Suara.com - Sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa meningkatnya suhu pada malam hari berdampak signifikan terhadap kualitas tidur jutaan orang di berbagai wilayah. Penelitian yang dipublikasikan dalam Environment International ini menunjukkan bahwa suhu yang lebih hangat secara langsung mengurangi durasi dan kualitas tidur, terutama pada kelompok masyarakat tertentu.
Temuan ini memunculkan kekhawatiran baru mengenai dampak kesehatan masyarakat di tengah pemanasan global yang terus berlanjut.
Mengutip Earth.com (9/12/2025), penelitian tersebut menggunakan data jangka panjang dari program All of Us, yang memantau pola tidur melalui perangkat wearable. Melalui jutaan rekaman malam tidur, para peneliti menemukan adanya hubungan yang jelas antara peningkatan suhu malam hari, kualitas tidur yang menurun, serta frekuensi terbangun yang lebih tinggi.
Suhu yang lebih hangat disebut mengganggu kemampuan tubuh untuk mendingin secara alami—proses yang penting untuk memulai dan mempertahankan tidur.
Dalam hasil penelitian, setiap kenaikan suhu sebesar 10 derajat pada malam hari dapat mengurangi waktu tidur seseorang sekitar 2,63 menit. Meski tampak kecil pada level individu, efek kumulatif pada populasi sangat besar.
“Jika dikalikan jutaan orang, dampaknya benar-benar besar bagi kesehatan masyarakat,” ujar penulis utama studi, Dr. Jiawen Liao dari Keck School of Medicine, University of Southern California.
Ia menambahkan bahwa peningkatan suhu ekstrem sebelumnya telah dikaitkan dengan kematian akibat penyakit jantung dan paru, sehingga temuan terkait gangguan tidur ini bisa menjadi sinyal baru yang perlu diperhatikan.
Mengutip Earth.com (9/12/2025), para peneliti juga menemukan bahwa suhu panas tidak hanya mengurangi total waktu tidur, tetapi turut mengacaukan keseluruhan ritme tidur. Tidur nyenyak termasuk fase deep sleep dan REM berkurang drastis, sementara waktu terjaga di tengah malam meningkat.
Hasilnya, banyak orang merasa tidur kurang pulih meskipun durasi total tidak tampak jauh berbeda. Kondisi ini, menurut pakar, dapat berdampak jangka panjang pada fungsi kognitif, kesehatan jantung, serta suasana hati.
Baca Juga: Efek Negatif Blue Light pada Tidur dan Kesehatan, Penting Diketahui
Dampak peningkatan suhu tidak dirasakan secara merata. Studi ini menemukan bahwa kelompok berpendapatan rendah, penyewa rumah, serta mereka yang tinggal di daerah dengan sedikit ruang hijau lebih rentan mengalami penurunan kualitas tidur. Hal ini disebabkan oleh akses pendinginan yang lebih terbatas serta isolasi bangunan yang kurang memadai.
Beberapa wilayah pesisir di West Coast juga tercatat mengalami gangguan tidur yang lebih parah karena penggunaan AC yang relatif rendah.
Dari aspek demografis, orang dewasa paruh baya, perempuan, serta kelompok Hispanik menunjukkan penurunan kualitas tidur yang lebih signifikan dibanding kelompok lainnya.
Selain faktor sosial ekonomi, kondisi medis tertentu seperti penyakit jantung, depresi, dan obesitas juga memperparah sensitivitas terhadap suhu panas. Rekaman wearable menunjukkan bahwa individu dengan kondisi ini mengalami gangguan tidur yang lebih intens pada malam-malam bersuhu tinggi.
Secara musiman, penurunan kualitas tidur paling terlihat pada bulan-bulan musim panas, meskipun penurunan serupa juga terjadi pada akhir musim semi dan awal musim gugur. Pola ini menunjukkan bahwa durasi gangguan semakin panjang seiring meningkatnya anomali suhu tahunan.
Penelitian ini juga memetakan dampak ke masa depan dengan memadukan model iklim dan data tidur. Dalam skenario emisi tinggi, kehilangan waktu tidur tahunan dapat bertambah setiap tahun, dengan beberapa zona—terutama kawasan pesisir—diprediksi mengalami penurunan kualitas tidur paling drastis menjelang akhir abad ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Anti Longsor 24 Jam, Makeup Tahan Lama Meski Cuaca Panas
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Dompet Penarik Rejeki Warna Apa? Ini Pilihan agar Kamu Beruntung sesuai Shio dan Feng Shui
Pilihan
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
Terkini
-
Lenovo Legion Y70 'Bangkit' dengan RAM 16 GB: Tantang iQOO 15R, Harga Mulai Rp6 Jutaan
-
Oppo A6c Resmi Meluncur di Indonesia, Bawa Baterai 7000mAh dan Performa Anti Lag 4 Tahun
-
Rayakan Satu Dekade Perjalanan, Headphone Mewah Sony WH-1000X The ColleXion Rilis
-
Lenovo Kenalkan ThinkPad Anyar dengan Fitur AI: Dukung RAM 64 GB dan AMD Zen 5
-
5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
-
Trump Mobile T1 Mulai Dikirim, Tapi Bikin Kecewa? Desain Berubah dan Ternyata Bukan Buatan AS
-
Meta Tambah Fitur Keamanan Iklan di Threads, Pengiklan Kini Bisa Blokir Konten Sensitif
-
30 Kode Redeem FF Terbaru 20 Mei 2026: Panen 100 Diamond Tanpa Top Up dan Item Langka
-
Teknologi LiDAR 4D Terbaru Diklaim Tingkatkan Akurasi Robot dan Kendaraan Otonom
-
5 HP Layar AMOLED Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Visual Jernih dan Support NFC