SuaraBandung.id - Anak buah Jenderal bintang empat Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo berat hati menghadapi rentetan persidangan dan hukuman yang harus dijalaninya lantaran diduga terlibat dalam kasus pembunuhan Brigadir J.
Eks Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Ridwan Soplanit mempertanyakan pada Ferdy Sambo mengapa dirinya bersama yang lain harus dikorbankan dalam kasus yang tidak pernah ada di dalam mimpinya itu.
Dalam kejadian tersebut, skenario palsu yang dibuat Ferdy Sambo terkait kematian Brigadir J atau Nofriansyah Yosua Hutabatat berimbas kepada banyak pihak.
Banyak para anggota Polri yang terlibat secara tidak langsung dan tanpa disadari, seakan membenarkan tindakan Ferdy Sambo yang menghabisi nyawa Brigadir J.
Misal seperti yang diungkap eks Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Ridwan Soplanit.
Ridwan Soplanit harus mendapat hukuman demosi selama 8 tahun karena dianggap kurang profesional.
Dia disebut tidak profesional dalam penanganan kasus penembakan di rumah dinas Ferdy Sambo tersebut.
Bukan itu saja, dampak dari kasus tersebut, dia sampai harus ditempatkan di tempat khusus atau Patsus Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat selama 30 hari.
Ridwan pada Selasa (29/11/2022) hari ini kembali hadir sebagai saksi dalam sidang lanjutan atas terdakwa Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi.
Baca Juga: Punya Pemilih Loyalis, Teddy Gusnaidi Wajarkan Jokowi Endorse Capres Melulu
Dalam persaksiannya, Ridwan mengutarakan perasaannya kepada Ferdy Sambo yang ada tidak jauh dari tempatnya duduk.
Majelis hakim awalnya bertanya pada Ridwan, tentang dirinya yang ditempatkan di patsus usai dicopot dari jabatannya sebagai Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan.
Ridwan kemudian menjawab semua pertanyaan hakim, termasuk jawaban tentang 30 hari berada di patsus hingga pada akhirnya mendapat hukuman demosi selama 8 tahun.
"Saudara dimasukkan ke sel berapa lama?" tanya hakim di ruang utama Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (29/11/2022).
"Saya di-penetapan khusus 30 hari yang mulia," kata Ridwan menjawab.
"Kemudian saudara disidang kode etik?" kata hakim bertanya lagi.
Berita Terkait
-
Punya Pemilih Loyalis, Teddy Gusnaidi Wajarkan Jokowi Endorse Capres Melulu
-
Petugas PLN Ini Tetap Layani Masyarakat Meski Rumahnya pun Hancur Akibat Gempa Cianjur
-
Kominfo Buka Suara soal STB Meledak Viral di Media Sosial
-
Manchester United Puji Bruno Fernandes, Tak Akui Gol Ronaldo: 2 Gol itu Milik Fernandes
-
5 Fakta Jelang Pernikahan Kaesang Pangarep - Erina Gudono, Ketua Panitianya Menteri?
Terpopuler
- Janji Ringankan Kasus, Oknum Jaksa di Banten Ancam Korban Bayar Rp2 Miliar atau Dihukum Berat
- 5 HP Murah Terbaru Lolos Sertifikasi di Indonesia, Usung Baterai Jumbo hingga 7.800 mAh
- 6 Bedak Tabur Tahan Air, Makeup Tetap Mulus Meski Keringatan Seharian
- 69 Kode Redeem FF Max Terbaru 14 April 2026: Ada Skin Chromasonic dan Paket Bawah Laut
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
Pilihan
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
-
Beban Ganda Wanita Saat WFH: Terjebak Laptop dan Pekerjaan Rumah Tangga
-
Hore! Jogja Berlakukan Perpanjangan STNK Tanpa KTP Asli, Calo PajakMakin Terhimpit
-
Daftar Starting XI Timnas Indonesia U-17 vs Malaysia: Dava Yunna Masih Jadi Tumpuan!
-
Jateng Belum Ikut-ikut Kebijakan KDM, Bayar Pajak Kendaraan Masih Pakai KTP Pemilik Lama
Terkini
-
Inflasi Medis RI Tembus 17,8 Persen
-
Rival Utama Team Z, Film Live Action Blue Lock Ungkap Para Pemeran Team V
-
Satu Keluarga Tewas dalam Kebakaran, Polisi Selidiki Dugaan Sepeda Listrik yang Sedang Isi Daya
-
Mobil Travel Masuk Jurang di Lembah Anai, Bagaimana Kondisi 7 Penumpang?
-
Kasta Oren hingga Bangsa Mujaer: Rahasia Kucing Bisa Jadi Penawar Penat Kantor
-
Ikan Sapu-Sapu Jakarta Bisa Pupuk Organik, KKP Ingatkan Bahaya Jika Dikonsumsi
-
3 Sepatu Lari Ringan dan Empuk, Rahasia Pelari Menjaga Kecepatan Tanpa Menguras Energi
-
Tren Lari Meningkat, Waspadai Risiko Cedera Otot dan Memar Ikut Mengintai
-
Dari Rumah Hingga ke Sekolah, Bagaimana Strategi River Ranger Jakarta Bangun Gerakan Minim Sampah
-
Wamenkomdigi: Generative AI Bikin Lansia Bingung, Konten Rekayasa Wajib Watermark