Tekno / Internet
Kamis, 08 Januari 2026 | 11:42 WIB
Ilustrasi chip. [Freepik]
Baca 10 detik
    • Industri semikonduktor 2026 diprediksi pulih di sektor otomotif dan industri.
    • Steve Sanghi nilai ambisi kemandirian chip lokal sulit karena biaya tinggi.
    • Krisis minat bidang STEM jadi tantangan terbesar bagi inovasi teknologi masa depan.

Pelaku industri kini lebih fokus memberikan opsi sumber daya yang beragam misalnya dengan meningkatkan kapasitas di negara netral seperti Jepang untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu wilayah yang rawan konflik.

Steve Sanghi, CEO dan Presiden Microchip Technology. [Microchip Technology]

AI: Gelembung atau Revolusi Produktivitas?

Pesatnya perkembangan AI memicu kekhawatiran klasik: apakah ini hanya gelembung ekonomi (bubble) yang siap meletus? Sanghi menarik paralel sejarah yang menarik antara fenomena AI saat ini dengan era awal internet.

Teknologi transformatif kerap melalui siklus euforia, diikuti oleh koreksi pasar, sebelum akhirnya matang menjadi utilitas sehari-hari.

"Nilai sesungguhnya dari AI akan terlihat ketika teknologi ini mampu memberikan keuntungan produktivitas dan hasil bisnis yang berkelanjutan," ujarnya.

Sikap hati-hati namun optimis ini mencerminkan pendekatan industri yang tidak ingin terjebak dalam hype semata. Investasi pada AI tetap dilakukan sebagai alat efisiensi, namun perusahaan teknologi yang bijak tetap mempertahankan portofolio yang beragam.

Keseimbangan antara inovasi baru dan teknologi warisan (legacy technology) menjadi kunci ketahanan bisnis jangka panjang.

Krisis Budaya STEM di Amerika Serikat

Di luar isu teknis dan geopolitik, tantangan terbesar industri semikonduktor ternyata berakar pada sumber daya manusia (SDM).

Baca Juga: Konten Berbasis AI Bakal Makin Dominan di Medsos Tahun 2026

Sanghi menyoroti fenomena yang mengkhawatirkan di Amerika Serikat, di mana minat terhadap bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) tertinggal jauh dibandingkan wilayah lain.

Ada tantangan budaya yang unik di AS. Profesi di bidang sains dan teknik harus bersaing keras dengan daya tarik industri hiburan dan olahraga profesional yang lebih glamor di mata generasi muda.

"Meskipun banyak negara terus menghasilkan insinyur dalam jumlah besar, Amerika Serikat menghadapi tantangan budaya dan pendidikan yang unik," kata Sanghi.

Solusinya, menurut dia, bukan sekadar perbaikan kurikulum, melainkan perubahan ekosistem.

Program kompetisi robotik seperti FIRST Robotics dan VEX Robotics dinilai krusial. Namun, cakupannya harus diperluas secara masif.

Sanghi mengusulkan visi di mana tim STEM di sekolah menengah mendapatkan apresiasi dan dukungan yang setara dengan tim olahraga sekolah. Tanpa intervensi kultural semacam ini, AS berisiko kehilangan daya saing inovasinya di masa depan.

Load More