wawancara / wawancara
Arsito Hidayatullah | Hairul Alwan
Ilustrasi wawancara khusus. Wali Kota Tangerang Selatan Benyamin Davnie. [Foto dan olah gambar: Suara.com]

Suara.com - Setelah menjabat Wakil Wali Kota selama dua periode, Benyamin Davnie akhirnya kini duduk di kursi pimpinan sebagai Wali Kota Tangerang Selatan. Benyamin terpilih menjadi Wali Kota Tangsel bersama Wakilnya Pilar Saga Ichsan dalam helatan Pilkada Serentak akhir 2020 lalu.

Di ajang Pilkada tersebut, Benyamin dan Pilar mengusung visi-misi mewujudkan Tangsel unggul, menuju Kota Lestari, saling terkoneksi, serta efektif dan efisien. Berbekal pengalamannya di pemerintahan terutama sebagai wakil wali kota, Benyamin fokus terhadap berbagai program pelayanan dasar bagi masyarakat, yakni kesehatan, pendidikan dan ekonomi sosial.

Di tengah pandemi Covid-19 yang masih berlanjut, Benyamin dan Pilar pun kini harus siap berjibaku merealisasikan program mereka, sembari menjaga kesinambungan dengan program pemerintahan sebelumnya yang dipimpin Airin Rachmi Diany. Bagaimana caranya mewujudkan Tangsel Unggul sesuai visi-misinya?

Simak hasil wawancara khusus Suara.com beberapa waktu lalu dengan Benyamin Davnie berikut ini.

Baca Juga: Sejarah dan Asal Usul Serpong, Dulu Tempat Perang, Kini Jadi Kawasan Elit

Bagaimana perasaannya setelah naik jabatan menjadi Wali Kota Tangsel, setelah sebelumnya menjadi wakil wali kota dua periode mendampingi Airin?

Saya mencoba beradaptasi. Tentunya dengan posisi ini mengingat tanggung jawabnya besar, tapi satu sisi saya tidak ingin kehilangan jati diri saya seperti Benyamin yang seperti teman-teman wartawan tahu. Jadi keseimbangan itu yang sedang saya nikmati dan jalani. Memang awal-awal kaget, surprise, (bahwa) saya sudah jadi wali kota. Ya, menyadarkan diri akan tanggung jawab.

Alasannya mau mendampingi Airin sebagai wakil wali kota dulu seperti apa?

Awal itu kan 2010-2011 di periode pertama. Saya waktu kenalan sama ibu (Airin), salaman sama ibu, beliau menggenggam salaman saya dengan erat. Dari situ saya tahu, ibu punya karakter kepemimpinan yang kuat dan ini dibutuhkan oleh Tangsel.

Kenapa saya katakan demikian? Karena desain kajian awal pembentukan Tangsel saya meluncurkan itu sebagai Kepala Bappeda di Kabupaten Tangerang. Makanya bersalaman dengan ibu, genggamannya (terasa) tidak sama seperti perempuan lainnya. Ini lebih kuat. Terjalin chemistry dari genggaman itu. Itulah pertama kali, pertama kali, saya kenal ibu. Kalau aktivitas beliau sebagai Ketua PMI dan sebagainya, saya sudah ikuti di media ya. Tapi ketemu langsung bicara soal duet, pada titik itu.

Baca Juga: Ulama Banten, Abuya Muhtadi Dimyathi: Tolong Bersama Jaga Moral Anak Bangsa

Dulu semasa Airin dikenal tagline "Tangsel Cantik". Lalu, ada tagline apa untuk periode pemerintahan saat ini? Serta apa program prioritas pembangunan selama satu periode?

Yang pertama, prioritas tetap kepada pendidikan, kesehatan dan infrastruktur. Ditambah prioritas kedua saat ini disiplin masyarakat, karakter, soal kebersihan, kreativitas, soal ekonomi mikro, itu menjadi prioritas-prioritas lain ke depan. Dan juga taglinenya, saya becanda sih sama teman-teman: "Tangsel Benyamin", Bersih, Nyaman, Indah. Supaya Tangsel jadi bersih, Tangsel jadi nyaman, harus dijaga, selain protokol kesehatan juga kamtibmasnya. Indah, soal penghijauan, kota lestari. Becanda sih sama teman-teman. Tapi paling tidak, di visi-misi saya (ada) "Tangsel unggul", harus unggul.

Kalau tidak salah, ada lima misi yang digaungkan saat Pilkada. Apa saja ya?

Unggul, Kota Lestari, kemudian saling terkoneksi, efisien dan efektif.

Tahun pertama ini, apa yang akan direalisasikan lebih dulu, dalam waktu dekat?

Saya sedang melaksanakan APBD hasil perencanaan APBD 2020 lalu. Tapi saya juga turut mewarnailah, karena saya sudah punya rencana-rencana ke depan ini. Bukan dalam konteks kekuasaannya, tetapi Tangsel ke depan ini harus jadi seperti apa.

Makanya yang pertama sedang saya prioritas tangani adalah virus coronanya dulu. Pengendalian virus corona ini, apalagi (karena) ada varian baru. Kemudian juga setelah penanganan corona ini dilakukan, saya mencoba mendinamisasi temen-temen OPD. Saya lakukan kaji ulang terhadap rencana kegiatan mereka.

Di bidang pembangunan jalan misalnya, infrastruktur, ketika kita mencoba untuk ketika tidak melakukan pelebaran jalan, maka optimalisasi dari badan jalan yang ada harus kita lakukan. Artinya kalau ada sedikit bahu jalan, sedikit masih tanah, maka akan kita lakukan penetrasi dengan aspal tidak terlalu keras. Dan juga gorong-gorong. Sekarang yang sedang saya mintakan ke PU untuk dilakukan pembenahan gorong-gorong, apakah (itu) ada kegiatannya di APBD atau melalui program lainnya.

Seperti pendidikan, kita lagi mencoba menangani dua hal. Pertama PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) di tengah pandemi ini harus berjalan lancar. Kemudian juga soal belajar tatap muka, juga masih dilakukan kajian-kajian. Kita lihat perkembangan Covid-nya seperti apa. Apakah akan memulai sekolah tatap muka atau seperti apa. Tapi targetnya Juli-lah, tergantung Covid. Kalau Juli Covid-nya naik lagi, jangan sekolah tatap muka. Atau ketika kita buka sekolah tatap muka, Covid naik atau ada kluster baru di pendidikan, itu saya tutup. Saya tidak ragu ambil kebijakan seperti itu.

Kalau kesehatan, otomatis ya. Pandemi ini, teman-teman (OPD) saya mintakan Dinas Kesehatan, jajaran medis, untuk menyemangati mereka dan menegakkan prokes.

Ada integrasi program dengan periode pemerintahan sebelumnya?

Kesinambungan pembangunan itu mutlak bagi proses pemerintahan. Siapa pun pemerintahnya, nyambung atau nggak, meneruskan atau nggak, kesinambungan pembangunan itu mutlak buat pemerintahan. Makanya saya akan melanjutkan apa yang sudah dibangun Bu Airin.

Dalam skala makronya, Bu Airin sudah membangun rumah dan kota kita secara fisik konstruksi. Maka saya akan terus membangun sumber daya yang mengisi rumah tersebut, melalui pendidikan, melalui sandang-pangan, melalui ekonomi mikro, kesehatan, banyak hal. Justru di situ kesinambungannya. Bukan justru Bu Airin membangun jalan di sini, saya membangun jalan di sebelah lainnya. Nggak begitu. Saya orang Bappeda lama ya, jadi buat saya itu mutlak banget, banget. Kalau nggak mutlak, banyak kerugian yang akan diderita dan ditanggung.

Apa program di periode sebelumnya yang harus ditingkatkan lagi ke depannya?

Misalnya pembangunan infrastruktur sekolah dasar dan menengah, itu masih ada beberapa yang belum terealisasi karena keterbatasan anggaran. Itu akan kita lanjutkan. Dan juga di bidang kesehatan. Ibu Airin sudah membangun rumah sakit tipe C di Pondok Aren dan Serpong Utara, saya akan membangun rumah sakit tipe D ke depan. Paling tidak tiga rumah sakitlah.

Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie saat melakukan kunjungan ke fasilitas rumah sakit di daerahnya. [Instagram @benyamindavnie/capture]

Intinya, dari puskesmas yang ada saat ini, saya tingkatkan kelasnya jadi tipe D. Misalnya Setu, (itu lokasinya) ke Pamulang jauh, ke Serpong jauh, ke Pondok Aren jauh, jadi Puskesmas Setu kita tingkatkan menjadi rumah sakit tipe D. Jadi layanan kesehatan ini kita dekatkan sedekat-dekatnya dengan masyarakat. Jadi konsep sinambungnya begitu. Terkait kesinambungan infrastruktur, ini mutlak, karena kita daerah otonom baru. Kenapa tiga hal tadi? (Karena) Itu layanan dasar, urusan wajib. Itu yang harus dilakukan.

Pembangunan infrastruktur selama 10 tahun pada periode sebelumnya bagaimana, dan ke depan akan seperti apa?

Ya, alhamdulillah ya, dari sisi kuantitatif sudah banyak infrastruktur jalan. Itu sekarang sudah 400 km lebih jalan di Kota Tangerang Selatan milik Pemkot, itu sudah sangat baik dengan konstruksi beton. Kemudian saya nanti akan melengkapi dengan drainase yang maksimal.

Saya sudah bicarakan dengan teman-teman dinas, mungkin 2022 karena anggaran baru berjalan nanti. U-ditch-nya itu, drainase di samping kanan kiri-jalan, kalau sekarang mungkin tingginya hanya 60-80 cm, saya ingin lebih dari itu, misalnya 1,2 meter. Karena untuk memperbanyak daya tampung debit airnya. Karena dengan 60-80 cm ditambah dengan sedimen pasir atau tanah, sendal jepit segala macam, kan makin sedikit air yang dapat tertampung.

Jadi jalan-jalan kita sudah relatif bagus. Tidak mustahil juga nanti untuk menambah nyaman masyarakat, jalan yang sudah dibeton ini saya akan penetrasi ulang dengan aspal yang overlay. Ada beberapa ruas jalan. Dan itu sudah didiskusikan dengan dinas, tinggal gas. Karena membangun jalan baru prosesnya panjang. Saya pengen di kali-kali itu, di garis sempadan sungainya dibangun jalan. Ya, sekarang itu prosesnya panjang lah, nggak mudah itu.

Soal dampak pandemi ke perekonomian, apa yang akan coba dilakukan untuk membangun ekonomi ke depan?

Semua sisi kehidupan ekonomi terdampak banget ya. Angka yang saya dapat, UMKM itu sirkulasi penjualannya menurun hingga 60 persen. Kemudian ekonomi misalnya bisnis kuliner kita, juga itu turun 60-65 persen dari data BPS. Tingkat hunian hotel juga. Sekarang (baru mau) bangkit lagi.

Makanya kebijakan Bu Airin waktu itu menyeimbangkan antara ekonomi dan kesehatan. Jangan dulu-duluan, kesehatan dulu, ini dibelakangin. Itu nggak bisa. Kita harus berjalan beriringan. Intinya protokol kesehatan itu yang akan saya tekankan ke depan.

(Terkait) Ekonomi ini saya sudah melakukan pertemuan dengan banyak UKM. Dinas-dinas saya dorong untuk segera belanja modal yang terkait dengan pembinaan UMKM, bantuan modalnya, peralatannya, pembinaan teknisnya, marketing-nya segala macam, itu saya dorong teman-teman untuk segera-segera. Nanti kami ke depan, dalam kondisi seperti ini ingin menciptakan ruang proses ekonominya harus berjalan. Supply dan demand harus ketemu. Mereka UMKM memproduksi makanan-makanan, tinggal kita nyiapin pembelinya.

Di tengah pandemi ini kita gencarkan marketing online. Kita sedang melakukan pelatihan, langsung dari kita dibantu dengan vendor dan pebisnis yang lain, (itu) sudah kita lakukan. Nanti kalau angka Covid-nya turun dan landai, saya ingin menciptakan pasar antara produsen dengan pembeli itu ya. Saya inginnya ngadain Festival Situ (Setu). Ada 9 situ. Kami siapkan konsepnya, ajak pihak ketiga. Tapi yang pertama yang dilakukan, saya akan lapor dulu ke Kementerian PU sebagai pemilik situ itu.

Saya juga berpikir akan membuat festival pesantren tingkat nasional. Di Tangsel ini, itu potensi. Selain potensi pengembangan SDM, juga potensi pengembangan ekonomi juga. Dari pesantren kita yang berbau Islami dari muridnya yang cuma 500-1.000, ada juga yang 1.000-3.000, (itu) ada di kita. Mereka hebat-hebat, inovasinya banyak, tinggal kami menciptakan ruangnya. Kalau sekarang ini, saya tahan dulu soal bazar karena akan menciptakan kerumunan. Tapi kita imbangi dengan marketing online.

Untuk membangun SDM unggul, program konkretnya seperti apa?

Gambaran singkatnya, anak-anak tidak hanya pintar matematika, tapi juga bisa pintar bikin kue. Pintar matematika bisa mengolah sampah, pintar matematika tapi hafal satu juz (Alquran). Apakah ini anak SD (atau) SMP. Artinya, saya ingin tambahkan jam belajar mereka, (tambahkan) pembelajaran karakter. Ketika mereka tumbuh dewasa, mereka punya ilmu (dari) sekolah, tapi (juga) ilmu-ilmu lain yang tidak diterapkan di sekolah.

Nanti kita datangkan pakar-pakar di bidang IT. Saya ingin ajak anak SD ke Puspitek belajar teknologi. Saya ingin skill-nya yang kita dorong, di situ unggulnya. Ketika dia tamat sekolah, (jadi) sarjana bisa mengolah sampah, jago di bidang IT. Itu akan mewujudkan SDM unggul. Memang soft skill ini bukan jangka pendek, tapi jangka panjang, makanya harus sejak dini.

Soal visi Kota Lestari, itu bagaimana konsepnya?

Intinya keharusan ruang terbuka hijau (RTH) menurut UU Tata Ruang wilayah yang harus 30 persen, itu akan saya dorong. Artinya 10-20 tahun ke depan ini, Tangsel akan saya dorong bisa menjadi hunian yang layak bagi generasi ke depan. Kota Lestari ini saya bangun pondasinya hari ini, tapi arahnya untuk generasi berikutnya.

Dalam waktu dekat, saya ingin hijaukan Tangsel dengan menanam pohon. Ada tiga jenis pohon yang ingin saya tanam: pohon trembesi, tabebuya, dan lainnya flamboyan atau kembang kertas, yang penting hijau. Ruang-ruang kecil di jalan yang ada tanami saja, daripada tanah kita tanamin. Paling tidak ada tiga taman kota, (Taman Kota) 1, 2, dan Taman Kota Jombang.

Targetnya itu dalam skala yang besar. Tetapi paling tidak, lahan-lahan aset kita, saya sedang minta diinventarisir, mungkin dalam waktu dekat. Aset kita di mana, kemudian apa perencanaannya dalam tata ruang. Kalau belum ada perencanaan, tanami, bikin dia jadi taman kecil, walaupun luasnya 200-300 meter. Daripada itu sengketa tempat penjualan, mending dijadikan taman. Kalau lebih luas, jadi sarana olahraga warga.

Kalau pengembangan Taman Kota 2 yang disebut sebagai "Venice Italia" itu, pengembangannya ke depan akan seperti apa?

Memang Taman Kota 2 ini potensi besar bagi Kota Tangerang Selatan, jadi ikonik. Bu Airin sudah membenahi sedemikian rupa. Tapi ke depan, supaya bisa dinikmati dan lebih berkembang, saya diskusikan dengan swasta yang punya pengalaman dalam pengelolaan taman.

Mungkin saja kami akan kerja sama dalam pengelolaan taman ke depannya. Sudah ada beberapa pihak yang menyatakan siap. Tapi ke depan, intinya Taman Kota 2 Jaletreng itu ingin betul-betul taman airnya ada, taman edukasinya ada, taman olahraganya ada, jadi tempat hangout anak-anak muda kita. Saya belum lihat ada contohnya di mana, tapi membayangkan ada perahu, ada semua fasilitas, itu luar biasa.

Masih berkaitan dengan Kota Lestari, sekarang soal penanganan sampah. Tahun lalu kan sempat heboh itu TPA Cipeucang jebol. Ke depan akan seperti apa?

Memang saya sudah minta sejak awal, mendorong untuk menyelesaikan percepatan final business case-nya untuk PLTSA itu, untuk percepatan fokus pembangunan PLTSA. Hanya teknologi yang dapat membantu percepatan penanganan sampah per hari 1 ribu ton itu dengan posisi 1.500.000 kepala keluarga. Kalau nambah jumlah penduduknya, mungkin jumlah sampah juga akan nambah. Dengan luas lahan yang terbatas, ya, teknologi jawabannya untuk menangani sampah di Tangsel ini.

Kita sudah diasistensi oleh Korpsurgah KPK, diasistensi oleh Kementerian PUPR, Kementerian Lingkungan Hidup. Mudah-mudahan 2022 sudah groundbreaking, bahkan PLTSA sudah berproses. 2021 ini (semoga) final case selesai, lalu tender internasional, peletakan batu pertama. Lahannya kan cuma lima hektare, tidak terlalu luas, mudah-mudahan 2022 berjalan.

Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie (kedua dari kanan) bersama wakilnya Pilar Saga Ichsan saat pelantikan. [Instagram @benyamindavnie/capture]

Tangsel sudah punya TPST3R ya. Itu sudah seberapa jauh optimalnya?

Betul, itu juga menjadi perhatian kita, (soal) penanganan sampah dari rumah. Pola pembuangannya dulu kan sampah ada setiap hari. Saya juga sudah komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Tangerang untuk bisa membuang sampah ke TPA Jatiwaringin di Mauk, Kabupaten Tangerang. Selain itu, saya juga mendorong TPST3R dan bank sampah aktif lagi. Saya akan memberikan insentif bagi pelaku bank sampah yang neraca pembukuannya bagus, apakah kita kasih motor atau apa. TPST3R juga begitu.

Saya (juga) sekarang sedang mengembangkan, saya sendiri dan teman-teman di pemerintahan, dari sampah yang kita produksi (agar) air lindinya itu menjadi pupuk organik. Kemudian saya ingin dapatkan kutu air untuk makanan ikan hias, karena ikan hias di Tangsel sudah ekspor ke berbagai negara, (seperti) ikan cupang dan lainnya. Makannya kutu air dari got. (Nah) Ini dari sampah, jadi enggak bakal ada nyamuk.

Soal pemerintahan yang efektif dan efisien sekaligus mencegah korupsi, itu bagaimana Anda akan mewujudkannya?

Saya sudah koordinasi dengan Pak Kejari, Korpsurgah KPK, untuk meminta pendampingan. Walaupun dari kejaksaan sudah tidak ada TP4D, tapi mereka tetap membuka diri untuk melakukan pendampingan. Sejak awal perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi, kita minta dampingi dari kejaksaan.

Kemudian saya juga bukan hanya membangun kontrak politik dengan bawahan saya di OPD, tapi mereka juga harus mematuhi bahwa pencegahan korupsi dari pelaksanaan. Saya sudah meminta ke BPKP Banten untuk melakukan pendampingan, dan (dengan) KPK akan kami terus jalin komunikasinya. Silakan mereka ke sini kapan-kapan, melakukan briefing atau coaching teman-teman di OPD.

Kedua juga, kami meminta perbantuan dari perbankan, (soal) yang tidak terpikirkan teman-teman saya di bawah. Mereka harus punya sertifikat manajemen risiko. Kalau mereka punya kegiatan A, mereka harus menghitung manajemen risiko. Kalau hujan bagaimana, kalau terjadi keterlambatan barang bagaimana, kalau kekurangan orang bagaimana, dan sebagainya. Mereka harus punya kemampuan manajemen risiko. Mungkin dalam waktu dekat, sehabis lebaran akan berjalan. Tidak hanya kepala dinas, tapi semua PPTK harus ikut sertifikasi kemampuan menghitung risiko, (tahu) setiap rupiah yang dibelanjakan akan ke mana.

Kalau soal smart city Tangsel, ke depan akan seperti apa?

Saya sudah meminta Kominfo untuk melakukan perampingan dan mengevaluasi lagi semua aplikasi yang dimiliki oleh kita. Banyak, ada 120 lebih. Kita coba evaluasi satu-satu, mana yang bisa kita jalankan dan mana yang harus diperbarui.

Kedua, selain perampingannya, juga soal sosialisasi (agar) bisa masuk ke masyarakat. Seperti misalnya Siaran Tangsel. Di situ masyarakat bisa melaporkan jalan bolong, banjir, dan lainnya. Tapi dari warga 1,7 juta, berapa orang sih yang tahu Siaran Tangsel? (Aplikasi) Simponi, untuk memproses perizinan, berapa orang sih yang tahu? Apalagi sekarang sudah ada mal pelayanan publik, kan sudah terintegrasi semua. Jadi seperti apa daya guna aplikasinya di masyarakat. Kalau di kami, mungkin relatif sudah selesai. Tapi di masyarakat ini yang akan kita dorong.

Tapi kendalanya apa sih, kok bisa nggak optimal?

Sosialisasi ke masyarakat belum masif. Secara sistem sudah bagus, sudah jadi aplikasi malah. Jadi saya sudah mintakan juga evaluasi ini, berapa orang yang sudah memanfaatkan aplikasi, berapa orang disurvei secara random. Saya ingin lihat smart city ini jadi kewajiban pemerintah daerah, kemudian juga (dapat) lebih mengefisienkan capaian kinerja. Jangan sampai temanya global smart city, tapi nggak bermanfaat buat masyarakat.

Tangsel juga kan dikenal dengan (daerah) "1.000 ormas" ya. Bagaimana kira-kira cara Anda merangkul mereka agar tidak meresahkan?

Ya, memang betul ya. Prinsipnya bahwa tokoh masyarakat tergabung dalam satu organisasi, itu bagus. Tetapi saya sekarang ini melihat mereka lebih berkumpulnya secara fisik. Saya ingin ajak mereka berkumpul secara daya pikir, tidak perlu datang bergerombol. Saya sudah bicarakan ini dengan Pak Kapolres. Mungkin nanti Pak Kapolres dengan Kesbangpol akan mengajak bertukar pikiran.

Mereka tidak bisa begini terus, mengandalkan otot dan tenaga. Selama ini mereka jalan masing-masing, sehingga yang muncul adalah ego masing-masing organisasinya itu sendiri. Saya dulu aktif juga di organisasi. Ke depan saya coba ingin komunikasikan dengan ormas-ormas di Tangsel. Mereka ini potensi. Tapi jangan salah, kalau mereka membuat pelanggaran atas hukum, ya, saya juga nggak akan ragu menegakkan hukum. Tidak tebang pilih, kalau salah ya salah.

Soal penanganan Covid di Tangsel, sampai saat ini bagaimana?

Alhamdulillah sih, sampai sekarang indikasinya dari misalnya keterisian ICU di kita, yang kepakai cuma 49 persen. Itu sudah turun jauh. Ruang isolasi sudah 40 persen. Kepatuhan PPKM sudah di 88 persen. Tingkat kesembuhan kita tinggi, sampai 92 persen. Angka kematian kita sedang turun sekali dibandingkan dengan bulan lalu, di minggu pertama angkanya turun. Ini menunjukkan time response penanganan Covid cukup bagus. Rumah Lawan Covid kita tinggal 42. Hari ini (saat wawancara menjelang Idul Fitri lalu --Red) ada sejumlah pasien juga yang akan pulang. Peta kita oranye dengan risiko sedang.

Satu lagi, soal Tugu Pamulang yang sempat viral itu, harapan Anda ke depannya soal ini bagaimana?

Saya harap Pemerintah Provinsi Banten membuat tugu yang representatif, sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal yang ada di Tangerang Selatan. Asalkan jangan berbentuk patung, karena ditentang oleh para ulama. Kedua, (soal) arsitekturnya, bundaran itu kurang dari 20 meter, jadi tidak sesuai dengan bentuk tugunya. Kalau mau dibangun lagi, harapannya kami diajak berdiskusi oleh Pemprov, bagusnya seperti apa.

Saya sudah mengumpulkan ide dari anak-anak muda dan seniman di Tangsel soal bentuk tugu tersebut. Tapi selama ini (kan) tidak diajak komunikasi, tahu-tahu dibangun. Yang saya tahu, dulunya mau bikin patung (itu) diprotes. Kemudian mau dibikin Menara Banten, itu bagus, tapi kenapa jadinya begitu. Kita sudah buat sayembara setahun lalu, sebelum Covid, mengumpulkan ide anak-anak muda banyak yang ditampilkan. Tapi ya, kembali ke Provinsi.

Kontributor : Wivy Hikmatullah

Komentar