Hasil survei dari Saiful Munjani Research and Consulting (SMRC) baru-baru ini menyebut bahwa tiga tokoh politik yang digadang-gadang bakal maju sebagai bakal calon presiden (Bacapres) di Pemilu 2024 adalah sosok yang tangguh terhadap polarisasi di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang moderat.
“Siapa pun yang maju di antara tiga nama yang paling kompetitif sekarang (Ganjar, Prabowo, atau Anies), tidak punya masalah dengan polarisasi,” tegasnya, disadur dari Presisi.co--Jaringan Suara.com, Jumat (24/03/2023).
Dalam program ‘Bedah Politik bersama Saiful Mujani’ episode “Polarisasi di Pilpres 2024? (bagian 2)” yang disiarkan melalui kanal Youtube SMRC TV, dijelaskan Saiful jika isu mengenai polarisasi adalah perdebatan lama yang pada mulanya lebih banyak mengenai persoalan ekonomi: kiri atau kanan.
"Di Eropa, kiri artinya lebih pro-negara atau sosialis, kanan lebih liberal atau lebih percaya pada individu atau masyarakat yang bisa mengatasi persoalan ekonomi sendiri," sebutnya.
Dari sederet studi yang ia jelaskan, Saiful bilang poisis pemilih dalam persaingan politik terhadap ketiga tokoh politik tersebut berada di tengah. Hal tersebut berlaku di antara persaingan antara Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo termasuk jika Anies berhadapan dengan Prabowo.
"Kecenderungan pemilih keduanya pro-negara," tegas dia.
Ia mengatakan, jika persaingan politik antara Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo, umumnya pemilih keduanya berada di tengah. Baik pendukung Anies maupun pendukung Ganjar, sama-sama memiliki kecenderungan ideologi kiri.
Alias, menginginkan intervensi negara dalam ekonomi. Pada posisi kanan, pro-peran individu, kedua tokoh ini memiliki pendukung yang lemah.
Kondisi ini, menurut Saiful, tidak menunjukkan bahwa masyarakat terpolarisasi. Kalau terjadi polarisasi, mestinya pendukung Anies tinggi di sebelah kanan pendukung Ganjar tinggi di sebelah kiri, dan di tengah kosong atau rendah.
Baca Juga: Catat, Inilah 5 Hal Baik yang Terjadi pada Organ Tubuh ketika Berpuasa
“Persaingan Anies dan Ganjar tidak membuat masyarakat terpolarisasi dari spektrum ideologi ekonomi kiri dan kanan atau pro-negara dan pasar,” simpulnya.
Sementara, pola yang sama juga berlaku bagi pemilih Ganjar dan Prabowo.
"Kekhawatiran tentang adanya ancaman polarisasi tidak memiliki dasar empiris. Masih ada kurang lebih satu tahun sebelum Pemilu," ungkapnya.
Saiful meyakini masyarakat tidak bisa berubah secara drastis dalam waktu yang singkat, misalnya dari yang moderat menjadi terpolarisasi.
Kampanye, menurut dia, tidak bisa mengubah sikap masyarakat dari yang moderat menjadi terpolarisasi secara ekonomi dalam waktu yang singkat.
Adanya isu atau kekhawatiran tentang polarisasi, lanjutnya, lebih banyak dibesar-besarkan oleh sekelompok orang tertentu.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- Berapa Harga Sepatu Lari Ortuseight Ori? Ini 5 Pilihan Bagus untuk Daily Run
Pilihan
Terkini
-
Berada di Polda Sumsel, Bupati Edison Dijadwalkan Dibawa ke Jakarta Besok Pagi usai OTT KPK
-
BRI Salurkan Rp9,21 Triliun Kredit Perumahan, Tertinggi Secara Nasional
-
Dukung Program Perumahan Nasional, Penyaluran KPP BRI Tembus Rp9,21 Triliun
-
BRI Jadi Penyalur Terbesar Kredit Program Perumahan Nasional, Realisasi Rp9,21 Triliun
-
BRI Perkuat Akses Keuangan di 5 Pulau Halmahera Selatan Lewat Teras Kapal
-
BRI Salurkan KUR Rp2,5 Miliar untuk Masyarakat Pesisir Halmahera Selatan Lewat Teras Kapal
-
BRI Didukung 705 Agen BRILink untuk Perluas Layanan di Halmahera Selatan
-
BRI Melayarkan Bank ke Laut, Teras Kapal Jangkau 27 Pulau di Indonesia
-
BRI Layani 216 Warga Suku Bajo dan Dorong Ekonomi Pesisir di Maluku Utara
-
Geger Video Pesta LGBT di Karawang: Ini 6 Fakta dan Desakan MUI Terkait THM Tak Berizin