/
Sabtu, 03 September 2022 | 09:13 WIB
Sosok Putri Istri mantan Kadiv Propam Irjen Ferdy Sambo. Merasa tertekan efek kasus pembunuhan terhadap Brigadir J. Putri Candrawathi lebih memilih mati. ((Suara.com))

SuaraBandungBarat.id - Sebegitu dasyatnya skenario yang dimainkan, sehingga rencana kasus pembunuhan yang dilakukan Ferdy Sambo semakin rumit dan sulit untuk diungkap secara nalar oleh sejumlah pengamat.

Beragam komentar, bullian dan cacian,  seolah tidak ada ada hentinya disemua media sosial. 

Bahkan, disetiap perkembangan kabar tentang Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi hujatan yang terlontar hampir semua nitizen mendoakan yang tidak baik.

Kasus pembunuhan ini layaknya sudah seperti sinetron dimana Ferdy Sambo berperan sebagai Sutradara sekaligus pemeran utama yang menjadi otak pembunuhan terhadap ajudannya Brigadir J.

Dalam rangkaian skenario pun tidak tanggung-tanggung,  Ferdy Sambo
menyeret sejumlah Perwira Tinggi (PATI) dan Perwira Menengah (PERMEN) di Institusi Kepolisian.

Perlu diakui bahwa ada sebuah kekuatan yang dasyat dalam jaringan Ferdy Sambo, mulai dari  kasus pembunuhan berencana  sampai dengan adanya perjudian konsorsium 303, perdangan narkoba dan perselingkuhan.

Skenario yang sangat luar biasa dan menjadi sejarah kelam di tubuh Polri hingga keterlibatan para Anggota nya  semakin bertambah.

Seperti yang kita saksikan kini kasus  pembunuhan Brigadir J memasuki babak baru.

Pada proses rekonstruksi kali ini dihadiri oleh seluruh tersangka kasus pembunuhan brigadir J.

Baca Juga: Hits Lifestyle: Restoran Chinese Food Otentik di Gedung Apple, Kebiasaan Unik Raisa Bawa Bantal

Di sisi dalam kasus ini terdapat dugaan kuat adanya kekerasan seksual yang dilakukan oleh Brigadir J di Magelang, Jawa Tengah pada 7 Juli 2022.

Hal tersebut juga diyakini oleh Ketua Komnas Anti Kekerasan terhadap Perempuan Andy Yentriyani.

"Kami menemukan bahwa ada petunjuk-petunjuk awal yang perlu ditindaklanjuti oleh pihak penyidik baik dan keterangan PC dan FS mengenai peristiwa ini," kata Andy di Kantor Komnas HAM Jakarta pada Kamis, 1 September 2022.

Berdasarkan temuan timnya terdapat ketidak siapan dari yang bersangkutan untuk melaporkan kasusnya sedari awal. ucap Andy

Namun, dalam hal tersebut Andy menjelaskan terdapat beberapa faktor yang mendukung hal tersebut seperti halnya rasa malu, menyalahkan diri sendiri, dan takut pada ancaman pelaku, serta dampak yang mungkin mempengaruhi seluruh kehidupannya dalam kasus ini.

Bahkan Andy juga turut menyampaikan apa yang diucap oleh Putri Candrawathi ditengah memanasnya kasus Brigadir J.

"Posisi sebagai istri dari seorang petinggi kepolisian pada usia yang jelang 50 tahun, memiliki anak perempuan maupun laki-laki pada ancaman dan menyalahkan diri sendiri, sehingga merasa lebih baik mati. Ini disampaikan (Putri) berkali-kali," ucap Andy.

Tak hanya itu, Andy juga menegaskan bahwa Komnas Perempuan harus berpikir ulang bahwa relasi kuasa antara atasan dan bawahan saja tidak cukup untuk serta-merta menghilangkan kemungkinan terjadinya kekuasaan.

"Hal itu sangat kompleks dan dapat dipengaruhi oleh konstruksi gender, usia, juga kekuasaan lainnya," tandasnya.

Sumber : suara.com

Load More