/
Kamis, 20 Oktober 2022 | 10:41 WIB
Preisden Jokowi saat hadir di Trade Expo Indonesia ke-37 tahun 2022 di ICE, BSD City, Tangerang. Korea Selatan menagih janji pemerintah Indonesia membayar tunggakan dalam program KF-21. (Antara)

SuaraBadung.id - Pemerintah Korea Selatan mengungkap rasa kecewanya pada pemerintah Indonesia.

Mereka mempertanyakan komitmen dan tanggung jawab Indonesia lantaran telah menunggak pembayaran atas program pengembangan jet tempur generasi 4,5 KF-21 Boramae selama lima tahun, yang kini malah menjadi utang.

Utang Indonesia akibat belum bayar iuran tersebut diungkap Kepala Badan Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) Korea Selatan, Eom Dong Hwan.

Dia mengatakan, Indonesia terakhir kali membayar partisipasinya dalam program KF-21 adalah pada 2017.

Kemarahan Korea Selatan ini semakin menjadi lantaran hingga saat ini dikatakan Eom, Indonesia belum mengklarifikasi kapan akan menyelesaikan iuran yang tertunggak. 

Dia sangat berharap jika Indonesia sanggup membayar utang tersebut secara diangsur alias dicicil.

"Walaupun mereka (Pemerintah Indonesia) tidak bisa sekaligus membayar, kami sangat berharap mereka bisa mencicil," lanjutnya seperti dikutip Defence Security Asia.

Sejauh ini dikatakan Eom, Indonesia baru bisa menyelesaikan sekitar 30 persen dari pembayaran yang seharusnya dilakukan pada Korea Selatan.

Apa yang diungkap Eom ini diberitakan media Korea Selatan. Mereka mencatat, pemerintah Indonesia masih menunggak 671 juta dolar AS dari total pembayaran 1,3 miliar dolar AS.

Baca Juga: Meskipun Hanya Satu Ayat, Anak Sebaiknya Diajarkan Mengaji oleh Orang Tuanya Sendiri, untuk Apa? Berikut Penjelasan Ustaz Adi Hidayat

Dia menduga jika tunggakan Indonesia ini disebabkan oleh masalah keuangan yang yang sedang dihadapi.

Meski Indonesia dan Korea Selatan telah setuju dengan program mengembangkan KF-21 bersama, namun kasus ini bisa membuat Korsel tidak puas akan sikap Indonesia.

Kegagalan Indonesia kata Eom akan memicu ketidakpuasan beberapa pihak di Korea Selatan. 

Lebih dari itu, mereka juga meminta membatalkan keikutsertaan Indonesia dalam program tersebut.

Apa yang diungkap Eom ini rupanya membuat publik Korea Selatan ikut marah.

Sebagai informasi, Indonesia dan Korea Selatan menandatangani kesepakatan pada 2010 untuk bekerja sama dalam program pengembangan KF-21. 

Baik DAPA dan Korea Aerospace Industries (KAI) berkomitmen dan siap bertanggung jawab untuk mengembangkannya.

Dalam perjanjian itu, Indonesia setuju membayar 20 persen dari total biaya pengembangan jet tempur.

Jika dikalkulasi program jet tempur tersebut diperkirakan mencapai 6,67 miliar dolar AS. (*)

Load More