- AkuSign memperkuat ekosistem tanda tangan elektronik tersertifikasi untuk menangkal ancaman kejahatan siber berbasis AI di Indonesia.
- Kolaborasi dengan AITI dilakukan guna mengedukasi masyarakat mengenai keamanan dokumen digital yang rentan terhadap manipulasi deepfake.
- Penggunaan tanda tangan elektronik tersertifikasi melalui PSrE wajib dilakukan agar dokumen memiliki kekuatan hukum sah sesuai regulasi.
Suara.com - Gelombang kejahatan siber berbasis kecerdasan buatan atau deepfake AI mulai menjadi ancaman serius bagi dunia digital Indonesia.
Tidak hanya menyerang data pribadi, teknologi AI kini juga mampu memanipulasi dokumen elektronik hingga memalsukan tanda tangan digital dengan semakin meyakinkan.
Kondisi mendorong AkuSign memperkuat ekosistem tanda tangan elektronik (TTE) tersertifikasi untuk menghadapi lonjakan ancaman kejahatan siber berbasis kecerdasan buatan atau AI-powered fraud, yang semakin marak di Indonesia.
Langkah tersebut diumumkan dalam acara AkuSign Experience Day dimana perusahaan juga mengumumkan kolaborasi strategis dengan Asosiasi IT Indonesia (AITI) guna mempercepat edukasi dan memperluas penggunaan TTE tersertifikasi di berbagai sektor bisnis.
CEO ASABA Innotech selaku perusahaan induk AkuSign, David Hartono, mengatakan masih banyak masyarakat yang belum memahami fungsi sebenarnya dari tanda tangan digital.
“Mayoritas orang masih melihat tanda tangan digital sebatas alat untuk menandatangani dokumen. Padahal, fungsinya jauh lebih luas dan krusial bagi berbagai industri yang tengah menghadapi disrupsi digital,” ujar David Hartono.
Menurutnya, teknologi TTE tersertifikasi kini sangat penting untuk mendukung efisiensi layanan digital, termasuk di sektor perbankan.
“Namun perlu dicatat, agar legalitasnya diakui secara sah, proses tersebut wajib menggunakan layanan dari PSrE (Penyelenggara Sertifikasi Elektronik),” katanya dalam keterangan resminya, Kamis (21/5/2026).
Deepfake AI Dinilai Jadi Ancaman Baru Dokumen Digital
Baca Juga: Telkomsel Catat Laba Rp19,7 Triliun di 2025, Fokus Perkuat AI dan Ekosistem Digital Indonesia
AkuSign menilai masih banyak organisasi yang keliru menganggap scan tanda tangan atau gambar tanda tangan di file PDF sudah cukup aman dan sah secara hukum.
Padahal, metode tersebut dinilai rentan dimanipulasi menggunakan teknologi AI seperti deepfake dan tidak memiliki kekuatan hukum yang kuat.
Deputi Bidang Keamanan Siber dan Sandi Pemerintah dan Pembangunan Manusia BSSN, Sulistyo, menegaskan keamanan digital kini menjadi fondasi penting dalam ekosistem digital nasional.
“Penerapan sistem keamanan yang kuat, perlindungan data, serta penggunaan tanda tangan elektronik tersertifikasi adalah instrumen krusial untuk membangun digital trust baik di sektor pemerintahan maupun bisnis,” ujarnya.
Sementara itu, Direktorat Keamanan Informasi Kementerian Komunikasi dan Digital, Martha Simbolon, mengatakan TTE tersertifikasi memiliki perlindungan berbasis kriptografi yang sulit dipalsukan teknologi AI.
“TTE tersertifikasi bukanlah coretan yang kasat mata, melainkan sistem yang dilindungi teknologi kriptografi dan sertifikat elektronik,” jelas Martha Simbolon.
Berita Terkait
-
Terpopuler: Kumpulan Prompt AI Edit Foto Crayon Style, Update Harga HP Tecno Mei 2026
-
Kumpulan Prompt AI Edit Foto Masa Kecil vs Masa Kini, Hasil Estetik dan Emosional
-
Ancaman AI Fraud dan Deepfake Meledak di Indonesia, Indosat Ungkap Risiko Siber Makin Ganas
-
Kumpulan Prompt AI Edit Foto Crayon Style yang Lagi Viral, Hasilnya Lucu dan Estetik
-
Anies Baswedan dan Najelaa Shihab Soroti Bahaya AI bagi Pelajar: Otak Bisa Malas Berpikir
Terpopuler
- Film Pesta Babi Bercerita tentang Apa? Ini Sinopsis dan Maknanya
- Bantah Kepung Rumah dan Sandera Anak Ahmad Bahar, GRIB Jaya: Kami Datang Persuasif Mau Tabayun!
- Koperasi Merah Putih Viral, Terekam Ambil Stok dari Gudang Indomaret
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
Pilihan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
-
'Desa Nggak Pakai Dolar' Prabowo Dikritik: Realita Pahit di Dapur Rakyat Saat Rupiah Tembus Rp17.600
Terkini
-
Game Anyar World of Tanks HEAT Segera Debut, Ada 15 Kendaraan Kustom
-
4 HP Motorola RAM 8 GB dan Baterai Awet Seharian, Termurah Mulai Rp2 Jutaan
-
21 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 21 Mei 2026: Bocoran TOTS Rilis, Sikat Icon Marco Van Basten
-
Telkomsel Catat Laba Rp19,7 Triliun di 2025, Fokus Perkuat AI dan Ekosistem Digital Indonesia
-
29 Kode Redeem FF Terbaru 21 Mei 2026: Sikat Habis M82B Golden dan Skin Katana Keren
-
Daftar Harga HP Infinix Seri Note Terbaru 2026, Midrange Spek Kencang
-
ITSEC Asia Perkuat Keamanan Siber dan AI Indonesia, Talenta Muda 14 Tahun Jadi Sorotan
-
Terpopuler: 5 HP Snapdragon Kencang di Bawah Rp2 Juta, Laptop Ultra-Tipis Lenovo
-
HP Murah Infinix Hot 70 Siap ke Indonesia: Usung Memori Lega 256 GB, Bodi Unik
-
Nomor HP Akan Terintegrasi dengan Akun Media Sosial, Ini Respons XLSmart