- Pekerja jadi kelompok paling rentan dampak panas ekstrem.
- Gelombang panas memicu kematian, protes, dan kebijakan darurat.
- Sektor fisik terbanyak terpukul, risiko mental ikut meningkat.
Suara.com - Para pekerja di seluruh dunia kini menjadi kelompok paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kenaikan suhu ekstrem yang semakin masif dan sulit diprediksi telah menyeret mereka ke kondisi berbahaya.
Paparan panas intens di lingkungan kerja mengindikasikan tingkat ancaman yang semakin mendesak bagi sektor ketenagakerjaan dunia. Para ahli menilai bahwa tempat kerja mereka telah menjadi medan krisis iklim berikutnya setelah bencana alam dan kelangkaan pangan.
Fenomena gelombang panas dahsyat pada musim panas tahun ini memang menjadi salah satu contoh paling dramatis.
Suhu ekstrem yang memecahkan rekor memicu kebakaran hutan dan kekeringan mencekik pasokan air, meningkatkan kematian akibat panas hingga tiga kali lipat dibandingkan periode sebelumnya.
Para ilmuwan memperkirakan setidaknya ada 16.500 kematian tambahan terjadi akibat paparan panas ekstrem di sepanjang periode tersebut.
Contohnya bisa dilihat dari tragedi yang menimpa pekerja kebersihan jalan di Barcelona. Montse Aguilar, 51 tahun, tumbang saat menjalankan tugas di tengah suhu mencapai 35°C ketika kota berada dalam status siaga tinggi.
Dari peristiwa sontak memicu kemarahan publik dan demonstrasi ratusan para pekerja untuk menyerukan bahwa panas ekstrem sekarang merupakan bentuk kekerasan baru yang dihadapi para pekerja di lapangan.
publik memaksa pemerintah mengeluarkan kebijakan darurat yang mewajibkan perusahaan menyediakan perangkat perlindungan panas, termasuk pakaian kerja berteknologi breathable, topi, tabir surya, serta kewajiban jam istirahat khusus untuk hidrasi. Selain itu, penyapuan jalan dihentikan sepenuhnya saat suhu mencapai 40°C.
Dalam laporan International SOS terbaru pun menyebut bahwa panas ekstrem kini masuk ke jajaran risiko utama keselamatan kerja global.
Baca Juga: Spanyol Membara: Gelombang Panas Terparah dalam Sejarah, Ribuan Nyawa Melayang
“Di era saat ini, perusahaan tidak bisa lagi menjadikan angka suhu udara sebagai satu-satunya rujukan pengaturan kerja. Industri diingatkan untuk segera membangun sistem perlindungan komprehensif terkait panas ekstrem karena regulasi global diprediksi akan semakin ketat ke depan,” tambahan laporan tersebut
Sektor yang paling terpukul adalah pertanian, konstruksi, industri manufaktur, dan transportasi. Negara-negara berpendapatan rendah juga diperkirakan akan mengalami kerugian paling besar karena minimnya fasilitas adaptasi dan perlindungan tenaga kerja.
Para peneliti memperingatkan adanya dampak jangka panjang berupa kehilangan pasokan tenaga kerja dan potensi perlambatan ekonomi yang menghantam rantai perdagangan global.
Dampak perubahan iklim juga menciptakan tekanan mental besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Occupational Medicine mengungkap bahwa perubahan iklim dapat memicu konflik di lingkungan kerja, lonjakan niat berhenti kerja, serta meningkatnya permusuhan antar pekerja.
Tekanan psikologis ini yang memperburuk kapasitas pekerja dalam mengambil keputusan krusial dan memicu keterikatan kerja secara berlebihan di sektor yang berhubungan langsung dengan iklim, seperti kehutanan, energi, dan pertambangan.
Penulis: Muhammad Ryan Sabiti
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim