/
Jum'at, 23 September 2022 | 17:21 WIB
Nurnaningsih (Wikipedia)

SuaraBandungBarat.Id - Tercatat, pasangan bangsawan Raden Kadjat Kartodarmdjo dan istri, Sukini Martindjung mendapat anak ketiga. Si anak ketiga ini lahir di Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur, pada 5 Desember 1928.

Uniknya, sebagai anak keturunan bangsawan, putri ketiga pasangan ini memiliki garis nasib sendiri. 

Pada usia ke-25, anak ketiga dari Raden Kadjat dan Sukini ini mencoba peruntungan dengan merantau ke Jakarta. 

Menjalani hidup di kota besar seperti Jakarta tak lantas membuat perempuan ini bisa hidup mewah. 

Perempuan yang diberi nama Nurnaningsih atau Nurna ini hidup di sebuah gubuk di bantaran Kali Ciliwung. 

Kala itu banyak orang yang menganggap usia Nurna sudah terlalu tua untuk merantau di kota orang. 

Bukan tanpa alasan bagi Nurna untuk merantau ke Jakarta. Cita-citanya ingin menjadi bintang film.

Demi bisa menjadi bintang film, Nurna merangkak perlahan-lahan dari nol. 

Ia berlatih terlebih dahulu sebagai pemain teater. Selain itu, Nurna ikut les tarik suara. 

Baca Juga: Resmi, Ferdy Sambo telah Terima Berkas Pemecatannya dari Polri

Berjuang di kota besar sendirian, Nurna akhirnya bisa menggapai cita-citanya pada 1953. 

Sutradara terkenal Usmar Ismail mem-plot Nurna sebagai Ros di film berjudul Krisis. 

Hebatnya lagi dalam debut film pertamanya itu, Nurna mendapat peran utama. 

Namun, Nurna sempat telan pil pahit, hal ini lantaran ternyata jadi bintang film pada era itu tak mendapat bayaran besar. 

Konon, Nurna hanya mendapat bayaran Rp 180 perak untuk perannya sebagai Ros di film Krisis. 

Dari Krisis ke Harimau Tjampa

Satu tahun setelah debut pertamnya sebagai Ros di film Krisis, karier Nurna di perfilman Indonesia makin bersinar. 

Ia mendapat tawaran dari sutradara D. Djajakusuma untuk bermain di film Harimau Tjampa. 

Film ini yang akhirnya membawa Nurna, si anak bangsawan menjadi pusat perhatian masyarakat Indonesia. 

Bagaimana tidak, pada film Harimau Tjampa yang rilis 1954, Nurna menjadi aktris perempuan Indonesia pertama yang berani tampil di depan kamera dengan kondisi setengah telanjang

Publik dibuat geger dengan aksi Nurna pada film itu. Pada adegan film Harimau Tjampa, Nurna sebenarnya hanya beberapa detik terekam kamera tampil setengah telanjang. 

Entah bagaimana ia kemudian ditasbihkan sebagai bom seks pertama perfilman Indonesia. Hujatan pun dialamatkan kepada Nurna. 

Mendapat cercaan dari publik, Nurna punya argumen soal adegan setengah telanjangnya itu. 

"Saya tidak akan memerosotkan kesenian, melainkan hendak melenyapkan pandangan-pandangan kolot yang masih terdapat dalam kesenian Indonesia,” ucap Nurna pada 1954.

Meski mendapat pro kontra di aksinya itu, film itu pada akhirnya menyabet dua penghargaan bergengsi. Pertama skenario terbaik di ajang Festival Film Indonesia. Kedua lebih fantastis yakni di ajang Asian Film Festival pada 1955 untuk musik terbaik. 

Dari film ke foto majalah

Setelah film Harimau Tjampa, imej publik kepada Nurna berubah drastis. Ia pun sempat dijuluki sebagai Marilyn Monroe Indonesia. 

Nurna sendiri tak berhenti mengeksplorasi tubuhnya. Setelah dari film, Nurna kerap tampil di foto majalah. Hebatnya, foto-foto Nurna dengan pose-pose menantang tak hanya tersebar di Jakarta tapi sampai ke luar negeri. 

Pertengahan 1954, foto telanjang Nur beredar. Dibuat fotografer tak dikenal. Foto tubuh Nurna pun viral.

Konon katanya foto-foto itu dijual Rp 200 perak per lembar. Kemudian harganya melonjak drastis sampai ke Rp 300 perak per lembar. 

Viralnya foto Nurna pun membuat polisi saat itu terpaksa turun tangan untuk menghentikan peredar foto tersebut. 

Kabarnya ada 9 foto asli Nurna menantang yang tersebar ke pasaran. Namun hanya ada 7 foto yang berhasil disita polisi. 

Dari 9 foto asli itu kemudian terus dicetak dan akhirnya tersebar luas di pasar gelap. Pada bagian perjalanan hidupnya ini, Nurna sempat berkata lirih. 

"Tapi, saya, selain tidak dapat apa-apa juga dapat susah karena harus bolak-balik menghadap kantor polisi bagian kesusilaan," ucapnya kepada majalah Djambak. 

Yang tak kalah menarik, Nurna sempat mengaku bahwa dalam sesi pemotretan itu, ada tujuh oknum tentara yang berani membayar besar demi bisa memotret tubuh Nurna tanpa sehelai benang pun. 

Karier Nurna pada era 80-an mulai meredup. Ia mulai hilang dari sorotan media. Meski sebenarnya ia masih aktif di dunia teater. 

Perempuan asal Surabaya yang putus sekolah sejak kelas satu SMA itu mengembuskan napas terakhir pada 21 Maret 2004, pada usia 78 tahun.

Deretan film Nurnaningsih: 

Krisis (1953)
Harimau Tjampa (1954)
Klenting Kuning (1954)
Kebun Binatang (1955)
Djakarta, Hongkong, Macao (1968)
Orang Orang Liar (1969)
Bernafas Dalam Lumpur (1970)
Derita Tiada Achir (1971)
Samtidar (1972)
Nafsu Gila (1973)
Seribu Janji Kumenanti (1972)
Kembang-Kembang Plastik (1977)
Donat Pahlawan Pandir (1978)
Bayang-Bayang Kelabu (1979)
Remang-Remang Jakarta (1981)
Pertunangan (1985)
Malam Satu Suro (1988)

Sumber: suara.com

Load More