-
- Industri semikonduktor 2026 diprediksi pulih di sektor otomotif dan industri.
- Steve Sanghi nilai ambisi kemandirian chip lokal sulit karena biaya tinggi.
- Krisis minat bidang STEM jadi tantangan terbesar bagi inovasi teknologi masa depan.
Pelaku industri kini lebih fokus memberikan opsi sumber daya yang beragam misalnya dengan meningkatkan kapasitas di negara netral seperti Jepang untuk mengurangi risiko ketergantungan pada satu wilayah yang rawan konflik.
AI: Gelembung atau Revolusi Produktivitas?
Pesatnya perkembangan AI memicu kekhawatiran klasik: apakah ini hanya gelembung ekonomi (bubble) yang siap meletus? Sanghi menarik paralel sejarah yang menarik antara fenomena AI saat ini dengan era awal internet.
Teknologi transformatif kerap melalui siklus euforia, diikuti oleh koreksi pasar, sebelum akhirnya matang menjadi utilitas sehari-hari.
"Nilai sesungguhnya dari AI akan terlihat ketika teknologi ini mampu memberikan keuntungan produktivitas dan hasil bisnis yang berkelanjutan," ujarnya.
Sikap hati-hati namun optimis ini mencerminkan pendekatan industri yang tidak ingin terjebak dalam hype semata. Investasi pada AI tetap dilakukan sebagai alat efisiensi, namun perusahaan teknologi yang bijak tetap mempertahankan portofolio yang beragam.
Keseimbangan antara inovasi baru dan teknologi warisan (legacy technology) menjadi kunci ketahanan bisnis jangka panjang.
Krisis Budaya STEM di Amerika Serikat
Di luar isu teknis dan geopolitik, tantangan terbesar industri semikonduktor ternyata berakar pada sumber daya manusia (SDM).
Baca Juga: Konten Berbasis AI Bakal Makin Dominan di Medsos Tahun 2026
Sanghi menyoroti fenomena yang mengkhawatirkan di Amerika Serikat, di mana minat terhadap bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika) tertinggal jauh dibandingkan wilayah lain.
Ada tantangan budaya yang unik di AS. Profesi di bidang sains dan teknik harus bersaing keras dengan daya tarik industri hiburan dan olahraga profesional yang lebih glamor di mata generasi muda.
"Meskipun banyak negara terus menghasilkan insinyur dalam jumlah besar, Amerika Serikat menghadapi tantangan budaya dan pendidikan yang unik," kata Sanghi.
Solusinya, menurut dia, bukan sekadar perbaikan kurikulum, melainkan perubahan ekosistem.
Program kompetisi robotik seperti FIRST Robotics dan VEX Robotics dinilai krusial. Namun, cakupannya harus diperluas secara masif.
Sanghi mengusulkan visi di mana tim STEM di sekolah menengah mendapatkan apresiasi dan dukungan yang setara dengan tim olahraga sekolah. Tanpa intervensi kultural semacam ini, AS berisiko kehilangan daya saing inovasinya di masa depan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
Cara Mengecek HP Disadap atau Tidak, Lakukan Pemeriksaan Ini
-
2026 Siap Ganti HP? Ini 5 HP Terbaru Harga Rp2 Jutaan, Layar AMOLED Baterai Jumbo
-
Xiaomi Rilis Redmi Soundbar Speaker 2 Pro 2026, Harga Lebih Terjangkau
-
5 Rekomendasi HP Oppo RAM 8 GB Terbaik 2026, Performa Gacor!
-
Oppo Reno 15 Pro Mini Debut: Bodi Mirip iPhone 17, Harga Lebih Murah
-
68 Kode Redeem FF Terbaru 9 Januari: Raih Bundle Nightmare dan Skin Heartrocker
-
Berapa Harga POCO M8 Pro 5G? HP Kelas Menengah Rasa Flagship, tapi Minus Fitur Ini!
-
7 Laptop Gaming di Bawah Rp10 Juta Paling Worth It, Nge-Game Berat Lancar Jaya
-
Huawei MatePad 12 X 2026 Resmi Hadir di Indonesia, Tablet Tipis Rasa PC dengan Desain Ringkas
-
Mantan Sutradara Assassin's Creed: Tim Kecil Bakal Jadi Masa Depan Game AAA