
-
Google Siap Hukum Aplikasi Android yang Boros Baterai
-
WhatsApp Siapkan Fitur Message Request: Privasi Pengguna Makin Terlindungi
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
-
90 Menit yang Menentukan! Trump Tak Jadi Pakai Senjata Nuklir ke Iran karena Ditekan?
-
Donald Trump Umumkan Gencatan Senjata Perang Iran Selama Dua Pekan
Terkini
-
53 Kode Redeem FF Terbaru 8 April 2026, Klaim Hadiah Gratis dan Event Quackman
-
31 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 8 April 2026, Klaim Hadiah Gratis dan Event Dream Chaser UEFA
-
5 HP Samsung Paling Murah: Harga Masih Aman di Bulan April 2026?
-
6 Rekomendasi HP Murah Tahan Air untuk Ojol dan Kurir, Mulai Rp1 Jutaan
-
Update Daftar Harga HP Honor April 2026 Lengkap dengan Seri Tablet
-
GTA 6 Diprediksi Mengadopsi Fitur Terbaik dari Red Dead Redemption 2
-
5 HP Murah 5G di Bawah Rp2 Juta, Koneksi Kencang untuk Multitasking
-
Daftar Harga HP Motorola April 2026 Lengkap dari Seri Moto G hingga Edge
-
Duel POCO X8 Pro Max vs POCO X8 Pro untuk Performa Chipset dan Baterai Jumbo
-
Game of Thrones Dragonfire Resmi Tersedia di Android dan iOS, Jadi Game Gratis