Suara.com - Indonesia Property Watch menemukan kejanggalan rencana akuisisi atau pengalihan saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) oleh pemerintah kepada PT Bank Mandiri TBK.
"Banyak kejanggalan, pertama, sebelum ada rencana akuisisi ini, 'fit and proper test' (uji kelayakan dan kepatutan) ini masih belum matang, tiba-tiba penggantinya ada dan ada surat dari Kementerian BUMN," kata Direktur Eksekutif IPW Ali Tranghanda di Jakarta, Senin (21/4/2014).
Menurut Ali keputusan itu terlalu cepat dalam rentang hanya dua bulan dan pengganti direksi BTN yang sebanyak dua orang itu berasal dari Bank Mandiri.
"Surat ini dipertanyakan, tidak mungkin sebulan ada surat dari BUMN," katanya.
Dia menduga adanya konspirasi di balik akuisisi itu, pasalnya saham BTN sudah naik beberapa persen sebelum surat itu keluar dari BUMN .
"Sudah keliatan ini ada 'trading', pasti ada buat modal. Coba pikir mandiri ambil BTN dari mana? Bisa jadi dari rekap bon dari APBN, ini kan belum jelas," katanya.
Ketiga, lanjut dia, akuisisi BTN oleh Mandiri terkesan tegesa-gesa menjelang pemilihan umum presiden (Pilpres) Juli mendatang.
"Ada apa ini, apakah buat modal kampanye atau apa," ujarnya.
Ketergesa-gesaan rencana akuisisi tersebut, menurut dia, tidak ada kaitannya dengan urgensi kepentingan untuk masyarakat secara luas.
"BTN ini kan relatif sehat, enggak ada urgensinya, memang ada penjelasan 'pasar menyambut baik', ya kalau pasar kapitalis. Petanya seperti itu, ketika mengeluarkan surat sebetulnya sudah ada yang beli," katanya.
Keempat, Ali menambahkan, kejanggalan itu juga terlihat dari menghilangnya direksi BTN dalam menghadapi gejolak akuisisi yang bahkan sudah dilakukan demonstrasi oleh 1.000 karyawan BTN menolak akuisisi ini.
"Mengapa direksi BTN tidak 'pasang badan', apakah dia ditekan?," katanya.
Sebelumnya, pemerintah berencana melepas kepemilikan 60,14 persen saham di BTN ke Bank Mandiri dan Kementerian BUMN telah menyetujui hal itu.
Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan menjelaskan BTN akan menjadi anak usaha Bank Mandiri dan keduanya akan tetap menjadi entitas perusahaan yang berbeda.
Menurut dia Bank Mandiri bisa menggenjot kinerja penyaluran kredit perumahan karena BTN dinilai akan memiliki kemampuan lebih besar untuk memenuhi kekurangan perumahan yang mencapai 1,5 juta unit per tahun. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Harga Pangan Hari Ini: Cabai dan Daging Sapi Kompak Merangkak Naik, Beras hingga Telur Justru Turun
-
Pemangkasan Komisi Ojol Jadi 8% Bisa Ubah Arah Bisnis Aplikator
-
IHSG Rontok 8 Hari Beruntun, BI Rate Naik Jadi 5,25 Persen Gagal Selamatkan Rupiah
-
Surat Kadin China ke Prabowo Jadi Alarm Keras, DPR Bongkar Banyaknya Biaya Siluman Investasi RI
-
Cara Memilih SBN untuk Pemula, Investasi Aman dan Cuan Mulai 1 Juta Rupiah
-
Apa Itu Fenomena Slot Jackpot? Kian Menggila Saat Ekonomi Melemah
-
Market Cap IHSG Terpangkas Rp1.000 Triliun, Rupiah Anjlok: S&P Beri Sinyal Bahaya
-
Rupiah Masuk Zona Merah, Pagi Ini Melemah ke Rp17.683 per Dolar AS
-
Harga Emas Antam Berbalik Anjlok, Kembali Dipatok Rp 2,78 Juta/gram
-
IHSG Masih Jatuh ke Jurang di Jumat Pagi, Bertahan di Level 6.000