Suara.com - PT Pertamina (Persero) segera meluncurkan Sistem Monitoring Elpiji Tiga Kilogram (Simolek) yang menggunakan teknologi "Global Positioning System" (GPS) untuk mengawasi penyaluran tabung gas bersubsidi hingga tingkat agen.
"Akan diluncurkan bulan ini (Mei). Jadi jika ada informasi kekurangan pasokan gas, kami dapat langsung melihat di mana kesalahan di peredarannya," kata Manajer Media PT Pertamina Adiatma Sardjito di Depo Plumpang Pertamina, Jakarta, Jumat (2/5/2014).
Peluncuran program berteknologi GPS ini sebagai upaya untuk menindak-lanjuti konsumsi gas yang tidak tepat sasaran, yakni penggunaan gas bersubsidi oleh kalangan masyarakat yang dikategorikan mampu.
Gas bersubsidi dalam kemasan tabung elpiji tiga kilogram ini merupakan elpiji yang disubsidi pemerintah dan ditujukan masyarakat tidak mampu atau usaha kecil menegah.
"Harus disuarakan juga elpiji tiga kilogram ini untuk masyarakat tidak mampu dan disubsidi pemerintah. Untuk umum adalah 12 kilogram." sebutnya.
Untuk menyempurnakan sistem pengawasan ini, Adiatma mengatakan, konsumen nantinya akan dibekali kartu khusus yang digunakan untuk membeli tabung gas.
"Namun kartu itu domainnya pemerintah (Kementerian ESDM). Kita hanya membantu saja melalui sistem ini. Nanti dapat diketahui melalui kartu itu, konsumen dapat tidak membeli gas bersusidi," ujar Adiatma.
Pada 2014 ini, sesuai RKAP Pertamina, konsumsi gas bersubsidi mencapai 4,8 juta metrik ton, atau naik dari realisasi pada 2013 di 4,4 juta metrik ton.
Sedangkan konsumsi pada kuartal I (Januari-Maret) 2014 telah menyerap 1,2 juta metrik ton atau 25 persen dari konsumsi tahun ini. Untuk gas non subsidi, konsumsi pada 2014, berdasarkan RKAP Pertamina, mencapai 1,3 juta metrik ton, atau naik dibanding realisasi pada 2013 sebesar 1,2 juta metrik ton. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
METI: Energi Hijau Bukan Sekadar Kurangi Emisi, Tapi Buka Peluang Ekonomi Baru
-
Jika Impor Baja China Dibiarkan, Penutupan PT Krakatau Osaka Steel Akan Disusul Perusahaan Lain
-
Bos BI Jamin Cadangan Devisa Tak Akan Goyah untuk Intervensi Rupiah
-
Pertamina dan Apache Bahas Peluang Kolaborasi Global Pengembangan Reservoir Kompleks
-
IHSG Terbang Tinggi 1,15% Hari Ini, 370 Saham Menghijau
-
Wanti-wanti LPG Mau Digantikan CNG: Bahaya, Tekanannya 25 Kali Lipat!
-
Alasan Perang Iran Bikin Harga BBM Tetap Mahal Meski Pasokan Minyak Dunia Melimpah
-
RUPST Bank Jago: Laba Tumbuh 115 Persen, Tetapkan Direksi Baru
-
BRI Life Catat Penurunan Klaim Rp1,17 Triliun di Kuartal I-2026
-
Profil Blueray Cargo: Perusahaan Spesialis Impor yang Seret Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama