Suara.com - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis dibuka naik 3,89 poin atau 0,08 persen menjadi 4.936,45 , sedangkan indeks 45 saham unggulan (LQ45) menguat 0,39 poin (0,05 persen) ke level 832,49, pada sesi pembukaan hari ini, Kamis (5/6/2014).
Sementara nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi bergerak melemah sebesar empat poin menjadi Rp11.864 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp11.860 per dolar AS.
"Sentimen positif dari pernyataan Menteri Keuangan dimana ekspektasi peningkatan kredit konsumsi perbankan memberikan sentimen yang cukup baik bagi pasar. Namun, bursa Asia yang bergerak mendatar cenderung menahan penguatan lebih lanjut," kata Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada di Jakarta.
Dia menambahkan bahwa masih adanya daya beli pada saham-saham manufaktur, perdagangan, dan beberapa properti setidaknya dapat mengurangi sentimen negatif dari eksternal.
"Namun, fluktuasinya sentimen yang beredar baik dari dalam negeri maupun eksternal akan membuat pergerakan indeks BEI bervariasi," katanya.
Berbeda dengan pasar saham, nilai mata uang dolar jutru menguat dari rupiah yang didorong data ekonomi Amerika terakhir.
"Penguatan dolar AS menyusul beberapa data ekonomi Amerika Serikat yang cenderung positif, membuat nilai tukar rupiah sulit untuk terapresiasi," terang Reza.
Apalagi, lanjut dia, data-data AS lainnya yang akan dirilis berhubungan dengan ketenagakerjaan dan diekspektasikan bertumbuh sehingga menambah sentimen positif bagi mata uang dolar AS.
Dia menambahkan bahwa pergerakan mata uang euro dan yen Jepang yang juga masih cenderung tertekan terhadap dolar AS kembali dimanfaatkan pelaku pasar untuk melanjutkan memburu dolar AS untuk menjaga aset.
Sementara itu, Tim Analis Mandiri Sekuritas dalam kajiannya mengemukakan bahwa dari dalam negeri, investor sedang menantikan kebijakan suku bunga acuan (BI Rate) yang sedianya akan diputuskan oleh Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada pekan depan.
Selain itu, lanjut dia, pelaku pasar juga sedang menanti kebijakan Bank Indonesia dalam melakukan intervensi terhadap pergerakan nilai tukar rupiah yang saat ini cenderung melemah ini. (Antara)
Berita Terkait
Terpopuler
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
- 6 Smartwatch di Bawah Rp1 Juta, Fitur Premium untuk Aktivitas Sehari-hari
- Kata Anak Pinkan Mambo Usai Tahu Sang Ibu Ngamen di Jalan: Downgrade Semenjak Nikah Sama Suaminya
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
Pilihan
-
Brady Ebert Bekas Gitaris Turnstile Ditangkap Terkait Kasus Percobaan Pembunuhan
-
Tak Ganggu Umat Muslim, Pihak Yayasan Pastikan Rumah Doa Jemaat POUK Tesalonika Jauh dari Masjid
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
Terkini
-
Dua Pekan Lagi OJK Mau Geruduk Kantor MSCI, Apa yang Dibahas?
-
Airlangga: Prabowo Mau Kirim Tim ke Korea Selesaikan Proyek Jet Tempur KF-21
-
Anggota DPR Ingin Adanya Perubahan Polam Konsumsi Energi dari BBM ke EV
-
Emiten MPMX Cetak Laba Bersih Rp 462 M Sepanjang 2025
-
BPS Ungkap Penginapan Hotel Lesu di Februari 2026, Ini Penyebabnya
-
DJP Tebar Insentif, Denda Telat Lapor SPT Tahunan 2025 Dihapuskan Hingga 30 April
-
Perkuat Produksi Jagung Nasional, BULOG Dorong Panen dan Tanam Serentak di Blora
-
Pariwisata RI Kembali Bergairah Awal 2026, Didominasi Turis China
-
Laris Manis! KAI Angkut 5 Juta Penumpang Selama Mudik Lebaran 2026
-
Target IPO 2026 Tak Berubah Meski Awal Tahun Sepi di Pasar Modal