/
Sabtu, 01 Oktober 2022 | 13:32 WIB
Soeharto tahun 1966 pasca peristiwa G30S PKI (Instagram)

SuaraBandungBarat.Id - Peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S) hingga kini masih menjadi misteri terbesar bagi bangsa Indonesia. 

Dalam peristiwa mengenaskan itu, terdapat 6 jenderal dan satu perwira militer yang gugur.

Hingga kini belum diketahui pasti siapa dalang di balik peristiwa G30S tersebut. 

Narasi yang berkembang pada era Orde Baru, bahwa Partai Komunis Indonesia (PKI) yang ada di balik peristiwa itu.

Namun ada juga yang meyakini jika Presiden Ke-2 Republik Indonesia Soeharto juga memiliki andil dalam peristiwa 57 tahun lalu itu.

Sosok Soeharto juga diyakini menjadi orang dibalik pembantaian jutaan orang yang dituduh sebagai bagian dari Partai Komunis Indonesia.

Dugaan Soeharto ada di balik peristiwa G30S muncul karena ia luput dari target penculikan para jenderal TNI. 

Padahal saat itu Soeharto juga berpangkat jenderal, tepatnya Mayor Jenderal.

Lalu mengapa Soeharto tak masuk dalam daftar jenderal yang harus diculik?

Baca Juga: Ramalan Shio Sabtu 1 Oktober 2022: Monyet Saatnya Bersiap untuk Masa Depan, Ayam Salurkan Energi untuk Hal yang Anda Cintai

Penyebab mengapa Soeharto tak ikut diculik

"...karena kami anggap Jenderal Soeharto loyalis Bung Karno, maka tidak kami jadikan sasaran," kata Latief dalam buku tersebut.

Sementara itu menurut penulis buku Gestapu 65: PKI, Aidit, Soekarno dan Soeharto, yakni Professor Salim Said, Soeharto luput dari penculikan malam itu karena dianggap bukan bagian dari jenderal TNI faksi Ahmad Yani.

Pernyataan Salim Said itu termuat dalam sebuah video yang dunggah oleh akun TikTok @tentang_dunia07 beberapa waktu lalu.

Menurut Salim Said, hal itu disebab renggangnya hubungan antara Soeharto dan Ahmad Yani.

Karena Soeharto merasa tidak senang ketika Presiden Sukarno lebih memilih Ahmad Yani sebagai Kasad dan Menteri Panglima Angkatan Darat Kasad.

Load More