Bisnis / Keuangan
Senin, 03 Maret 2014 | 10:56 WIB
Ilustrasi: (sxc.hu)

Suara.com - Krisis politik yang masih terjadi di Ukraina memberikan imbas negatif kepada bursa saham di kawasan Asia. Investor khawatir krisis politik di negara pecahan Uni Soviet itu akan berlanjut menjadi peperangan.

Indeks MSCI Asia Pacific anjlok 1,2 persen menjadi 136,17 dan indeks Standard’s & Poor 500 di Hongkong juga turun 1,1 persen. Penurunan 1,1 persen merupakan yang terbesar di indeks S&P 500 di Hongkong dalam satu bulan terakhir.

“Pasar khawatir eskalasi di Ukraina akan semakin memanas. Negara Barat kemungkinan tidak akan berdiam diri sehingga meningkatkan risiko sejumlah portofolio,” kata Ric Spooner, analis dari CMC Market di Australia.

Di Jepang, indeks Topix juga anjlok 2,2 persen dan nilai tukar yen juga melemah 101,33 per dolar Amerika. Di Korea Selatan, indeks Kospi juga turun 1,1 persen, indeks Hang Seng melemah 0,9 persen dan indeks Shanghai Composite turun tipis 0,1 persen.

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan juga turun 39 poin (0,8 persen) ke level 4.581. Akhir pekan lalu, IHSG berhasil menembus level 4.600 dan kembali melemah sebagai dampak dari konflik di Ukraina. Hanya 67 saham naik, 167 saham turun dan 55 saham stagnan.

Volume perdagangan 1,5 miliar lot dengan nilai transaksi Rp4,1 triliun. Saham yang positif antara lain Vale Indonesia, BISI Internasional dan Express Transindo Utama. Sedangkan saham yang turun antara lain Bank Rakyat Indonesia, Waskita Karya dan Telekomunikasi Indonesia. (Bloomberg/RTI)

Load More